Opini  

Pantura, Harapan dan Aspirasi

Waktu saya kecil-saya ingat-ketika bapak mau ke Pamekasan bekerja (narik becak), hampir ada saja orang yang menitip sesuatu untuk dibelikan di Pamekasan. Maklum, tidak semua orang sempat ke Pamekasan kecuali orang yang memang bekerja di sana. Memang iya, untuk kebutuhan yang di desa tidak ada, harus menitip ke kota.

Sebagai tetangga, urusan titip menitipkan sudah biasa dilakukan, karena menitip sesuatu kepada orang yang jauh tidak mungkin dilakukan; selain tidak kenal juga belum tahu karakternya. Jangan-jangan apa yang kita titip “tak ada” dan uang tidak kembali, kalau sudah begitu komplainnya ke mana coba.

Demikian juga ibu. Kalau kebetulan sedikit yang mau dibeli di pasar, ia memilih menitip kepada tetangga yang mau ke pasar. Selain mudah dan praktis, namanya tetangga pasti lebih amanah, kecuali orang yang tidak akur dengan tetangga. Kesimpulannya, untuk urusan menitipkan pasti tetangga lebih bertanggung jawab. Dijamin 100%!

Dalam konteks Pilkada Pemekasan, kita sebagai masyarakat Pamekasan boleh menitip aspirasi kepada orang yang kita percaya. Hemat saya, menitip aspirasi kepada tetangga lebih mungkin untuk dilakukan. Sebab, interaksi yang dilakukan dengan tetangga itu lebih intens daripada orang jauh.

Baca Juga:  Meniscayakan Pendidikan Antikorupsi dalam Dunia Pendidikan

Sebagai orang Madura, perasaan tidak nyaman dan beban moral pasti ada manakala lepas dari tanggung jawab. Apalagi bagi orang yang hampir bertemu setiap saat, maka beban moral akan semakin besar, sehingga beban moral ini yang mengantarkan seseorang pada tanggung jawab. Sementara orang jauh, jangankan beban moral, bertemu saja akan jarang, kalau masih bertemu.

Untuk saat ini, ada salah satu masyarakat pantura mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari penentu kebijakan. Dengan begitu masyarakat Pantura akan lebih mudah menyampaikan aspirasinya kepada orang yang notabene adalah tetangga.

Kesempatan yang diberikan kepada tokoh Pantura sebagai representasi dari masyarakat harus dimanfaatkan dengan baik. Sebab, selama Pamekasan ini berdiri tidak ada representasi masyarakat Pantura yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi wakil pimpinan eksekutif di Pamekasan. Jika pada kontestasi hari ini tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh warga Pantura, maka belum tentu kesempatan yang sama akan terjadi untuk waktu-waktu yang akan datang. Baik untuk lima tahun mendatang atau sepuluh tahun mendatang, dan bahkan untuk tahun-tahun selanjutnya.

Baca Juga:  Cinta Itu Titik, Bukan Koma

Bila dalam kontestasi hari ini, momen langka seperti saat ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, hal ini akan menjadi semacam ruang masuk bagi tokoh Pantura untuk menjadi bagian pemangku kebijakan di tahun-tahun yang akan datang.

Ke depan para politisi tidak segan lagi untuk menggandeng tokoh dari Pantura dalam setiap momen Pilkada. Dan bila kesempatan Pilkada saat ini perwakilan Pantura tidak mendapatkan respon baik dari segenap masyarakat Pantura, jangan harap ke depan mendapatkan kepercayaan lagi dalam kontestasi Pilkada Pamekasan.

Dalam hal pasangan representatif untuk Pilkada Pamekasan, Berbaur adalah pasangan yang mewakili utara dan selatan. Jadi untuk masyarakat Pantura pada saatnya bisa menitipkan segala kebutuhannya kepada tetangga sendiri, pun masyarakat bagian selatan. Bertemunya utara dan selatan adalah keuntungan masyarakat Pamekasan secara umum. Insyaallah!

Wallahu a’lam!

Musannan, Sekretaris Lesbumi PCNU Pamekasan.

WhatsApp chat