Spirit Pemuda; Menjawab Ambigu Pilkada Pamekasan

  • Bagikan

Oleh: Moh Jufri Marzuki

Pemuda merupakan salah satu elemen vital yang memiliki peranan penting dalam mengawal dan melakukan sebuah perubahan. Dalam lintasan sejarah negara kita, keterlibatan pemuda saat era kebangkitan bangsa dari keterpurukan masa penjajahan sangatlah nyata. Berkat perjuangan para pemuda, Indonesia mampu menyatakan kemerdekaannya di hadapan dunia. Pemuda adalah spirit perubahan.

Sebagai bagian dari struktur sosial yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat, maka pemuda tidak boleh memposisikan diri di atas “menara gading” dan melihat realitas sosial-kebangsaan hari ini dari jauh dan menjaga jarak. Akan tetapi, pemuda harus “berbaur” dan menyatu dengan masyarakat dalam mentransformasikan ide, gagasan, bahkan kebijakan ketika duduk sebagai stake holder di sebuah jabatan pemerintahan.

Dalam Konteks Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Kabupaten Pamekasan, kehadiran Baddrut Tamam merupakan angin segar bagi kebangkitan Pamekasan menuju perubahan yang lebih progresif. Sosoknya mengingatkan kita kepada para pemuda pelopor bangkitnya pergerakan nasional dalam menyongsong kemerdekaan.

Di antara mereka, ada H. Samanhudi yang mendirikan SDI (Sarekat Dagang Islam) pada 16 Oktober 1905 pada usia 27 tahun. Ada pula Soetomo, mendirikan Budi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 pada usianya yang ke 27 tahun. Ki Hajar Dewantara, mendirikan Indisch Partij pada tahun 1912 juga di usia 20 tahun.

Begitu pula dengan Muhammad Hatta, ia memimpin Perhimpunan Indonesia ketika berusia 21 Tahun. Soekarno, tampil sebagai tokoh Pergerakan Nasional pada umur 22 tahun dan menjadi ketua PNI ketika usianya mencapai 26 tahun. Selain itu, ada M. Yamin yang merumuskan Sumpah Pemuda pada usia 28 tahun dan aktif dalam Jong Sumatranen ketika usianya baru menginjak 19 tahun.

Nama-nama pemuda di atas telah ditulis oleh sejarah dengan tinta emas. Bahwa kemerdekaan yang melahirkan negara berdaulat seperti saat ini adalah hasil peran aktif-partisipatif para pemuda. Bung Karno sangat mengapresiasi kedahsyatan semangat pemuda dengan kalimat sakti yang sangat inspiratif : “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”.

Hingga kini, kepemimpinan tokoh muda menjadi tren di setiap level. Sebut saja Abdullah Azwar Anas dan Emil Dardak, mereka berdua adalah kader bangsa yang dipandang mampu mendampingi dan melengkapi kekurangan kedua Calon Gubernur Jawa Timur: Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa.

Bahkan, KH. Kholilurrahman yang hingga kini menjadi rival terkuat Baddrut Tamam dan sudah mendapatkan surat rekomendsi dari DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PPP (Partai Persatuan Pembangunan) juga menggandeng kader muda PPP, Fathorrahman. Surat tersebut diterbitkan pada 28 November 2017, yang ditandatangani oleh Ketua Umum PPP, H. M. Romahurmuziy dan Sekjen PPP, H. Arsul Sani.

Baca Juga:  Idul Fitri; Antara Kemanusiaan dan Kesetaraan

Memang, Pengalaman memimpin Pamekasan telah dikantongi oleh KH. Kholilurrahman. Tapi, dalam hemat saya, kepemimpinannya belum mampu memberikan efek perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga ketika ingin mengulang kemenangannya kembali dalam kontestasi Pilkada yang kedua kalinya, masyarakat pemilih tidak lagi memberikan kepercayaan karena sudah terlanjur dikecewakan.

Tidak hanya karena skill kepemimpinannya yang rapuh, tapi juga integritas pribadi secara manusiawi yang belum mampu ia bendung harus mengorbankan nama baiknya sebagai bupati. Setidaknya, itulah salah satu alasan masyarakat Pamekasan ketika itu tidak memilihnya kembali.

Ibarat menu makanan di restoran, pengunjung pastinya akan memilih menu baru yang lebih fresh dengan tampilan yang memberikan keyakinan akan rasa yang sesuai selera dan bergizi tinggi, dari pada menu lama yang membosankan dengan tampilan yang sulit memberikan rasa percaya akan rasa yang sesuai selera dan memuaskan.

Jika pengalaman adalah guru yang terbaik, maka berhati-hatilah agar tidak mengalami suasana buruk serupa, seperti yang pernah kita alami. Sebaik-baik orang yang celaka, adalah mereka yang menyadari letak kesalahan yang membuatnya celaka, lalu tidak mengulanginya kembali. Seburuk-buruk orang yang celaka, adalah mereka yang mengerti letak kesalahannya, namun mengulanginya kembali sehingga terperosok dua kali pada lubang yang sama.

Lalu, masihkah kita akan mengulang nasib buruk yang pernah kita rasakan sebagai warga Pamekasan dengan menjatuhkan pilihan pada calon bupati yang pernah mengecewakan? Adalah hak para pembaca untuk memberikan jawaban.

Tentunya, tidak akan sampai di sini diskursus kita. Digandengnya Fathorrahman sebagai Bacabup oleh Khalilurrahman sedikit memberikan pembelaan. Resistensi masyarakat terhadap kepemimpinan KH. Khalilurrahman semacam mendapatkan netralisir dengan tampilnya sosok muda yang enerjik dan dinamis yang ada dalam diri calon wakilnya.

Namun tidak semudah itu. Usia muda Fathorrahman tidak akan banyak memberikan pengaruh signifikan bagi duet kepemimpinan – jika terpilih – Khalifah (KH. Khalilurrahman & Fathorrahman) karena posisinya hanya sebagai wakil yang ruang geraknya lebih dominan hanya sebagai bayang-bayang. Senioritas dan junioritas yang terlalu jauh terkadang menjadi sumbu perpecahan yang mengakibatkan roda kepemimpinan terkesan berjalan pincang.

Baca Juga:  Analisis Kritis Pembolehan Hukum Zina

Berbeda dengan Baddrut Tamam. Keterwakilannya di keanggotaan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Selama dua periode di tingkat Provinsi Jawa Timur semakin menegaskan kematangannya untuk mengabdikan skill kepemimpinan di tingkat kabupaten. Darah muda yang mengalir deras dalam dirinya simetris dengan capaian-capaian karier yang pernah ia lalui.

Pengalamannya menjadi ketua PKC. PMII Jawa Timur, Ketua Fraksi PKB di DPR Jawa Timur dan sederet pertasinya dalam organisasi dan kepemimpinan semakin menegaskan kematangan jiwa leadership dan managerial yang ia miliki untuk menakhkodai birokrasi di Pamekasan.

Posisinya sebagai cabup, memungkinkan ia lebih leluasa dalam mengejawantahkan ide dan gagasannya yang brilian dalam bentuk program dan kebijakan yang pro rakyat. Jika Cawabub yang mendampingi Baddrut Tamam juga dari kalangan muda, maka duet pemimpin baru sekaligus harapan baru tidak hanya akan menjadi selogan kampanye semata.

Banyak sekali kader-kader muda putra daerah yang siap mendampingi Badrut Tamam, terutama dari wilayah utara. Akhir-akhir ini yang santer dihembuskan oleh media dan dinilai layak oleh banyak pengamat politik adalah pasangan “Raja” (Ra Baddrut Tamam – Raja’i).

Latar belakang Raja’i sebagai kepala desa, menjadikan pasangan ini lebih mampu memahami kondisi faktual rakyat kecil di lapangan. Sehingga, andai terpilih maka akan dapat mengaktualisasikan program dan visi-misi pemerintahan dengan efektif, terukur dan terarah.

Dinamika politik saat ini menjadi semakin menarik itu jika “Raja” benar-benar dideklarasikan. Insting para pengamat mengatakan bahwa pasangan ini akan mendulang suara jauh lebih signifikan daripada “Baru” (Ra Baddrut Tamam – Heru Budi Praytno). Hal ini disebabkan karena Raja’i adalah representasi dari aspirasi masyarakat utara dan mewakili unsur pemuda kampus karena ia mantan Ketua Cabang HMI Pamekasan.

Hasil analisa politik para mengamat mengatakan bahwa Kontestasi akan berjalan hangat, ketat, kompetitif, karena persentase akan berimbang jika “Kholifah” versus “Raja” ditandingkan dengan raihan simpati berkisar 50 % : 50 %.

Kita tunggu saja babak selanjutnya. Karena politik memang _under predictable._ Pastinya akan banyak hentakan-hentakan sepak terjang politik yang akan semakin membuat pemilih cerdas. Pastinya, calon ideal akan semakin terbaca dengan jelas dan terang benderang. Wassalam..

*) Penulis adalah pecinta perubahan, putera Pamekasan.

  • Bagikan
WhatsApp chat