Tak Kenal Basi

  • Bagikan

Judul: Sunset & Rosie
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka Publishing
Cetak XXII: 2018
Tebal: vi + 426 hal; 13,5 x 20.5 cm
ISBN: 978-602-98883-6-2
Peresensi: Rosy Nursita Anggraini*

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti suatu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan (hlm 47).

Helaan napas tertahan, tercekat, seperti petir yang menyambar ketika Nathan mengutarakan isi hatinya kepada Rosie di puncak gunung rinjani. Lebih membakar hati tatkala Rosie tidak memahami perasaannya selama ini, mengiyakan Nathan begitu saja. Sebenarnya Tegar yang akan mengatakan itu, Tegar yang menyusun rencana pendakian ini, dan Tegar pula yang mengenalkan Nathan pada Rosie dua bulan sebelum pendakian. Tapi Tegar hanya bisa mencuri padang dari balik rerumputan, menikmati pemandangan dengan penuh kesakitan, membalik badan, dan menuruni rinjani dengan cepat. Secepat dia memendam puing-puing perasaannya pada Rosie yang telah terbangun 20 tahun lalu.

Peristiwa itu tersimpan rapi dalam memori, mencekam malam-malam panjang Tegar hampir 5 tahun lamanya. Hingga dia tidak dapat di hubungi siapapun, termasuk Oma yang telah membesarkannya, tempat Tegar mencurahkan isi hatinya, setelah kedua orang tuanya tiada. Tegar berniat benar-benar mengubur kenangan itu, terlebih tatkala kabar pernikahan Nathan dan Rosie masuk ke telinganya. Tegar menenggelamkan diri ke dalam dunia kerja, wokerholic di salah satu perusahan di Ibu kota negara. Dengan harapan kenangan-kenangan itu mampu terusir dari kehidupan.

Baca Juga:  Ramadhan Berbagi, Musisi Muncar Santuni Yatim Piatu

Semua terbuncah begitu saja, tak terduga sebelumnya, Nathan dan Rosie berkunjung ke apartemen Tegar. Dengan membawa Anggrek dan Sakura, buah hati mereka berdua. Seakan tersambar petir. Tapi apa daya, rasa itu telah menjadi masa lalu. Dan kini saatnya bagi Tegar untuk berdamai dengan masa lalu itu, memaafkan bukan berarti melupakan.

Hampir semua luka tertutup tatkala Sekar hadir dalam kehidupan Tegar dan memaklumi masa lalu itu, maklum Sekar pada Tegar “Cinta yang teramat besar, meski tak pernah terucap” (hlm 52). Bahkan mereka telah merajut rencana hidup bersama.

Kebersamaan yang singkat, kebersamaan mereka terpecahkan oleh bom Jimbaran. Keluarga Rosie dan Nathan turut porak-poranda. Nathan tewas, Sakura luka cukup parah, sedangkan Rosie, Anggrek, Jasmin, dan Lili selamat. Tergugah hati Tegar untuk kembali ke Jimbaran. Mengorbankan pertunangannya dengan Sekar. Sayangnya setelah beberapa hari pemakaman Nathan, Rosie mengalami depresi berat. Dan harus di rawat di luar kediaman mereka. Shelter Ayasa tepatnya. Selama dua tahun. Itu berarti selama dua tahun Tegar menangguhkan waktu untuk mengucapkan janji suci hidup bersama Sekar. Demi mengurus anak-anak Rosie yang sudah di anggap seperti anak sendiri. Tegar rela resign dari tempat kerja di Jakarta untuk hal ini.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak tumbuh dengan baik. Memahami keadaan dengan lebih baik. Bahkan keingin tahuan mereka tentang kisah-kisah keluarga mereka semakin kuat.

Enam bulan sebelum Rosie pulang dari shelter, Rosie sempat kumat. Mengamuk, menyeret Lili yang sedang menjenguk dengan Tegar dan Kakak-kakanya yang lain, bahkan Lili sempat di cengkeram kerah bajunya. Untung waktu itu usia Lili sudah 2 tahun, tulangnya sudah lebih kuat, setahun lebih lebih kuat dari usianya ketika Rosie masuk shelter. Rosie juga mencoba melakukan bunuh diri dari atas shelter.

Baca Juga:  Islamatika

Tidak tanggung-tanggung, Tegar yang mengetahui hal tersebut mencoba membujuk Rosie. Dengan kata-kata peneguh hati untuk Rosie, meneguhkan kalau dia masih banyak yang menyayangi punya banyak kesempatan untuk hidup lebih baik, kata-kata Tegar yang meluncur bebas dari mulutnya. Termasuk rentetan peristiwa masa lalu, perihal perasaan. Masa pilu Tegar. Kisah cinta itu terbongkar. Di dengar baik oleh anak-anak. Terjawab sudah rasa kepo mereka. Berangsur keadaan jiwa Rosie membaik. Hingga enam bulan kemudian Rosie boleh di pulang.

Linda, dulu sekretaris Tegar yang juga sepupu Sekar. Mengamati dari jauh berbagai aktivitas Tegar, Rosie, dan anak-anaknya di pinggir pantai Giri Trawangan. Sekali, dua kali Linda menyapa.

Dan semua kata-kata Linda keluar deras saat resital biola Sakura berlangsung. Linda menceritakan semuanya, perasaan Sekar di dua tahun terakhir, tatapan Rosie kepada Tegar yang tak biasa, hingga pertunangan Sekar dengan pria lain besok.

Pertunangan dibatalkan. Namun, pelaksanaan pernikahan tidak dibatalkan. Hanya pengantin prianya saja yang berganti. Tegar.

Di hari yang telah ditentukan, Tegar dan Sekar memasuki ruang pernikahan. Rosie dan anak-anaknyapun hadir. Sesampai di tengah ruangan, tiba-tiba, Lili, turun dan memegang celana Tegar. Lili yang selama ini belum pernah berbicara dengan siapapun, kini mulai bersuara, sambil menangis bak tidak mau kehilangan sesuatu.

Seketika, kenagan 20 tahun silam, kenangan tinggal di Gili Trawangan dua tahun silam mulai berseliweran di benak Tegar dan Rosie. Sedangkan Sekar yang kini mulai mempertimbangkan banyak hal. Dengan cepat Sekar membatalkan pernikahan. Sungguh rentetan peristiwa yang tidak menguak banyak kata untuk mendefinisikan cinta yang tak biasa.

*) Peresensi adalah Mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Ilmu Administrasi di Universitas Brawijaya Malang.

  • Bagikan
WhatsApp chat