IMG-20240616-WA0023
IMG-20240616-WA0022
IMG-20240616-WA0001

Konsumerisme; antara Bahagia dan Petaka

Media Jatim

Oleh: Musannan Abdul Hadi

IMG-20240615-WA0011
IMG-20240616-WA0002
IMG-20240615-WA0010
IMG-20240616-WA0003
IMG-20240616-WA0005

Sekilas mengamati beberapa fenomena sosial yang terjadi saat ini sangat menarik untuk diperbincangkan. Tentang Pamekasan yang dinobatkan sebagai kota batik, dan kecaman yang dilayangkan oleh salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pamekasan.

IMG-20240616-WA0004
IMG-20240616-WA0007
IMG-20240616-WA0008
IMG-20240616-WA0006
IMG-20240616-WA0009

Dinobatkannya sebagai kota batik sepertinya menjadi beban tersendiri bagi pemerintah Pamekasan. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan digelarnya kirab batik yang melibatkan siswa SMP dan SMA hingga menghabiskan puluhan juta yang dibebankan kepada wali siswa (Kompas: 3 November 2014).

Konsumerisme tersebut nampaknya tidak selalu mendapatkan penilaian positif, akan tetapi menjadi petaka di sisi lain. Adanya keluhan masyarakat terhadap kegiatan tersebut menjadi indikator bahwa apakah kegiatan tersebut bermanfaat atau tidak, reaksi tersebut hampir dirasakan oleh peserta kirab yang melibatkan tata rias dan penyewaan busana.

Di pihak lain ada sebagian anggota DPRD Pamekasan yang mengecam adanya kegiatan peringatan hari ulang tahun Jawa Timur tersebut yang ditengarai salah tempat, karena mengganggu segala bentuk peribadatan, disebabkan tempat tersebut berhadapan langsung dengan masjid agung Pamekasan (AntaraNews: 02 Nov 2014).

Tetapi memang aneh, untuk kedua kalinya barangkali saya sampaikan, kerapkali anggota DPRD kita itu terlambat mengantisipasi kegiatan yang dianggap berefek kurang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa maksimalitas pengawasan yang dilakukan sebagai sebuah bentuk amanah kurang begitu diperhatikan.

Bagi Pemerintah dan sebagian masyarakat Pamekasan, memeriahkan hal itu penting dilaksanakan sebagai upaya pemantapan Pamekasan sebagai kota batik yang sekaligus dijadikan sebagai momen untuk mempublikasikan kebudayaan daerah. Tetapi, hal-hal yang akan merugikan masyarakat sebaiknya harus dikaji secara mendetail.

Perebutan opini publik tidak hanya dengan konsumerisme, popularitas dapat dihasilkan dari kerja keras sebagai pemangku kebijakan. Berpikir kreatif, inovatif, dan mengedepankan nilai-nilai subtantif itu yang paling penting.

Musannan Abdul Hadi, Sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Pamekasan.

Foto: Istimewa