Segenap pimpinan dan karyawan_20240408_235739_0000

Pelajaran Perjalanan

Setiap peristiwa, besar maupun kecil, luar biasa maupun sederhana, pasti memiliki makna tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengalaminya. Barangkali hal itulah yang membuat M Faizi, selalu menyempatkan diri menulis kepingan fragmen dalam setiap titik perjalanannya, terutama menyangkut hal ikhwal dunia otobus dan pernak-perniknya.

8_20240408_234212_0006
21_20240408_234212_0019
5_20240408_234212_0003
2_20240408_234211_0000
3_20240408_234211_0001
10_20240408_234212_0008
Diskon_20240411_102039_0000

Buku ini memuat sejumlah catatan perjalanan: sensasi berkendaraan, persaingan transportasi, kejutan perjalanan, dan kenyataan hidup di atas bentangan aspal. Menyambung kisah dari kota ke kota. Merentang cerita dari terminal ke terminal. Sumenep menjadi titik awal dan akhir cerita. Trayek terdekat, Sumenep-Pamekasan. Trayek terjauh, Sumenep-Jakarta.

6_20240408_234212_0004
14_20240408_234212_0012
7_20240408_234212_0005
Diskon_20240408_235150_0000
24_20240408_234212_0022
13_20240408_234212_0011

Ada 70 macam nama bis yang tercatat di buku ini. Keluarga Akas (Asri, NR, NNR, IV, dll) merupakan nama bis yang sering disebut. Dengan ribuan armada, garasi bis yang berpusat di kabupaten Probolinggo ini menjadi perusahaan otobus terbesar di Jawa Timur. Tak ayal bila sepanjang pesisir pantai utara dan wilayah Tapal Kuda keluarga Akas menjadi penguasa jalanan. Terminal tak ubahnya garasi mereka. (hal.29)

23_20240408_234212_0021
18_20240409_074953_0001
11_20240408_234212_0009
12_20240408_234212_0010
22_20240408_234212_0020
19_20240408_234212_0017

Dari puluhan nama bis, ternyata bukan keluarga Akas yang menjadi primadona jalanan. Primadona itu justru jatuh pada Mila Sejahtera ‘Dona-Doni’ trayek Banyuwangi-Jogjakarta. Apa pasal yang dapat dibanggakan dari bis bumel ini? Dempul tebal bertatalan? Warna cat dan livery yang pudar? Atau sensasi jeritan mesin Hino AK tahun ’96? Hanya “Tokoh Utama Di Luar Cerita” yang bisa menjawab.

Baca Juga:  Beban Berat si Calon Sarjana

Selain dari itu, angka-angka lainnya yang sempat dicatat oleh penulis adalah 27 plat nomor dan 12 tempat makan. Warung Soto ‘Ojo Lali’ Cak Bambang seperti sebuah bahan rekomendasi penulis jika oper atau transit di Bungurasih, Surabaya, dalam kondisi perut terkapar atau sekedar ngopi sejenak menghilangkan capai.

Dalam sebuah cerita, plot yang baik harus memiliki kejutan yang baik pula, baik kontak fisik atau pergolakan batin. Demikian pula dalam cerita nyata di jalan raya ini. Aksi heroik-akrobatik, semacam menguntit dan menempel kendaraan lain, menggoda supir menginjak gas lebih dalam dengan mengasapi moncong bis, menyalip dalam keadaan kres, meliuk-liuk dan melakukan manuver, dipaparkan secara gamblang sehingga memberikan ketegangan dan efek kejut tersendiri.

Buku ini tampak seperti kamus mini bagi siapa pun yang hendak melakukan perjalanan, terutama perjalanan sepanjang pulau Jawa. Pembaca akan diperkenalkan dengan ragam bis dari bumel sampai super executive, menjelaskan sasis dan cara kerja mesin, memandu perjalanan dengan segala tetek bengeknya, hingga strategi mencari jalan alternatif di masa injury time untuk mencapai tujuan tepat waktu sesuai rencana perjalanan.

9_20240408_234212_0007
20_20240408_234212_0018
15_20240408_234212_0013
17_20240409_074953_0000
16_20240408_234212_0014
Diskon_20240409_180711_0000

Nah, rencana perjalanan menjadi ikhwal yang sangat penting. Semacam ikhtiar menghadapi kenyataan di luar perkiraan. Macet dan mogok menjadi momok yang sulit dihindari di negeri ini. Apalagi kalau bukan penyebab kecenderungan memakai kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi umum. Padahal, memakai transportasi umum, seperti bis, merupakan langkah preventif mengurai kemacetan.

Dengan kondisi seperti itu, seorang penumpang dituntut berpikir keras dan cerdas melakukan ‘manuver jalan raya’ agar rencana perjalanan tidak berantakan, seperti yang dilakukan pada bagian “Terjepit Undangan, korban Liburan”. (hal.106)

Baca Juga:  Mozaik-mozaik Impian

Dengan sensasi gaya cerita yang liar dan bernas, pembaca seolah dibuat hadir duduk di belakang supir. Merasakan pergantian gigi perseneling, mendengar deru mesin turbo, menghirup kepulan asap hitam bersemu putih, cericit rem diinjak mendadak, kerlap-kerlip lampu jalanan, mahkota lampu mayang, atau kedipan lampu sein yang tampak seperti seseorang yang tengah menggoda pacarnya.

Banyak orang yang menganggap perjalanan sebagai aktivitas lahiriah yang cenderung membosankan, sehingga peristiwa-peristiwa di atas jalan beraspal, yang seharusnya dapat dijadikan pengamatan potret kehidupan, hilang begitu saja dalam ingatan. Nilai-nilai kemanusiaan justru banyak tersaji atas persinggungan dan dialog dengan sesama penumpang dari bermacam karakter etnik dan arah tujuan.
Pandangan supir pada kaca spion juga turut memantulkan potret kehidupan. Sebentuk wajah yang memikul tanggung jawab besar memberikan kenyamanan kepada penumpang dan mengantarkan mereka dalam keadaan selamat sampai tujuan. Di lain sisi, ia bersama kondektur dan kernek, harus berlapang dada memangkas waktu sedikit mungkin bersama keluarga demi mengais rezeki sepanjang perjalanan.

Buku ini tidak hanya sebatas rekaman kenangan di dalam catatan, melainkan lebih kepada sebentuk upaya untuk memaknai perjalanan lebih cermat dan bijak; betapa suatu perjalanan yang dianggap lahiriah tersimpan makna yang sangat indah. Ayo ngebis…!

Jember, 14 Februari 2017

DATA BUKU:

Judul Buku : Beauty & The Bis
Penulis : M Faizi
Penerbit : Basa Basi, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, Januari 2018
Tebal : 216 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm

*) Jurnalis, alumni Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk. Tinggal di Ledokombo, Jember. Telp: 0823 3102 1747. 

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sampang_20240410_124753_0000
4_20240408_232459_0003
6_20240408_232459_0005
1_20240408_232458_0000
Dinas lingkungan hidup kabupaten sumenep_20240408_232720_0000
7_20240408_232459_0006
3_20240408_232459_0002
8_20240408_232459_0007
2_20240408_232459_0001