Konsumerisme; antara Bahagia dan Petaka

Oleh: Musannan Abdul Hadi

Sekilas mengamati beberapa fenomena sosial yang terjadi saat ini sangat menarik untuk diperbincangkan. Tentang Pamekasan yang dinobatkan sebagai kota batik, dan kecaman yang dilayangkan oleh salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pamekasan.

Dinobatkannya sebagai kota batik sepertinya menjadi beban tersendiri bagi pemerintah Pamekasan. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan digelarnya kirab batik yang melibatkan siswa SMP dan SMA hingga menghabiskan puluhan juta yang dibebankan kepada wali siswa (Kompas: 3 November 2014).

Konsumerisme tersebut nampaknya tidak selalu mendapatkan penilaian positif, akan tetapi menjadi petaka di sisi lain. Adanya keluhan masyarakat terhadap kegiatan tersebut menjadi indikator bahwa apakah kegiatan tersebut bermanfaat atau tidak, reaksi tersebut hampir dirasakan oleh peserta kirab yang melibatkan tata rias dan penyewaan busana.

Baca Juga:  Surat Terbuka Untuk Kamu Calon dan Penerima Bidikmisi

Di pihak lain ada sebagian anggota DPRD Pamekasan yang mengecam adanya kegiatan peringatan hari ulang tahun Jawa Timur tersebut yang ditengarai salah tempat, karena mengganggu segala bentuk peribadatan, disebabkan tempat tersebut berhadapan langsung dengan masjid agung Pamekasan (AntaraNews: 02 Nov 2014).

Tetapi memang aneh, untuk kedua kalinya barangkali saya sampaikan, kerapkali anggota DPRD kita itu terlambat mengantisipasi kegiatan yang dianggap berefek kurang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa maksimalitas pengawasan yang dilakukan sebagai sebuah bentuk amanah kurang begitu diperhatikan.

Bagi Pemerintah dan sebagian masyarakat Pamekasan, memeriahkan hal itu penting dilaksanakan sebagai upaya pemantapan Pamekasan sebagai kota batik yang sekaligus dijadikan sebagai momen untuk mempublikasikan kebudayaan daerah. Tetapi, hal-hal yang akan merugikan masyarakat sebaiknya harus dikaji secara mendetail.

Baca Juga:  Perilaku Media dan Tenaga Ahli Cabup-Cawabup Sumenep

Perebutan opini publik tidak hanya dengan konsumerisme, popularitas dapat dihasilkan dari kerja keras sebagai pemangku kebijakan. Berpikir kreatif, inovatif, dan mengedepankan nilai-nilai subtantif itu yang paling penting.

Musannan Abdul Hadi, Sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Pamekasan.

Foto: Istimewa

WhatsApp chat