Sejauh Mana Jawa Timur Wujudkan Swasembada Gula Nasional 2019?

  • Bagikan

Oleh: Ainun Khabibah*

Gula merupakan salah satu komoditi yang sangat penting bagi masyarakat. Tetapi kebutuhan gula domestik belum bisa dipenuhi dengan gula produksi sendiri. Padahal Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Sadikun, mengatakan bahwa pada zaman kolonial Belanda dekade 1930-an, Indonesia pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua dunia setelah Kuba. Kondisi sekarang jauh dari prestasi masa lampau. Indonesai kini berbalik menjadi importir gula dan bahkan produksinya berada dibawah beberapa negara seperti Vietnam, Thailand bahkan Malaysia. Lalu bisakah kita mencapai kembali prestasi yang dulu?

Ketersediaan gula sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tanaman tebu sebagai penghasil gula. peningkatan produksi dan produktivitas tanaman tebu penting untuk memenuhi kebutuhan gula domestik maupun sebagai komoditas ekspor. Oleh karena itu, peningkatan produksi dan produktivitas tebu menjadi sasaran perkebunan di beberapa wilayah di Indonesia. Jawa Timur sebagai salah satu penyumbang gula terbesar (49,14%), dibutuhkan peranannya dalam rangka memenuhi kebutuhan penyediaan produksi gula (Pertanian 2016).

Berdasarkan data luas lahan perkebunan tebu tahun 2006-2019 Provinsi Jawa Timur menunjukkan adanya situasi yang berfluktuasi. Luas lahan terendah yaitu pada tahun 2006 sebesar 173829 m2, kemudian mengalami peningkatan hingga mencapai angka tertinggi pada tahun 2014, yaitu sebesar 218706 m2 walaupun pada tahun 2009 sempat mengalami penurunan menjadi 186026 m2. Setelah mencapai angka tertinggi pada tahun 2014, pada tahun 2015 luas lahan perkebunan tebu justru jatuh hingga mendekati angka di tahun 2006. Tetapi mulai meningkat kembali pada tahun selanjutnya hingga saat ini. Namun sekali lagi, peningkatan luas lahan tebu tidak selalu terjadi pada setiap tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan luas area lahan tebu masih labil.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Probolinggo, petani dihadang oleh beberapa permasalahan mendasar dalam menggarap lahan tebu antara lain ketersediaan bibit tanaman, ketersediaan pupuk bersubsidi, kredit pertanian, dan tata niaga gula sehingga menyebabkan mereka beralih menanam komoditas lain. Ditambah dengan pernyataaan dari Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang mengatakan, “Kurangnya minat petani menanam tebu menjadi salah satu penyebab menurunnya area lahan tebu di Indonesia,” di Jakarta, Jumat (30/3/2018).

Baca Juga:  Menolak Doa

Bagaimana dengan produksi tebu di jawa timur? Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Produksi Tebu di Jawa Timur mencapai angka tertinggi pada nilai 1287871 ton tahun 2017. Sedangkan angka terendah yaitu sebesar 1010447 ton pada tahun 2012. berdasarkan luas lahan areal tebu tertinggi yaitu pada tahun 2014, produksi tebu pada tahun tersebut hanya mencapai 1260632 ton yang tidak terlalu jauh berbeda dengan produksi tebu tahun 2017.

Produksi tebu dipengaruhi oleh jenis tanah, iklim, dan tindakan budidaya. Salah satu faktor yang tidak bisa dimanipulasi yaitu faktor iklim. Ketika hujan terlambat turun, tanaman tebu menjadi kekeringan dan pertumbuhannya menjadi lambat (ruas-ruas tebu pendek),sehingga TCH (Toncane/ha) rendah saat dipanen. Ketika hujan masih turun saat musim panen tebu, menyebabkan rendemen giling menurun dan tidak semua tebu tebang dapat diangkut karena mobilitas kendaraan angkut yang sulit pada kondisi tanah yang becek, sehingga TSH dan kapasitas giling (TCD: Tonecane/Day) menurun. Selain itu, penggunaan mesin tebang tebu juga bisa menurun karena kondisi tanah yang becek. Fenomena anomali iklim yang juga berpengaruh terhadap produktifitas tebu adalah fenomena El Nino dan La Nina. El Nino menyebabkan kekeringan pade fase vegetatif tebu, sehingga memperlambat pertumbuhannya. Sedangkan La Nina yang terjadi pada fase generatif tebu menyebabkan pertumbuhan tebu terus berlangsung dan tidak ada kesempatan dalam proses pemasakan tanaman tebu.

Menurut Senior Advisor AGI, Yadi Supriyadi , penurunan produksi karena faktor minat petani untuk menanam tebu berkurang. Hal ini merupakan dampak dari harga lelang gula yang rendah. Data harga lelang, pada Januari 2014 harga gula sempat mencapai Rp 8.629/kg, tapi terus menurut menjadi Rp 8.025/kg. Bahkan November-Desember 2014 harga gula makin merosot.

Baca Juga:  Siapa (Berada) di Balik Tanda Tangan Bupati?

“Dengan harga lelang yang rendah ini, tentu saja akan menurunkan minat petani untuk kembali menanam tebu,” tambahnya. Selain iklim dan minat petani, hama pada tanaman tebu dapat menyebabkan penurunan produksi gula sekitar 10%.

Apa yang sudah dilakukan? Dinas perkebunan Provinsi Jawa Timur telah berupaya dalam peningkatan produksi dan produktivitas tebu dengan menerapkan Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional sejak tahun 2001. Program ini dijalankan dengan cara mengubah bibit tebu varietas lama dengan bibit tebu varietas unggulan. Tentu saja, upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri tanpa adanya kontribusi dari BUMN sebagai penyedia dana. BUMN memfasilitasi pengadaan pupuk non subsidi, melakukan supervisi bahkan meningkakan komunikasi dengan petani tebu serta membuat kontrak giling bagi petani tebu. Selain itu, Kementan melalui Ditjen Perkebunan melaksanakan sejumlah strategi antara lain: Pemantapan areal, dilakukan dengan mengembangkan strategi regrouping lahan sehingga petani tidak lagi berjalan sendirian. Lahan petani yang tidak terlalu luas dan berdekatan akan dikelola secara bersama dalam satu koordinasi, yaitu petani, provider, dan pabrik gula. Rehabilitasi tanaman dilakukan dengan mendukung program mekanisasi di lahan tebu rakyat. Bantuan mekanisme berupa pemberian mesin pengolahan tebu, mesin muat tebu, alat pemupukan, mesing tebing tebu, alat angkut tebu (dump truck), serta cane thumper dan mini harvester. Penyediaan agro input berupa pupuk dan benih unggul, dengan program bongkar ratoon, penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan produktivitas lahan melalui penerapan standar teknis budidaya dan manajemen Tebang Muat dan Angkut (TMA), antisipasi perubahan iklim, dan penetapan harga.

*) Penulis adalah mahasiswa Politeknik Statistika STIS Prodi Statistika, Jakarta.

  • Bagikan
WhatsApp chat