Opini  

Mempertemukan Dua Kenyataan Beda

Seorang teman bercerita ketika dia sedang mondok. Dia melihat putra Kiai yang melintas berkendara dengan kecepatan yang sangat tinggi di area masuk pondok pesantren.

Tiba-tiba santri yang kebetulan berada di sisi jalan langsung berdiri sebagai bentuk hormat pada sang Kiai. Bagi santri yang tidak berdiri, dianggap sebagai santri yang tidak beretika; dan jika hal itu sampai diketahui oleh pengurus, maka ia harus bersiap menghadapi kemarahan dari pengurus.

Sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok (marlboro) yang ada di depannya, ia melanjutkan cerita sembari memberi komentar. “Kalau seorang ulama itu adalah pewaris Nabi, maka sikap yang harus ditampilkan seorang ulama itu harus menyerupai perilaku Nabi, agar bisa menjadi contoh. Saya tidak habis pikir dengan perilaku yang demikian itu, apakah benar menurut Nabi,” Ia melanjutkan, “Jadi tidak jarang, kalau akhirnya santri itu menjadi seorang tokoh, ia akan juga akan bersikap demikian, seandainya Rosulullah SAW. masih hidup kita tinggal mencontoh perilaku beliau.”

Baca Juga:  Pemuda Desa Sebagai Leader of Change

Perbincangan pun menjadi ke mana-mana. Maklum, tidak ada tema khusus yang sengaja kami angkat. Kita hanya sekedar silaturrahim kerena lama tidak berjumpa. Akhirnya, perbincangan berlanjut sampai pada persoalan kecenderungan adanya sekat antara para Kiai dengan masyarakat. Bagaimana mencekamnya ketika masyarakat hendak silaturrahim kepada Kiai, yang seakan dibatasi oleh status sosial yang berbeda. Sehingga untuk berkeluh kesah sulit sekali untuk disampaikan karena sungkan. Karena memang seorang Kiai dicitrakan sebagai figur yang dimuliakan. Ini kemudian menjadi asumsi masyarakat awam–cerita ini tidak berlaku umum.

Berbeda dengan zaman wali songo yang justru terbalik. Para wali mencari masyarakat sampai ke akar rumput untuk memberi tauladan yang baik melalui sikap dan perilaku, sekaligus menyebarkan agama Islam. Tentu, zaman wali songo berbeda dengan sekarang. Dulu, memang tertuntut demikian karena Indonesia tempo dulu pemeluk Islam sangat terbatas. Tetapi tidak berarti yang sudah Islam dibiarkan dengan kedangkalan pemahaman tentang keislamannya, termasuk bagaimana budaya sebagai media Islamisasi Indonesia.

Baca Juga:  Ber-NKRI ala Jaman Now?

Hal yang berbeda pernah disampaikan oleh seorang teman yang kebetulan beliau adalah Ustadz. Pada suatu majlis, kajian kitab kuning Syarhul Hikam, yang dikarang oleh Imam Atha’illah as-Sakandari. Beliau menyampaikan begini, kalau kepada seorang guru, kita tidak boleh berburuk sangka, termasuk dalam kondisi bersalah sekalipun. Karena cara kita bertaubat dengan beliau sangat berbeda sekali. Beliau kalau sudah bertaubat sudah tidak ingat dengan masalah harta benda, sedangkan kita…

Artinya, bahwa mengayomi umat dengan tauladan yang baik itu penting. Kalaupun kita akhirnya dihadapkan dengan hal yang dalam perspektif kita kurang baik dari perilaku sebagian tokoh, jadikan itu sebagai cara melatih untuk tidak berprasangka tidak baik kepada orang lain.

Dan saya sebagai bagian dari perbincangan itu hanya bisa mengiakan dengan sedikit membumbui perbincangan.

Wallahu a’lam!

Sampang, 16 Januari 2017

Musannan Abdul Hady, Sekretaris Lesbumi PCNU Pamekasan.

WhatsApp chat