Etika Dakwah Wali Songo

  • Bagikan

Judul Buku: Atlas Wali Songo
Penulis: Agus Sunyoto
Penerbit: Pustaka IIMaN
Cetakan: VII Januari 2018
Tebal: 486 halaman
ISBN: 978-602-8648-18-9
Peresensi: Ashimuddin Musa*

Membayangkan Agama Islam pada waktu di mana krisis pengikut masih dominan, orang-orang begitu memimpikan agar agama Islam terus berkembang. Segala usaha mereka perjuangkan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat yang belum masuk Islam. Mereka berdakwah ke berbagai belahan dunia. Prinsip utama dari dakwah mereka adalah menyampaikan pesan Ilahi dengan berbagai metode. Baik dengan pembacaan literal, seperti diutusnya Muadz bin Jabal atau para sahabat yang lain oleh Rasulullah ke berbagai daerah untuk memberikan pengajaran Islam seperti mengajarkan Alquran, tatacara shalat dan lain-lainnya.

Rata-rata, dalam memberikan pelajaran, mereka menjauhkan diri dari sikap kasar. Hal yang paling substantif dari Islam tentu saja mereka prioritaskan. Banyak sejarah yang mendokumentasikan terkait perjalanan dakwah, tidak sedikit yang mengatakan bahwa perjalanan dakwah dilakukan dengan cara damai dan penuh keteladanan moral. Nabi Muhammad Saw pun dilarang melakukan pemaksaan atas pengakuan kebenaran terhadap risalah-Nya. Tugas beliau hanya menyebarkan risalah-Nya. Implikasi dari penyampaian ayat-ayat-Nya di luar wewenang Nabi, melainkan merupakan wewenang dari Allah SWT (QS. Ar-Ra’du (13): 40).

Kemudian, etika dakwah yang demikian itu terus dikembangkan oleh generasi setelahnya. Mulai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga masa tabi’in atau bahkan tabi’ al-tabi’in. Sebagaimana anda saksikan saat ini, Islam jelas sekali dicintai dan pengikutnya terus bertambah banyak. Pada gilirannya, Islam dengan ajaran yang ramah seperti ditonjolkan oleh para sahabat Nabi hingga masa tabi’ al-tabi’in mampu membuat orang-orang yakin bahwa inilah agama yang benar. Islam dengan konsep rahmatan lilalamin tersebut menjadikan orang-orang betul-betul yakin.

Ketika Islam sampai ke bumi Nusantara, seperti tegas Agus Sunyoto, penulis buku ini, tidak ada perbedaan yang signifikan dengan dakwah Rasulullah. Ajaran Islam yang ramah itu tetap dilestarikan. Mereka menghargai budaya setempat dengan tidak menganggap bahwa segala tradisi yang ada adalah sebagai sesuatu yang sesat, sirik dan bid’ah, justru mereka menjadikannya sebagai instrumen penyebaran agama Islam.

Baca Juga:  Selamatkan Islam dari Ketertinggalan

Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto adalah buku pertama yang mengungkap Wali Songo sebagai fakta sejarah. Di dalamnya diuraikan bukti-bukti faktual terkait sejarah berkembangnya Islam di Nusantara dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian. Melalui proses jangka panjang akhirnya buku ini diterbitkan oleh penerbit pustaka IIMaN bekerjasama dengan LESBUMI PBNU, yang saat ini sudah memasuki cetakan ke viii.

Agus Sunyoto dalam buku ini memberikan peta perjalanan para pendakwah Islam yang dibawa oleh kaum muslimin dari Arab, India dan China melalui kontak perdagangan. Dari sini, para pedagang muslim, selain ada tujuan untuk berdagang ke kawasan Asia Tenggara, mereka juga memiliki gairah (spirit) serta komitmen yang kuat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan keteladanan moral, kasih sayang, kedermawanan, toleransi, pendekatan persuasif, dan penampilan karamah-karamah (hlm. 47).

Dengan keteladanan moral, di samping karamah-karamah yang dimilikinya, menjadikan Islam begitu melekat dalam kehidupan penduduk Nusantara yang sudah mengalami proses Indianisasi. Islam yang berkembang di Indonesia saat ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran mereka (para wali).

Kita sebagai bangsa yang besar memiliki cerita-cerita yang tidak kalah besar pula. Teringat pada tulisan Radhar Panca Dahana, di Kompas, menulis “apabila sejarah secara umum dipahami sebagai pengetahuan atau studi tentang masa lalu sebagaimana digambarkan pelbagai bentuk tulisan, jangan-jangan negeri kita tercinta ini tumbuh dan berkembang tanpa (kebutuhan akan) sejarah…”. Tulisan Radhar ini menegaskan akan pentingnya sejarah. Bangsa tanpa sejarah akan mudah digilas oleh sejarah, karena sejarah material yang konon valid dan absah, tetapi ternyata dengan mudah dibelokkan, dimanipulasi, bahkan direkayasa penuh tipu.

Baca Juga:  Wabup Banyuwangi Apresiasi Grebeg Tumpeng Pekulo

Sudah seyogyanya ada bentuk penyelamatan pada sejarah dalam bentuk tulisan, agar tidak hanya menggunakan sejarah buatan orang luar, yang terkadang sarat kepentingan ideologis, sehingga kita bisa keliru melihat diri sendiri, bangsa dan bahkan agama. Hal seperti inilah yang kemudian memberikan spirit Sunyoto menulis dan menyelesaikan penelitiannya yang amat berat ini.

Keberadaan Wali Songo dan para penguasa pesisir Utara Jawa yang muslim, tegas Sunyoto, tidak bisa diabaikan begitu saja dari proses masuknya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan penduduk Majapahit yang sudah berpecah belah dalam konflik itu. Artinya, berkat perjuangan para wali yang dengan gigih dan talaten menanamkan nilai-nilai keislaman yang dikembangkan di era akhir Majapahit berdasarkan azaz keseimbangan dan keselarasan mampu membentuk karakter masyarakat yang Islami. Nilai-nilai keislaman oleh para wali diadopsi dari sumber primer Islam -Alquran dan Hadis- sehingga dengan demikian Islam dapat berjalan dengan damai tanpa intimidasi apalagi penuh paksaan (hlm. 446).

Membaca buku Atlas Wali Songo menarik untuk dipertimbangkan antara lain karena buku ini merekam beberapa data mulai dari sejarah Islam yang diklaim bermula dari tiga unsur pokok, yaitu Arab, India dan China, ke Nusantara: sekarang Indonesia. Dengan kemampuan menyajikan informasi faktual seputar strategi dakwah para wali menjadikan buku ini semakin melengkapi koleksi sejarah yang mau dihilangkan itu.

*Pengurus PAC GP Ansor Pragaan Sumenep dan mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • Bagikan
WhatsApp chat