oleh

Kebijakan Lokal dan Akselerasi Pendidikan

Barangkali sudah familiar pada pendengaran kita, ketika berbicara tentang pentingnya pendidikan ada fakta sejarah yang secara tidak langsung kita ungkap sebagai pengantar awal, bagaimana ketika terjadi pengeboman di dua kota di Jepang yaitu Herosima dan Nagasaki pada perang ketiga. Pengeboman yang dilakukan oleh AS dan sekutunya itu mampu meluluhlantakkan dua kota dan nyaris tidak menyisakan apa-apa. Yang paling menarik dalam hal ini sebenarnya adalah pernyataan Kaisar Jepang pada saat itu yang mengatakan, “Ada berapa guru yang masih hidup?”.

Pernyataan sederhana ini barangkali yang menurut penulis anggap telah menyeret Jepang pada peradaban kedua. Pada saat harus memulai kehidupan untuk yang kedua kalinya kecerdasan Kaisar Jepang mengisyaratkan bahwa pendidikanlah yang harus direbut pertama kali. Maknanya adalah bahwa untuk membangun dan memajukan segala hal termasuk teknologi–teknologi diasumsikan sebagai simbol kemajuan dan modernitas suatu peradaban–harus dimulai dari pendidikan. Dan untuk saat ini hal itu terbukti berhasil, bahwa hampir hasil produksi Jepang menguasai seluruh dunia baik negara yang sudah maju atau negara berkembang seperti Indonesia.

Baca Juga:  Ustadz Abdul Somad; The Magician from Riau

Pendidikan luar Negeri memang cenderung lebih maju daripada pendidikan di Indonesia. Atas dasar itu kemudian kecenderungan adaptasi model pendidikan dari luar seringkali dilakukan, seperti beberapa kurikulum terakhir yang diterapkan di Indonesia. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya cara bagaimana pendidikan bisa lebih maju. Maksimalitas konsep pendidikan yang sudah ada juga menjadi bagian bagaimana meningkatkan nilai pendidikan kita.

Adanya otonomi daerah menjadi bagian untuk memotivasi percepatan pendidikan. Kebijakan lokal (Pemerintah Daerah) menjadi indikator maju mundurnya pendidikan, seperti kebijakan dalam menunjang sarana dan prasarana bagi pendidikan, mutasi tenaga pendidik, kesejahteraan tenaga pendidik. Sarana dan prasarana pendidikan cenderung tidak merata, sehingga nilai akhir hasil dari proses pendidikan (anak didik) juga tidak sama antara di pedesaan dan perkotaan.

Baca Juga:  Meneladani Pribadi Nonmuslim Yang Islami

Mutasi juga berdampak tidak baik pada pendidikan apabila dilakukan dengan tidak benar. Sebagai contoh, tenaga pendidik yang penempatannya jauh dari tempat domisili pasti tidak akan maksimal dalam melaksanakan tugasnya, disebabkan jarak tempuh yang jauh lebih banyak membutuhkan waktu, tenaga dan materi, sehingga hal ini akan menguras tenaga.

Kesejahteraan juga tidak kalah penting (hal ini biasanya berlaku bagi tenaga honorer). Karena apabila kesejahteraan itu luput dari perhatian, tenaga pendidik cenderung mencari tambahan di luar, sehingga hal ini mengurangi maksimalitas pengabdian.
Hal paling sederhana yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka mempercepat majunya pendidikan adalah berusaha menempatkan tenaga pendidik sesuai dengan domisili, memperhatikan sarana dan prasarana bagi pendidikan di pedesaan baik Negeri atau nonnegeri, memperhatikan kesejahteraan tenaga honorer.

Wallahu a’lam dan salam hormat.

Musannan, Sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Pamekasan.