Anangghâlâ Ngangghui Sape, Cara Tradisional Petani Madura Membajak Sawah yang Mulai Ditinggalkan

Seiring berkembangnya tehnologi, cara tradisional membajak sawah memakai tenaga sapi petani di Madura sudah jarang terlihat. Cara tradisional itu ada yang menyebutnya Anangghâlâ ngangghui sape. Ada pula yang menyebutnya Asaká ngangghui sape. Pasalnya, sudah ada mesin pembajak sawah (Traktor) yang jadi gantinya.

Secara tehnis, Anangghâlâ ngangghui sape dapat dipahami bahwa, membajak sawah menggunakan tenaga sapi. Rerata, menggunakan dua ekor sapi. Selain dua sapi, juga menggunakan alat yang disebut Nangghâlâ yang dipandu pemilik sapi.

Rincian alat nangghálâ ini antara lain;menggunakan kayu yang dibuat tipis di bagian depan, yang bisa ditambah potongan besi dengan model seperti sendok nasi. Fungsinya, kayu itu sebagai pembongkar tanah atau sawah yang akan digarap. Kayu ini ditaruh di bagian tengah berbentuk panjang melengkung yang berfungsi untuk menekan kayu tipis tadi. Pangonong, terbuat dari kayu. Bentuknya pajang dan ditambah potongan bambu atau kayu kecil yang berfungsi untuk mencegah leher sapi agar tidak bergerak liar. Peccot (cambuk kecil) yang dicambukkan dengan tidak keras pada pantat atau bagian paha sapi. Namun, ada juga yang hanya mengibaskan peccot itu sampai menghasilkan bunyi ‘ceplas’. Peccot ini bentuknya panjang minimal 1 meter. Terbuat dari tali rafia dan totan.

Baca Juga:  Pesantren Penyelamat Karakter Bangsa

Sapi yang dipakai tenaganya untuk membajak sawah ini tidak serta merta dipakai dengan tanpa perawatan. Jangan heran, jika sapi di Madura yang dipakai Anangghâlâ ini diberi Fanta, Susu, Telur, bahkan jamu racikan khusus untuk menambah atau setidaknya menjaga kekuatan dan stamina sapi stabil. Masa sapi diberikan Fanta segala. Gak percaya? Silakan datang ke Madura. Khusunya di daerah saya. Desa Ragang, Kec. Waru, Kab. Pamekasan.

Tak semua petani di Madura memiliki sapi sendiri-sendiri. Alasannya bisa ; tak ada uang yang cukup untuk membeli, tak suka memelihara, tak punya kandang, malas mengarit rumput untuk pakan dan alasan lainnya.

Dari kondisi tersebut, maka petani yang memiliki sapi dan Nagghâlâ membuka jasa pembajakkan sawah. Upahnya menghitung waktu setengah hari. Hitungannya begini. Rerata, pembajakan sawah dimulai pukul 06:00 pagi atau lebih sedikit sampai waktu dzuhur tiba. Nominalnya, upah dengan waktu demikian berkisar Rp.50.000. Kalau pagi sampai sore dengan jeda shalat dzuhur, upahnya bisa Rp.100.000 Ada juga yang lebih. Tak ada jumlah pasti memang penentuan harga untuk disamaratakan upah Anangghâlâ di Madura. Karena itu tergantung kebiasan atau kaprah tidaknya. Namun yang pasti, upah yang didapat itu disisakan untuk perawatan sapinya.

Baca Juga:  Meredam Polemik Hilangnya Madrasah dalam RUU Sisdiknas

Sayang seribu sayang, anangghâlâ ngangghui sape di Madura sudah jarang ditemukan. Hal ini terjadi karena Traktor sudah mudah dibeli dan dianggap lebih cepat pengerjaannya. Padahal, secara harga atau upah yang harus dikeluarkan pihak yang menyewa jasa nangghâlân ini lebih murah yang memakai sapi.

Oleh karena itu, mari, anangghâlâ ngangghui sape ini jangan sampai hilang ditelan kemajuan zaman. Setidaknya, kita menghargai warisan leluhur. Mesin dipakai, tapi angghâlâ ngangghui sape juga dilestarikan.

Tulisan ini hanya refleksi pada apa yang penulis lihat di sekitar rumah. Selebihnya, mau menggunakan mesin traktor atau ngangghui sape untuk membajak sawah terserah. Atau, masihkah pembaca khusunya yang kuliah jurusan Pertanian sudi bertani? Ah, semoga masih mengerti betapa mulianya menjadi petani dan menjaga warisan leluhur.

Gafur Abdullah, Ketua LSO Jurnalistik dan Literasi PC PMII Pamekasan. Perintis program literasi One Day One Paper di SMK Sumber Bungur Pakong Pamekasan.

WhatsApp chat