Hadrah Cilik, Cara Unik Warga Tapa’an Lestarikan Tradisi

MediaJatim.com, Sumenep – Warga Dusun Tapa’an, Bungin-Bungin, Sumenep, adakan pertemuan rutin (kompolan) pembacaan selawat berzanji yang melibatkan anak cilik, Senin (15/1) malam.

Pembacaan shalawat itu disenandungkan dan diiringi dengan musik hadrah tradisional yang ditabuh oleh sekitar 6 orang dewasa, sedangkan anak cilik yang berjumlah 10 orang itu menari sesuai dengan irama hadrah.

Terlihat anak-anak cilik tersebut berpakaian ala santri: sarungan, baju koko, dan peji.

Kompolan yang diikuti oleh warga satu dusun tersebut dilaksanakan seminggu sekali yang tempatnya bergilir sesuai dengan nomor undian yang keluar secara acak.

“Diadakan setiap malam Selasa, dan tempatnya bergilir, sekarang (15/01/2018) ini baru ketiga kalinya,” ungkap Sugiyono, salah satu anggota kompolan pada Senin (15/01) malam.

Baca Juga:  Fakta Valid Kisruh Bantuan Kandang Ayam

Anak-anak cilik yang menari di hadapan semua anggota tampak begitu senang dan riang, sambil sesekali saling senyum. Begitupun dengan para orang tua yang menonton tarian tersebut, kompolan ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat setempat, aparat desa pun sangat mendukung.

:Mereka menggemaskan dan lucu, karena yang ruddad (menari) masih anak-anak yang duduk di kelas 2 SD, masih muda-muda. Walaupun melibatkan anak cilik, kompolan ini mendapat dukungan dari Kepala Desa Bungin-Bungin, bahkan dia juga mau bergabung,” tutur warga Dusun Tapa’an tersebut.

Baca Juga:  Kampung Tangguh Lebih Efisien Dibandingkan dengan Posko Covid-19

Ketika ditanya mengapa melibatkan anak-anak cilik, dia menjawab, masyarakat Desa Bungin-Bungin, khususnya Dusun Tapa’an berupaya untuk mengenalkan warisan-warisan nenek moyang yang di era globalisasi ini sudah mulai tidak digandrungi lagi oleh sebagian pemuda.

“Kami berusaha untuk melestarikan warisan para sesepuh, yang saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh para pemuda,” jawabnya.

Dia menambahkan, pada zaman sekarang banyak anak-anak muda yang terjerumus dalam pergaulan-pergaulan bebas dan terjebak dalam klub-klub malam.

“Kami melatih mereka ruddad agar mereka terhindar dari dugem, biarlah mereka mabuk dengan bacaan selawat kepada nabi,” katanya penuh semangat.

Reporter: Saiful Fawait

Redaktur: Sule Sulaiman

WhatsApp chat