PERIODE II

Kejayaan Tembakau Harus Dibangkitkan Kembali

Media Jatim

MediaJatim.com – Jember dikenal sebagai kota tembakau. Identitas ini bukan sekadar isapan jempol. Sejak zaman penjajahan, Jember populer sebagai daerah pengahasil tembakau dan kopi bermutu tinggi. Daun tembakau yang menjadi logo pemerintah Kabupaten Jember merupakan pengakuan bahwa Jember memang penghasil tembakau papan atas. Tembakau dielu-elukan sebagai tanaman berdaun emas. Ini karena petani yang sukses menanam tembakau, biasanya langsung memborong perhiasan emas.

Salinan dari Display Hari Bhayangkara'24_20240724_133806_0000
14_20240724_133640_0001

“Sewaktu saya masih remaja, tembakau betul-betul menjadi tanaman favorit petani Jember karena saat itu harganya memang oke,” ucap tokoh NU asal Jember, H Badri Hamidi.

Baca Juga:  Lucu! RKPDes Belum Dibuat, Dana Covid-19 Desa Curah Jeruh Sudah Cair

Namun masa-masa indah petani tembakau, tampaknya sudah berlalu. Seiring berjalannya waktu, harga tembakau terus menurun, meskipun sesekali tinggi. Kedigdayaan tembakau sebagai tanaman favorit mencapai klimaks. Banyak petani kolaps gara-gara rugi menanam tembakau, khususnya tembakau jenis Na-oogst, lantaran harganya murah. Sehingga muncullah kata-kata ‘tembakau berdaun emas tapi berbuah sengsara’.

“Harus diupayakan agar tembakau berjaya kembali di Jember, bagaimanapun caranya, Pemkab Jember mesti punya cara, para Cabub juga” lanjut H Badri optimis.

Optimisme H Badri tampaknya selaras dengan ‘perasaan’ petani Jember. Buktinya, sebagian petani Jember masih belum jera untuk menanam tembakau Na-oogst. Mereka berharap kejayaan tembakau terulang kembali saat ini dan ke depan. Katanya, tembakau sebagai komoditas yang identik dengan Jember, tidak boleh tenggelam, namun harus dibangkitkan menuju kejayaannya seperti semula.

Baca Juga:  Dinsos P3A Sumenep Bakal Pakai DBHCHT Rp 2,8 Miliar untuk BLT Buruh Tani dan Pabrik Rokok

“Saya rasa petani Jember siap mengulangi masa keemasan tembakau. Syaratnya petani harus untung. Bukan hanya pengusaha yang dapat untung, sedangkan petani malah buntung,” pungkasnya.

Reporter: Aryudi A Razaq

Redaktur: A6