Menakar Masa Depan Lembaga Pendidikan NU

  • Bagikan

Oleh: Firman Syah Ali*

Sejak awal berdiri, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki perhatian yang sangat serius terhadap perkembangan pendidikan Islam di Hindia Belanda. Itulah sebabnya, hingga kini NU memiliki aset ribuan lembaga pendidikan, dari tingkat paling Dasar sampai perguruan tinggi. NU dikenal memiliki jaringan lembaga pendidikan pesantren yang sangat luas, begitupun jaringan pendidikan NU di luar pesantren.

Dengan demikian tidak diragukan lagi NU konkret membantu dan meringankan tugas pemerintah di bidang pendidikan. Jika pendidikan sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, pasti instansi pemerintah yang menangani pendidikan kewalahan. Pada konteks inilah, NU sebagai bagian dari civil society ikut menyukseskan tumbuh dan berkembangnya pendidikan nasional Indonesia.

Secara empiris, kontribusi NU terhadap negara dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari tiga fakta berikut. Pertama, NU mengimplementasikan paradigma inklu­sif. Di lingkungan pesantren atau lembaga pendidikan NU di luar pesantren, perjumpaan lintas SARA berupa pertukaran pelajar dan kunjungan dari/ke komunitas agama lain menjadi fenomena yang lazim terjadi. NU melakukan internalisasi doktrin islam sebagai agama kasih sayang, sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Bahkan NU memberi kesempatan kepada guru dan siswa-siswi nonmuslim untuk mengajar dan bersekolah di lembaga pendidikan NU. Ini semua meningkatkan public awareness terhadap Islam di kalangan nonmuslim. Sila ketiga Pancasila terlaksana dengan baik.

Baca Juga:  Omnibus Law: Cipta Lapangan Kerja atau Cipta Lapangan Penguasa?

Kedua, orientasi pendidikan yang dikembangkan NU selalu sinergis dengan misi pendidikan nasional yang dicanangkan pemerintah. Berkaitan dengan ideologi, misalnya, bahwa pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU tidak mengajarkan radikalisme, aktif merayakan hari-hari besar Nasional, aktif menyelenggarakan upacara bendera sebagaimana sekolah negeri, aktif mendorong siswa untuk aktif gerakan pramuka, mendorong mahasiswa aktif kegiatan-kegiatan bela negara seperti Resimen Mahasiswa dll.

Ketiga, pendidikan NU telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan bangsa, sejak pra kemerdekaan sampai sekarang. KH Abdurrahman Wahid, KH Ma’ruf Amin, Prof Mahfud MD adalah contoh produk lembaga pendidikan NU yang berhasil menjadi pejabat tinggi negara sekaligus pejuang persatuan bangsa.

Lembaga pendidikan NU terdiri dari lembaga pendidikan NU yang ada di dalam lingkungan pondok pesantren dan lembaga pendidikan NU yang ada di luar pondok pesantren. Itupun masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu lembaga pendidikan NU struktural, artinya punya ikatan struktural dengan Pengurus NU dalam berbagai tingkatan, dan lembaga pendidikan NU kultural, yaitu lembaga pendidikan berhaluan NU namun tidak memiliki ikatan struktural dengan Pengurus NU dalam berbagai tingkatan.

Semua lembaga pendidikan NU tersebut, baik intra pesantren maupun ekstra pesantren, intra LP Maarif maupun extra LP Maarif, telah menjalani sejarah panjang, makan asam garam dan lahit getirnya pembangunan Sumber Daya Manusia NKRI.

Baca Juga:  Kiai Muqit, Faida, dan Politik Santri

Baru-baru ini ada dua kebijakan pemerintah yang telah membuka lebar-lebar pintu gerbang kejayaan lembaga-lembaga pendidikan NU. Kebijakan pertama adalah sistem zonasi yang menghapus secara tegas dan revolusioner segala bentuk kapitalisme pendidikan. Sekolah-sekolah negeri yang favorit mengalami sakaratul maut di tangan Mendikbud Muhadjir Efendie. Secara implisit Mendikbud Muhadjir Efendie mengatakan “kalau kalian ingin sekolah favorit, jangan di sekolah negeri, tapi carilah sekolah swasta”. Nah bicara sekolah swasta, NU-lah raksasa pendidikan swasta itu. NU telah siap membangun sekolah-sekolah favorit untuk mencetak putra-putra terbaik bangsa dan negara Indonesia.

Kebijakan kedua adalah UU Pesantren. Kalau kebijakan sistem zonasi selain menguntungkan NU juga menguntungkan ormas selain NU, maka UU Pesantren sangat khusus menguntungkan dunia pendidikan NU. Semua pasal dan ayat dalam UU Pesantren merupakan berkah yang tiada terkira bagi dunia pendidikan NU.

Habis gelap terbitlah terang, semoga nilai-nilai Aswaja Nusantara dab misi Islam rahmatan lil alamin yang sejuk dab toleran semakin cemerlang di bumi Indonesia.

*) Penulis adalah Pengurus Harian LP Maarif NU Jawa Timur.

  • Bagikan
WhatsApp chat