oleh

1 Atau 2? Biarlah Waktu yang Menentukan

Berhenti
Tak ada tempat di sini
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, dia yang memimpin
Siapa yang diam, meski hanya sekilas
Pasti akan tergilas.

Puisi di atas ditulis oleh seorang penyair asal Pakistan bernama Mohammad Iqbal. Disamping sebagai seorang penyair, ia juga dikenal sebagai tokoh pemikir Islam sekaligus ahli filsafat. Pantas saja jika syair-syairnya sangat bermakna filosofis dan mengandung arti yang begitu luas serta sarat akan hikmah, sebab dilahirkan dari proses berfikir yang panjang, mendalam dan radikal.

Seakan mengajarkan pada kita, bahwa sifat lamban identik dengan kelalaian, Mohammad Iqbal mempuisikan waktu sebagaimana figur seorang guru. Waktu yang terabaikan memberikan pesan ketertinggalan, karena banyaknya kesempatan berharga yang terbuang sia-sia. Maka memanfaatkan waktu, adalah bagian dari dinamisme gerakan berfikir yang diwujudkan melalui aksi-aksi nyata secara progresif, dinamis dan konstruktif.

“Waktu adalah pedang, barang siapa yang tidak bisa menaklukkannya, maka kelak dia yang akan ditaklukkan”. Kira-kira begitulah ungkapan yang disampaikan oleh Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah dalam sebuah atsarnya. Betapa waktu itu sangatlah berharga dan akan menjadi bumerang jika kita tidak pandai-pandai mengendalikan.

Begitulah waktu, ia menyusup di setiap sendi-sendi kehidupan, menipu kita tanpa terasa. Waktu yang bertahun-tahun lamanya bisa nyaris tak bermakna apa-apa karena rupanya telah berhasil mempedaya. Jika hal ini terjadi pada seorang pemimpin, bisa dipastikan karena pusaran trilogi godaan yang kerap menyeret pada kealpaan ; antara harta, tahta dan wanita. Di sebuah sudut yang sering terlupakan, di sanalah waktu sedang geli menertawakan.

Saat dihadapkan pada pilihan politik, antara nomor urut 1 atau 2, seorang netizen di sebuah akun sosial media menuliskan naluri politiknya sebagai pemilih. Dalam Tulisannya, ia menyampaikan bahwa lebih tertarik untuk memilih nomor urut 1. Ia beralasan karena nomor urut 2 sudah pernah diberikan kesempatan waktu selama lima tahun untuk memimpin, namun tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga terpaksa harus gigit jari ketika rakyat tak memilihnya lagi saat mencalonkan kembali.

Seakan terlena pada semua fasilitas dan tunjangan pemerintahan dengan segala kemewahan yang dirasakan, proram-program yang direalisasikan lebih banyak bersifat seremonial, simbolis dan disisipi misi politik penciteraan. Pada akhirnya, sebagian besar pemilih yang dulu setia, menjadi enggan untuk menolehnya kembali. Kira-kira demikian ia menuliskan.

Sepintas, sepertinya ia bicara dalam konteks Pilkada Kabupaten Pamekasan. Karena yang saya tau, perang isu seputar kandidat Cabup-cawabup di Kabupaten ini lebih banyak mengenai calon pemimpin yang lama dan yang baru. Antara romansa masa silam dan harapan baru di masa depan. Status tua dan muda, serta pemain lama yang dianggap melegenda dan pendatang baru yang membawa spirit perubahan di segala bidang.

Dari sekian analisa politik yang dilakukan menjelang Pilkada Pamekasan tahun ini, banyak pengamat yang menempatkan dua kandidat yang akan bertarung sebagai dua kekuatan hitam dan putih. Antara kekuatan opurtunis-pragmatis yang nampak pada kandidat lama, versus idealis-inovatif yang dilabelkan pada pasangan calon yang baru.

Baca Juga:  Rasional, Bijaksana dan Taat (RBT)

Bak seorang mantan raja yang berasal dari kasta brahmana, kandidat lama kini kembali lagi dari negeri seberang setelah sekian lama diturunkan dari tahta kerajaan. Ia datang menyapa rakyatnya kembali dengan penuh harapan agar tetap mendapat simpati, empati dan dukungan. Persis seperti dulu saat ia menjabat sebagai orang nomor satu di Pamekasan.

Meski kehadirannya bukan untuk menyampaikan penyesalan dan meminta maaf atas kelalaiannya terhadap amanah yang pernah diberikan, namun janji-janji politik dan tawaran-tawaran program yang dikampanyekan, adalah bentuk pengakuan secara implisit, bahwa terlalu banyak waktu yang terbuang selama ia memimpin dengan percuma. Sehingga, butuh waktu tambahan untuk melanjutkan visi-misi dan pembangunan yang pernah kandas di tengah jalan.

Lagi-lagi, waktu selalu berhasil menunda segalanya. Kekhilafan sering kali menyisakan cerita waktu yang pernah terabaikan. Kenikmatan duniawi kerapkali membuat lupa bahwa ada derap waktu yang terus berpacu dan siap mengalahkan siapa saja yang lengah oleh keadaan dan terjerembab dalam jerat-jerat godaan.

Di tengah suasana ambigu dan kebimbangan ; antara rasa iba dan kekecewaan yang kerap datang bersamaan, “Pemimpin Baru Harapan Baru” datang membawa pelipur lara dan kesedihan.

Kehadirannya bak seorang panglima dari kasta kesatria. Ia merupakan figur yang “andhep ashor” dan “ta’ notop parembhekhen”. Gaya dan karakternya mencerminkan calon pemimpin yang lahir di tengah-tengah rakyat dan hadir untuk membangun daerahnya sendiri bersama-sama dengan rakyat setempat.

Meski tidak se-sepuh rival politiknya yang pernah di-isukan sakral sebagai seorang “wali” layaknya figur al-Marhum Gusdur, namun jargon “Cerdas, Muda dan Merakyat” yang dipopulerkan oleh pendukungnya, mampu membuat rakyat berfikir dua kali untuk melirik kandidat lama. Isu “wali” yang sempat santer dihembuskan kelompok rivalnya, mampu disikapi oleh rakyat sebagai sebuah usaha dogmatis yang menggunakan isu mistis dalam teori tasawuf. Padahal tidak ditemukan tanda-tanda kewalian yang kentara dalam diri tokoh gaek tersebut.

Tidak seperti para pendahulunya, kiprah sang panglima kesatria ini lebih banyak di jalur organisasi kepemudaan dan politik dalam memback-up aspirasi ummat. Padahal, buyut, kakek dan ayahandanya adalah tokoh ulama’ panutan yang banyak mengabdikan ilmu dan perjuangannya di lingkungan pondok pesantren. Bahkan menurut data sejarah, kediamannya kini, tempat yang melahirkannya sebagai keturunan dengan trah ulama’, adalah merupakal cikal bakal berdirinya sebagian besar Pondok Pesantren di Pamekasan. Bahkan, rata-rata adalah pondok pesantren terbesar di Madura.

Sepanjang perjalanan kariernya, kepribadiannya yang merakyat membuatnya selalu sigap dalam merespon persoalan. Saat duduk sebagai anggota DPRD Jawa Timur, wajahnya kerap disorot oleh media karena keberaniannya yang kritis seringkali harus membawa kakinya untuk turun ke jalan bersama-sama rakyat dan mahasiswa. Di sana ia meneriakkan aspirasi masyarakat di hadapan rezim penguasa. Bahkan, hal itu tidak segan-segan ia lakukan meski harus menentang kebijakan pemerintah – yang tidak populis – sekali pun.

Kini, waktu telah mempertemukan sang kesatria dengan mantan raja dalam moment Pilkada. Tidak ada putera mahkota yang secara otomatis dapat menduduki jabatan pemerintahan ini. Meski sebenarnya sang kesatria adalah putera asli daerah, sedangkan sang raja adalah pendatang – meski tidak asing – dari pulau seberang. Tapi, sistem demokrasi kita tidak mengenal budaya patriarkhi, yang meniscayakan pucuk pimpinan diduduki sesuai dengan garis trah para leluhur, darah keturunan dan asal-muasal tanah kelahiran.

Baca Juga:  Lembaga Survei dan Pemilu

Hanya saja, persoalan rakyat kemudian lebih memandang putera asli daerah sebagai bagian dari kebanggaan bersama yang perlu diaktualisasikan potensi leadershipnya, sehingga diapresiasi melalui dukungan politik, maka hal itu merupakan wilayah demokrasi dan tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan apapun. Budaya demokrasi adalah masalah selera dan kebebasan menentukan pilihan atas dasar pemikiran dan pertimbangan diri yang bersifat privacy. Siapapun berhak melawan bila ada hegemoni yang mengatasnamakan kepentingan apa pun, karena kebebasan menentukan hak politik dilindungi oleh undang-undang.

Lalu, siapakah yang layak memimpin Pamekasan? Hanya waktu yang mampu memberikan jawaban. Biarlah waktu jua yang akan menentukan. Yang jelas, al-Qur’an menyampaikan bahwa pengkhianat waktu akan tertimpa kerugian, kecuali mereka yang beriman, berbuat hal positif dan mau membuka diri untuk saling mengkritisi, mengingatkan, dan memberikan masukan saran, baik dalam kebaikan maupun kesabaran (Qs. al-‘Ashr : 1-3).

Tanpa ada maksud menprovokasi, sepertinya rakyatlah yang lebih mengerti. Bahwa prestasi, dedikasi dan pengabdian pemimpin yang setia pada waktu akan dihormati dan diapresiasi dengan memberikan kesempatan ke dua untuk memimpin kembali. Tetapi kelalaian dan ketidak lihaian pemimpin dalam memanfaatkan waktu yang diberikan, waktu sekan dipandang sebagai peluang dan kesempatan yang tidak begitu berharga sehingga hanya disia-siakan, adalah tipe pemimpin yang mengecewakan dan menyakitkan. Masyarakat pun akan resisten dan tidak mau terperosok lagi selama dua kali di lobang yang sama.

Pada gilirannya, hanya pemimpin baru yang akan menjadi satu-satunya tumpuan harapan yang baru pula. Dalam pandangan masyarakat, wajah baru pastinya akan belajar pada kekurangan-kekurangan pemimpin sebelumnya, serta berusaha keras untuk tidak sampai mengulangi lagi, kecuali menyempurnakannya kembali. Karena memiliki catatan lebih buruk dari prestasi sebelumnya adalah kejumudan. Menyamai peringkat pendahulunya terbilang stagnan. Tapi jika mampu melebihi pencapaian seniornya barulah dinilai dinamis, progresif, produktif dan mampu melakukan perbaikan. Jika ini tercapai, sungguh merupakan prestasi yang gemilang.

Itulah orientasi kepemimpinan baru yang membawa harapan-harapan baru. Ia hadir dengan terobosan program aksi unggulan yang brilian, serta berorientasi pada kemajuan, kesejahteraan dan pembangunan masyarakatnya ke depan. Setidaknya, begitulah cita-cita kita semua sebagai masyarakat yang rindu perubahan.

Harapan ini, mutlak tersemat pada kandidat pasangan baru yang membawa spirit muda dan pemikiran yang mencerahkan, demi kesejahteraan masyarakat Pamekasan selama lima tahun ke depan, bahkan dalam jangka waktu panjang. Kepada nomor urut berapa pilihan itu kita pahatkan? Tentunya para pembaca yang lebih faham menerjemahkan. Wallaahu a’lam..

*) Penulis adalah pegiat literasi di Bengkel Ilmiah GERANAT (Gerakan Aksi Pena Kreatif), tinggal di Nyalaran, Pamekasan.