Jatuh Cinta pada Keelokan Matematika

Oleh: Teguh Wibowo*)

Pencapaian Sutarto Hadi sebagai rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) semakin prestise setelah menerbitkan buku Membingkai Bayang-Bayang (MBB). Buku ini melengkapi perjalanan penulis sejak tumbuh dan berkembang di dunia pendidikan.

MBB merupakan buku tentang catatan impian dan gagasan dalam arti sesungguhnya. Buku ini juga mendeskripsikan liku-liku perjuangan karier Sutarto Hadi, sejak menjadi guru, guru besar, hingga pemimpin perguruan tinggi. Sekaligus tumpahan pikiran (uneg-uneg) sebagai dosen.
Buku MBB terdiri atas enam bab. Bab satu dan dua tentang proses kreatif Sutarto Hadi menggapai asa dan cita-cita, serta melanjutkan studi ke luar negeri. Bab tiga tentang seni pembelajaran matematika. Bab empat tentang penjelajahan dan pengalaman penulis di berbagai negara. Bab lima tentang membingkai impian ULM. Bab enam seputar paradigma di dunia pendidikan.

Spirit Kepemimpinan dan Pengabdian

Sutarto Hadi berhasil menjadi guru besar termuda di ULM dalam usia 41 tahun dan menjadi wakil rektor pada tahun 2010. Ia juga terpilih menjadi rektor ULM dalam dua periode pemilihan, yakni 2014-2018 dan 2018-2022.

Empat tahun pertama menakhodai ULM, sivitas akademika ULM berhasil menorehkan banyak kemajuan. Terjadi perubahan atmosfer akademik yang semakin baik. Lonjakan jumlah dosen bergelar doktor kian drastis. Program studi yang terakreditasi A semakin banyak. Publikasi dan inovasi terus digenjot. Jumlah profesor juga melimpah. Anggaran dikelola kian transparan dan tersistem akuntabel (hal 22-23).

Setelah tamat program S3 di Negeri Belanda, Sutarto Hadi terlibat dalam proyek pengembangan dan diseminasi pendidikan Matematika Realistik. Proyeknya disebut Do-PMRI (dissemination of PMRI—Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Program ini banyak membantu meningkatkan mutu pendidikan Matematika di Indonesia.

Cinta Matematika

Keprihatinan terhadap mutu pembelajaran Matematika di Tanah Air, mendorong Sutarto Hadi untuk fokus riset. Ia meyakini bahwa perbaikan mutu pendidikan harus dimulai dengan pengayaan dan peningkatan mutu, serta profesionalisme guru.

Matematika seperti momok atau hantu. Nilai dan prestasi siswa cenderung jeblok. Maka perlu dicari pendekatan pembelajalaran yang pas, terutama mereduksi sifat abstrak Matematika. Tujuannya agar anak terdorong untuk berkembang secara konsisten dan memahami konsep Matematika secara bermakna.

Baca Juga:  Jago Pencitraan, Bupati Pamekasan Abaikan Warga Miskin

Untuk sampai jatuh cinta pada Matematika, kita harus mengenal cara mengajarnya terlebih dahulu. Pengajaran dalam arti menyentuh hati, dapat dibayangkan, serta transparan. Pendidikan bukan saja menyentuh ranah fisik, tetapi semestinya menyentuh ranah jiwa sebagaimana dua sejoli memadukan cinta (hal 91).

Matematika harus didekati dengan cara yang berbeda. Matematika mesti bisa dibayangkan. Bagaimana cara membingkai bayang-bayang itu? Realistik tidak harus sesuatu yang nyata, tetapi dapat berupa cerita rekaan yang bisa memicu murid melakukan eksplorasi untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi (hal 103).

Pembelajaran disebut menarik dan bermakna jika ia mengundang antusiasme siswa, membangun totalitas dalam beraktivitas, meliputi olah pikir, hati, jiwa dan raga yang menggugah kekuatan batin, intelek, dan fisik untuk Indonesia Raya.

Paradigma Seorang Pembelajar

Sutarto Hadi menegaskan, di bidang pendidikan kita tidak harus selalu berkiblat belajar ke Barat, akan tetapi di Timur iptek telah berkembang pesat. Termasuk ide mengundang rektor atau dosen asing untuk mengajar di Indonesia yang sempat menimbulkan kontroversi—menurutnya, kehadiran mereka tidak seharusnya disikapi secara emosional.

Dosen sebagai tenaga profesional dapat mengajar lintas negara dan lintas agama. Justru dengan semakin kuatnya tenaga dosen dan peneliti, universitas akan melahirkan inovasi yang memberikan keunggulan kepada universitas tersebut. Negara juga akan memperoleh keuntungan besar dengan penemuan iptek (hal 178-179).

Sutarto Hadi juga menyoroti fenomena kemunduran bangsa Indonesia yang kalah bersaing dengan negara lain. Pertama, kurang berhasilnya pendidikan menyebabkan kita tidak bisa menyediakan SDM yang memiliki keterampilan memadai. Kedua, pemerintah lamban menyediakan lapangan kerja bagi rakyat (hal 308).

Filosofi “Membingkai Bayang-Bayang”

ULM lahir dari rahim pejuang yang tergabung dalam Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan. ULM yang berlokasi di Kalimantan Selatan, mewarisi semangat Pangeran Antasari dengan semboyan Haram Manyarah Waja Sampai Keputing (semangat pantang menyerah dari awal sampai akhir).

Baca Juga:  Demokrasi dalam Perspektif Islam

ULM berkomitmen menjadi perguruan tinggi unggul. Harapan itu mungkin dulu sekadar angan-angan, kemudian menjadi bayang-bayang, dan saat ini bayang-bayang tersebut semakin nyata. Pada Selasa, 19 Maret 2019, ULM mendapat Akreditasi A dari BAN PT.

Kelebihan buku MBB, tema dan pembahasan sangat komprehensif. Buku ini amat berarti, bisa menjadi inspirasi para mahasiswa Indonesia untuk menyongsong masa depan gemilang. Buku berukuran 15×22 cm, cukup tebal dan berbobot, dilengkapi foto-foto pendukung teks.

Kaver buku menampilkan sosok Sutarto Hadi dengan ekspresi kedua tangan mengepal dan senyum lebar, pertanda optimis. Ini juga menandakan spirit dan tindakan nyata dengan kerja tulus, ikhlas, dan penuh tanggung jawab. Uniknya, konsep buku ini mirip autobiografi penulisnya sendiri.

Kekurangan buku MBB, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang panjang, butuh waktu ekstra untuk memperdalam maknanya. Penyusunan bab dan sub-bab masih kurang padu. Buku ini akan semakin bagus jika dilengkapi indeks dan glosarium.

Melalui buku ini Sutarto Hadi secara khusus memang mengelu-elukan ULM, tetapi secara umum buku ini dapat diaplikasikan oleh para pegiat pendidikan. Buku ini mendapat sambutan dari Menristekdikti, Mohamad Nasir. Beliau berujar, “Setinggi-tingginya pendidikan yang diperoleh tetaplah harus bekerja keras dan berjuang.”

Sutarto Hadi mengusung spirit keilmuan, kepemimpinan, dan peradaban. Jiwa pembelajar yang ulet, rajin, dan pantang menyerah. Membawa perubahan berarti. Mengkritik tanpa mencela. Melalui buku MBB, ia memberi gagasan yang membangun atas beragam problematika bangsa ini. (*)

DATA BUKU

Judul: Membingkai Bayang-Bayang
Penulis: Sutarto Hadi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2019
Tebal: xxii + 370 halaman
ISBN: 978-602-04-9928-4

*) Mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Widya Darma Surabaya semester 3. Koordinator Divisi Karya di Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur. Seorang pembaca dan peresensi buku, penulis lepas, dan pegiat literasi.

WhatsApp chat