Suka Duka Safari Kepulauan

  • Bagikan

Setelah 14 jam lebih mengarungi perjalanan laut, rombongan safari kepulauan bupati dan Forpimda Kabupaten Sumenep, tiba di pulau Masalembu. Termasuk kami, awak media, turut bersyukur: alhamdulillah sampai.

Mayoritas dari kami, ingin segera melepas penat. Misalnya, terlentang sejenak. Meredakan mabuk laut. Mandi bergiliran dan tiba di lokasi acara serah terima bantuan, di balai kecamatan Masalembu, tepat waktu.

Karena bagian dari rombongan, kami merasa berhak mendapat itu. Sesederhana apapun. Tapi kenyataan bicara lain. Hari pertama, kami bingung. Beruntung, hari kedua hingga jelang kembali, kami diselamatkan “orang lain”. Kata seorang kawan, dalam safari kepulauan ini, kami diajak eksekutif namun diayomi legislatif.

Saat KM Dharma Kencana IX tiba di pelabuhan Masalembu, seluruh rombongan, termasuk kami, disambut drumband pelajar dan seluruh pegawai satuan kerja pemerintah yang ditugaskan di Kecamatan setempat.

Dari atas kapal, kami melihat mobil dan sepeda motor berbaris rapi di pelabuhan. Kami merasa disambut baik. Suasana tampak meriah. Ramai. Hanya saja, sejak saat itu kekecewaan kami dimulai: kami terlalu banyak berharap.

Setelah turun dari kapal bersama rombongan lain, ternyata kami harus berjalan kaki. Cukup jauh. Nahasnya, dari puluhan mobil bagus yang ada di pelabuhan, tidak satupun untuk kami.

Diantara kami, untuk mengurangi silau panas matahari dan rasa kecewa, kami pura-pura mengambil gambar suasana pantai dan aktifitas pelabuhan yang kami lalui. Kami baru saja turun dari kapal. Malu rasanya jika tiba-tiba menunjukkan lunglai.

Usai lepas dari pelabuhan, kami mulai sadar. Kami layaknya anak ayam kehilangan induknya. Mayoritas dari kami, tidak mendapat arahan apapun: kemana, menaiki apa, lalu apa? Tidak ada.

Mulai saat itu, kami mulai berpencar. Diantara kami ada yang beruntung; berdesak-desakan diatas mobil pick up bersama Satpol PP. Yang gagal beruntung diantara kami, terus jalan kaki hingga tempat yang bisa dijangkau, sebelum kami ambruk.

Turun dari kapal, sesuai rundown acara, kami semestinya mengikuti ramah-tamah. Namun karena berpencar, kami tidak kompak makan bersama. Sebagian dari mereka, infonya gagal makan.

Usai makan, kami yang berpencar, sebisa mungkin mencari tempat menumpang. Sebab dari ploting lokasi untuk menginap, tidak ada untuk wartawan. Kami sempat bertanya pada panitia yang wira-wiri di tempat kami makan seadanya, jawab mereka, ploting tempat menginap untuk media akan menyesuaikan. Kami mulau bingung, kami anggap itu tidak jelas.

Untuk melepas penat, kami menyasar rumah warga terdekat. Sebagian dari kami, kompak ikut serta arahan salah satu wartawan senior. Tak lama, kami pun kembali berpindah ke rumah warga lain dengan alasan internet. Sekitar setengah jam kami melepas bingung, kami pun berangkat ke lokasi acara.

Kami berjalan kaki ke lokasi acara, menerobos panas matahari dan debu jalan kecamatan yang tidak beraspal. Bagi kami, ini adalah momen yang biasa. Sebagai awak media, kami musti tahan dengan itu. Hanya saja, sebagian dari kami nyeletuk: ini kita diundang kan?

Karena pertanyaan berisi kekesalan itu, kami semua yang berjalan kaki, diam. Tentu diam kami bukan karena sedang baik-baik saja. Saat itu, kekecewaan kami mulai menumpuk.

Singkat cerita, sejak hari Sabtu siang hingga Minggu pagi, Tuhan memberi kami keberuntungan dengan cara yang lain. Secara kebetulan, kepala desa Masalima berkenan menampung kami.

Sejak saat itu, kami dipermudah dalam beberapa urusan; transportasi, konsumsi dan koordinasi. Menjelang sore, kami disatukan di balai desa. Tempat itu, kami terima dengan baik.

Selanjutnya, semua berjalan lebih baik. Tapi kekecewaan kami, sengaja kami bawa pulang. Pertama untuk dikenang. Kedua, karena kami tidak menemukan penawar. Air laut di Masalembu tetap asin. Tidak ada yang tawar. Begitupun panitia acara.

Agar catatan ini happy ending, kami ingin berterima kasih pada kepala desa, keluarganya, dan warga Desa Masalima yang menampung kami. Bukan mereka yang mengundang kami. Tapi mereka yang peduli. Semoga Tuhan membalas lebih baik. Amin.

Kami bersaksi, kami dijamu dengan baik. Mulai dari beroko, nasi ikan besar hingga degan. Sampai-sampai, kami mudah mengantuk karena sering kekenyangan.

Terakhir. Dalam catatan ini, sengaja kami tidak tuturkan empat kepala OPD yang juga ikut safari kepulauan, diduga terlantar layaknya kami.

Terbukti, mereka datang ke tempat kami ditampung. Satu sama lain, diantara kami, termasuk kepala OPD, tak ada yang mengaku sedang terlantar.

Di bawah pohon mangga, kami lebih memilih untuk tertawa lepas. Meski semua bahagia, sambil kekenyangan, kami tetap menduga kepala OPD itu juga terlantar. Hanya saja kami, awak media, diam saja.

Baca Juga:  Mengeja Tri Motto PMII

Para OPD yang diduga terlantar, atau rombongan safari kepulauan yang terpaksa menginap di kapal karena tidak ada rumah singgah, kami tidak ingin menceritakan itu. Khawatir keliru.

Penutup. Seperti catatan sederhana lainnya, semua yang tertulis bersifat subjektif, sepihak. Namun catatan ini tidak mengesampingkan fakta, yang kadang masih diperbedatkan oleh orang lain karena tidak sepihak. Ini bentuk keberagaman. Wajar.


Masalembu, 2019

(Catatan ini ditulis oleh Nur Khalis, wartawan muda Kab. Sumenep)

  • Bagikan
WhatsApp chat