oleh

Apabila Kau Memilih Pergi dariku

/1//

KUPANGGIL namanya Errys. Nama kesayangan tentu saja. Dia istriku. Perempuan yang cantik, seindah bunga narsis. Tubuhnya langsing persis tangkainya, kerudungnya mirip warna mahkota bunganya, demikian pula bau pakaiannya seharum bunga narsis yang mekar di musim semi. Namun, hari ini aku terkejut. Bukan musim gugur dan bukan musim panas, istriku tiba-tiba minta cerai. Minta cerai. Cerai.

Malam itu, ia menyampaikan permintaannya itu setelah empat jam sudah lamanya bertikai dalam video call telpon seluler. Mulanya Errys bicara seperti tengah memendam kerinduan yang teramat dalam di rasanya. Beberapa bulan tak bertemu semenjak aku menjadi Guru Luar Negeri di Den Haag, barangkali menurutku akan menjadi semacam pelepasan rindu di malam itu. Aku dapat melihat senyum Errys yang merekah seperti menanti bibirku untuk mencumbunya. Begitu pula gaun yang dikenakannya, biru muda dengan ornamen mahkota bunga narsis seakan memacu gairahku untuk membayangkan hari-hari berlimpah gula saat berbulan madu sebelum meninggalkannya di Bandar Lampung itu terulang lagi. Mataku dan matanya saling menatap, menjelajah tubuh yang memang malam itu seperti tanah gersang menanti dibasahi rinai hujan.

Malam itu, angin dingin menyapu pilar-pilar Katedral yang berdekatan dengan apartemenku. Sisa genangan air dari laguna sepertinya masih menggelanggang membasahi jalan Laan van Meerdervoort pada perempatan dengan jalan Zoutmanstraat, mengalir dari gang-gang kecil hingga menuju ke alun-alun Malieveld.

“Aku sudah menanti keadaan seperti ini,” ucapmu sambil jari-jemarimu mengerai-geraikan rambutmu yang panjang berwarna hitam berkilau seperti bulu sayap burung nasar.

Telingaku pejal menangkap momen-momen yang begitu syahdu seperti dalam drama-drama film dewasa yang diterjemahkan oleh bunyi instrumen yang membuat tubuhku berkeringat. Tipis dan tebal, rendah dan tinggi dalam tempo nada yang menenangkan dan memacu gairahku.

Kukira aku akan menikmati sedikit hiburan barang sekejap untuk melihat dua bongkah gundukan di dadanya yang selalu ia pamerkan saat berkasih denganku. Atau menyaksikan bagaimana ia mendesah karena rindu yang mendesak di dadanya itu.

“Kau cantik sekali malam ini, Errys,” ujarku membuka atsmosfer asmara.

“Hmm,” ucapnya tertahan, “apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?”

Aku tersenyum sambil terus memandangi lengan atasnya yang putih diangkat ke atas kepalanya, hingga hampir terlihat kerut halus kulit ketiaknya yang juga tampak putih bersih. “Katakan saja! Aku sudah menantinya.”

“Tetapi kita harus saling berjanji utuk membicarakan ini dengan tenang. Tak ada kemarahan, kebencian dan perasaan saling menyakiti.”

“Sayang, kau ini mau bicara apa?” tanya kau keheranan sambil terus mengumbar senyum kepada istriku. Aku serasa tak mampu menterjemah tiap bait kata yang diucapkannya. Lalu orkestra yang mengiringi drama romantisme seperti mulai bergeser ke arah bibit-bibit konflik. Bunyinya mulai nyaring seperti plot laga dalam cerita.

“Setelah aku mengucapkannya nanti, berjanjilah untuk meredakan rasa emosimu. Tak pantas jika kita kemudian saling mengamuk amarah. Balaslah permintaanku dengan kerelaanmu. Aku mencintaimu dan kutahu kau pun mencintaiku. Kita saling mencintai, bukan?”

“Tentu saja, Sayang. Aku mencintaimu. Terlampau cinta bahkan. Namun, apa yang sebenarnya akan kau sampaikan?”

“Sabarlah Sayang, aku akan mencoba mengungkapkannya dengan sebaik-baiknya,” ucapmu sambil mengubah letak berbaringmu. Aku sudah tak lagi berpikir tentang keindahanmu karena yang terbayang di pikiranku sebuah kabar yang membuatku senang.

Kulihat kau pun mulai mengatur letak bantalmu, berwarna putih yang kau tindih dengan kepalamu sampai kelihatan memberat. Bibirmu sedikit bergetar seperti kesusahan menyusun kata agar aku mengerti dan dapat memahamimu tanpa banyak-banyak memberi penjelasan. Berkali kau menelan ludah yang tentu saja tampak kentara sekali di layar telpon seluler ini.

Baca Juga:  Meneroka Rahasia Para Penulis Dunia

Kupikirkan dengan selintas pikir. Ah, mungkin istriku hendak menyampaikan kabar kalau ia telat datang bulan. Lalu memeriksa urinenya dengan test pack dan hasilnya dua garis merah pada batangnya. Ia pun berkata, “Aku hamil dan kini sudah tiga bulan, Sayang.” Tentu saja, jika itu yang akan disampaikannya, aku akan bahagia sekali. Merasa sudah siap menjadi ayah untuk bayinya kelak. Lelaki, perempuan atau kembar, tak lagi jadi persoalan. Sehingga karena itu, ia pun perlu minta tambahan uang bulanan untuk kebutuhan susu, makanan bergizi dan keinginan lain untuk kandungannya. Kalaupun tak, mungkin ia ingin berlibur bulan depan ke Den Haag. Menikmati musim semi yang panjang dengan malam yang dingin, menyaksikan jutaan bunga tulip bersemi dengan segala warna keindahannya terhampar bagai permadani istana raja di taman bunga Keukenhof.

Berbagai kemungkinan indah itu bermain di kepalaku. Mirip perahu-perahu motor yang hilir mudik di kanal-kanal Amsterdam. Untuk itulah aku ada di antara gedung-gedung berukiran bunga-bunga berwarna suasa seperti istana dalam negeri-negeri dongeng. Untuk itulah aku terpelecat jauh dari kota Mangga Indramayu yang dulu orang-orang Belanda selalu kerepotan menghadapi perlawanan rakyat Indramayu di sekitar bantaran sungai Cimanuk.

Dipantulkan laguna berkaca, rembulan di atas langit Den Haag begitu indah dipandang dari kaca jendela. Meski bukan purnama tetapi cukup terang untuk membuat malam makin benderang. Adapun mozaik cinta yang sedang dirangkaikan oleh bibirmu mengecup surup mataku. Atau musim semi yang sebentar lagi turun membuat sejumput waktu makin surut.

“Aku akan mengatakannya jika kau benar-benar siap,” ujar Errys membaca kecemasan dari sinaran mataku. Mungkin.

“Kau tampak meyimpan teka-teki. Ayolah katakan! Aku sudah merasa rindu.” balasku mencoba romantis di tengah keadaan yang mengikis.

Dan kau menarik nafas sampai terdengar desahmu demikian jelas. Dengan sangat perlahan kata-katamu tereja demikian lembut tetapi memberi dampak menghancurkan, seperti salju yang terlerai dari pucak gunung es, lalu membuat bah di lerang dan lembah.

“Sebaiknya kita bercerai saja!”

/2//

MUSIM semi di Belanda tampak indah bagi mataku tetapi tidak bagi hatiku. Sebulan sejak Errys menyatakan ingin bercerai dariku, aku telah menjadi seekor sapi yang gelisah di hamparan padang rumput di seberang laguna di antara tiang-tiang kincir angin yang berputar-putar.

Bagaimana bisa Errys secepat itu ingin berpisah dariku? Bagaimana aku tak menyimpan kecewa kepada perempuan berdagu manis, semanis buah bintang itu? Bagaimana mungkin aku rela melepas mahacinta dan maharinduku? Sedang aku di sini tengah mempersiapkan masa depan dengan harapan dapat bahagia nanti. Namun, kau regas impianku. Kau patahkan pucuk cita-citaku, kau hancurkan cintaku bahkan kau bunuh aku karena mencabut cintamu itu dari hatiku.

Senja menguap dan matahari pun absurd. Berhari-hari aku tergeletak karena rasa sakit yang menjangkit di seluruh tubuhku. Entah jika perpisahan yang megah itu benar-benar terjadi? Musim semi tak seindah bayanganku. Anginnya yang semilir tak lagi menyisir sela-sela rambutku yang tergerai kusut. Mataku redup, semangatku tak meletup dan tubuhku  kuyup. Rasanya, simfoni tentang hatiku benar-benar telah enyah. Dari pedalaman hatiku, aku dapati puisi cintamu pergi. Cintamu Pergi. Pergi.

Baca Juga:  Peran Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Sebelum Kemerdekaan

/3//

TELAH kurimkan surat cintaku padamu. Jangan kau tanya bagaimana aku menuliskannya. Luruh seluruh tubuhku. Aku meratap, meminta maaf, bahkan bersedia sujud hanya untuk dua hal darimu. Pertama, agar kau kembali padaku sekalipun dengan sisa-sisa cinta. Dan kedua, agar kau membatalkan permintaanmu untuk berpisah dariku.

Namun apa yang kudapatkan, kau tak lagi peduli. Seakan ingin kau balaskan semua dendam kesumatmu saat dulu berkekasih denganku. Percik-percik luka saat masih saling liar menanggapi godaan-godaan yang datang. Semua badai asmara dari air mata hingga derita kau tumpahkan padaku demikian sadisnya. Katamu kau mencintaiku tetapi ingin meninggalkanku. Cinta seperti apa?

/4//

“APA kau benar-benar sakit, Sayang?” ucapmu. Aku masih bisa menyaksikan wajahmu yang berupaya agar tak kelihatan sedang bergemuruh.

“Entahlah, yang pasti aku telah kau kecewakan,” jawabku sambil merintih. Segumpal kekesalan hingga kebencian memuncak dan kudapati tubuhku tetap terkulai.

Dalam sakitku, aku mendapatkan kabar kau sedang menjalin asmara terlarang dengan lelaki tua dan sudah merencanakan pernikahan di belakangku.

“Pernikahan macam apa itu?” Geram sekali hatiku menanggapimu.

“Aku tak merencanakan itu, tetapi kini aku mulai mencintainya,” ucapmu membela diri.

Muak sekali aku mendengarnya. Dadaku sesak menahannya. Tetapi aku masih ingin bersabar. Masih ingin memberi nasehat bagi istriku agar menyadarinya. Termasuk ingin memberikan peringatan bagi lelaki tua itu untuk tidak merusak sebuah keluarga yang baru beberapa bulan dibangun dengan cinta, harapan dan cita-cita mulia.

“Errys, aku memang hanya memberimu laut berombak. Sedangkan lelaki tua itu telah menjanjikan padamu sungai emas sehingga kemilaunya menarikmu ingin berenang-renang di arusnya. Tetapi apalah arti sungai emas itu kalau kau malah mati tenggelam?”

Kudengar suara isakmu.

“Sementara aku telah menyediakan bahtera untukmu sekalipun dengan layar terkoyak dan kita masih bisa merasa aman walaupun terombang-ambing melayari samudera kehidupan. Itu lebih baik dan mendekati kepada keselamatan.”

“Sudahlah… aku sudah lelah denganmu dan ingin hidup dengan cinta yang baru.”

Aku gemetar mendengarnya. Entah setan mana yang sungguh berpengaruh dan mememgaruhi hatimu untuk bersikeras pergi dariku. Adakah di bumi ini lelaki yang rela perempuannya pergi karena tertarik dengan lelaki lain? Adakah di dunia ini suami yang rida istrinya diceraikan hanya untuk berganti suami lain? Barangkali hanya aku yang akan melakukannya. Dan kau mengecewakanku. []

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017) dan Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media koran seperti Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Minggu Pagi, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Koran Pantura, Tribun Jabar, Bhirawa, Tabloid Nova dan Jurnal Asia. Email ffarisalffaisal@gmail.com, Facebook www.facebook.com/faris.alfaisal.3, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal, Line ffarisalffaisal  dan SMS/WA 085 224 107 934.