Gus Khaqqoh Bertekad Bangkitkan Koperasi Pesantren

Tidak banyak orang yang paham agama (santri) sekaligus paham soal koperasi. Biasanya, santri berafiliasi kerja pada bidang dakwah, pendidikan dan atau politik. Sedikit sekali santri yang eksis bergelut dengan sepenuh hati di sektor koperasi. Dan, Gus Khaqqoh adalah satu dari santri yang sedikit itu.

Nama lengkapnya adalah HM Al Khaqqoh Istifa. Ia lahir di Pekalongan Jawa Tengah ketika kalender menunjuk pada angka 23 Nopember 1971. Bungsu dari empat bersaudara pasangan H Nasekhu Mashuri dan Hj Farita Mas’an ini sejak kecil memang akrab dengan pesantren.

Setelah menempuh pendidikan agama di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum, Paesan Kedungwuni, Pekalongan, Khaqqoh kecil mondok di Pesantren Kiai Rozi, Pegaden, Kedungwuni, Pekalongan. Setelah 6 tahun di situ, ia nyantri di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Kendati senang nyantri, namun Gus Khaqqoh tak melalaikan pendidikan formalnya. Mulai SD hingga SMA, ia tempuh di Pekalongan. Sedangkan untuk pendidikan S1, ia hijrah ke Malang, tepatnya di Universitas Muhammadiyah. Itupun dilakukannya sambil nyantri di Pesanten Gading, Malang. Di kampus itulah, Gus Khaqqoh mengawali perkenalannya dengan ekonomi melalui jurusan yang dipilihnya, yaitu ekonomi manajemen. Lulus tahun 1995.

Bekal ilmu yang didapat dari bangku sekolah dan pesantren telah mengantarkan Gus Khaqqoh tumbuh sebagai sosok yang ulet dan pandai membaca peluang. Dua tahun setelah lulus S1, ia bergabung dengan Inkopsim (Induk Koperasi Syirkah Muawanah) perwakilan Jawa Timur sebagai kepala divisi pupuk. Di situlah ia berkenalan dengan koperasi berlebel Islam yang didirikan oleh para tokoh NU itu.

Selama tiga tahun, Gus Khaqqoh bergelut dengan distribusi pupuk. Dan dari situ, ia akhirnya tahu bahwa pupuk seringkali menjadi masalah bagi petani. Betapa tidak, ketika dibutuhkan, pupuk kerap kali menghilang.

“Persoalan lain adalah petani perlu terus menerus disadarkan untuk menggunakan pupuk organik. Karena pupuk kimia dalam jangka panjang tak menguntungkan petani,” jelasnya.

Di tengah kesibukannya mengurus distribusi pupuk, Gus Khaqqoh masih meluangkan waktu untuk kuliah S2 di Universitas Islam Kediri. Baginya, ilmu mutlak diperlukan untuk bekal hidup sekaligus menopang karir.

Kinerja yang bagus dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, membuat Gus Khaqqoh dipercaya untuk menjadi kepala perwakilan Inkopsim Jawa Timur (2000).

Baginya, jabatan tersebut tidak mudah dan tidak mulus-mulus amat mengingat koperasi yang menjadi anggota Inkopsim rata-rata adalah koperasi pesantren dan koperasi-koperasi kecil yang membawahi pelaku usaha kecil. Namun tugas tersebut berhasil diselesaikannya hingga jabatannya berakhir (2014).

Sukses di di Jawa Timur, Gus Khaqqoh kemudian dipercaya memimpin Inkopsim Jawa Tengah. Tugas baru ini bagi Gus Khaqqoh tak terlalu sulit. Sebab, setidaknya ia paham karakter warga Jawa Tengah karena ia lahir dan besar di Pekalongan sehingga mudah beradaptasi untuk megembangkan Inkopsim di provinsi yang beribukota di Semarang itu. Hasilnya tidak mengecewakan. Ia berhasil membina dan menyehatkan 71 koperasi di bawah naungan Inkopsim.

Kecintaan Gus Khaqqoh pada koperasi membuatnya terus berpikir agar bagaimana koperasi bisa bangkit menemui kejayaannya kembali. Baginya, koperasi harus bangkit karena koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) merupakan sokoguru perekonomian Indonesia. Dan terbukti koperasi mampu bertahan dalam situasi ekonomi seburuk apapun. Hal itu bisa diihat saat Indonesia diterpa krisis global beberapa tahun yang lalu. Ketika itu perekonomian Indonesia nyaris kolaps, namun koperasi dan UKM tak goyah hingga perekonomian masyarakat tak begitu jatuh.

“Saya bertekad untuk membangkitkan kembali kejayaan koperasi dengan instrumen yang ada,” lanjutnya.

Dengan tekad dan perhatian yang seperti itu pada koperasi, tak heran jika akhirnya Gus Khaqqoh terpilih sebagai Ketua Umum Inkopsim sejak 2015 hingga sekarang. Dengan posisi tersebut, ia punya kuasa yang lebih. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi sebagai lahan pengabdian untuk mensejahterakan masyarakat melalui koperasi. Ayah dari dua anak itu mendarmabaktikan pikiran dan tenaganya untuk memajukan koperasi. Karena itu, ia tak segan-segan mengkritik pemerintah jika ada kebijakan yang dinilainya bisa mengganggu kemajuan koperasi. Saat ini anggota Imkopsim mencapai 158 koperasi yang tersebar di Jawa dan luar Jawa (12 koperasi).

Bagi Gus Khaqqoh, bergelut dengan koperasi adalah panggilan hatinya, sehingga sampai kapanpun ia akan berjuang untuk memajukan koperasi. Kendati demikian, lelaki penyuka olahraga badminton ini tak pernah mengincar posisi apapun dari pergulatannya dengan koperasi. Ia hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk umat dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Karena itu, suami dari Hj. Sri Wahyuni SE ini berusaha memanfaatkan ilmunya dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di Malang.

Kendati demikian, Inkopsim merupakan “lahan” yang cukup menyita perhatian dan tenaganya. Itu karena tekadnya untuk membangkitkan koperasi – khususnya koperasi pesantren– cukup membaja. Gus Khaqqoh mengaku yakin bahwa potensi koperasi pesantren cukup besar, namun belum digali dan digarap secara sungguh-sungguh.

“Saya ingin membuktikan bahwa pesantren juga bisa,” jelasnya.

Niat telah dihunjamkan. Tekad sudah dikepalkan. Dan aksi sudah dijalankan. Sebuah kolaborasi kerja telah ditampilkan di panggung kehidupan Gus Khaqqoh. Hasilnya, terserah Yang Maha Kuasa. Tapi yang pasti, perjuangan yang tak kenal lelah, tak akan menghianti hasil (Aryudi Abdul Razaq)