oleh

Menyambut Program Pamekasan Menulis

-Opini-105 views

Oleh: Gafur Abdullah*

Berawal dari sebuah obrolan di salah satu grup WhatsApp perkumpulan penulis yang sama sekali tidak formal, tapi sudah banyak yang terbaca di tingkat nasional, saya mendapati informasi bahwa pemerintah kabupaten Pamekasan akan launching Pamekasan Menulis. Kegiatan itu sudah dilaksanakan Senin (2/12/2019) malam.

Selamat Datang Program Literasi

Hebat. Itu kata yang terlintas sekilas mendengar Pemkab menelurkan program Pamekasan Menulis. Ya, sepertinya Pamekasan akan benar-benar Hebat. Satu sisi, saya dibuat semakin bangga dengan kota kelahiranku. Apa sebab? Dengan adanya program itu, penulis Pamekasan mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Tapi di sisi lain, saya dibuat heran, merasa lucu dan aneh sebenarnya mendengar itu. Karena menurut saya, sekalipun Pemkab tidak menyediakan itu, penulis di Pamekasan tetap semangat dalam berkarya. Dan, mohon maaf, beberapa tahun terakhir, semenjak kota Gerbang Salam ini dipimpin Ra Badrut mulai menunjukkan perhatiannya dan berjanji untuk memberikan honor kepada penulis yang karyanya dimuat di media. Janji itu terdengar manis dan menjadi angin segar untuk mengeringkan keringat penulis bercucuran setelah memeras segala kemampuan untuk menghasilkan karya. Entah realisasinya. Apakah manis campur kecut, atau manis campur pahit seperti kopi yang biasa disajikan di warung atau kafe-kafe. Atau seperti angin musim penghujan yang mendesir perlahan tapi tiba-tiba kencang sehingga menghempas penulis semakin jauh dari perhatiannya. Dalam hal Itu, masyarakat yang bisa menilai bahkan penulis yang sudah berkali-kali melekatkan karyanya di berbagai media. Saya berpikir positif saja, Pemkab Pamekasan betul-betul memperhatikan penulis Pamekasan ke depan.

Launching Program Tidak Menjamin Lahirnya Penulis

Karena mendapat undangan, saya upayakan hadir. Saya merasa mendapat kehormatan bisa diberikan kesempatan hadir di acara itu. Di sana, saya bertemu dengan puluhan pegiat literasi dari berbagai latar belakang.

Dalam kegiatan launching Pamekasan Menulis itu, panitia menyajikan rentetan acara. Penampilan seni musik tradisional, pembacaan sholawat, sambutan-sambutan, dialog dengan waktu yang sangat terbatas, dan makan-makan.

Jika memperhatikan secara detail pagelaran acara itu dan diperkuat sambutan dari Bupati dan pihak Radar Madura, sudah bisa ditebak bahwa dalam menjalankan program itu, Pamekasan menggandeng Radar Madura. Bupati menegaskan, program itu berorientasi untuk menjadikan Pamekasan sebagai kabupaten literasi di tahun 2022 mendatang. Saya mendukung penuh program tersebut. Tapi saya menyayangkan sambutan orang nomor satu di Pamekasan tersebut. Karena isi sambutannya didominasi curhatan masa lalunya soal bergabung dengan komunitas ini itu, temannya yang banyak jadi penulis. Ironisnya, Bupati menyinggung soal demontrasi atau aksi mengkritik pemerintah yang dianggap sudah bukan saatnya dilakukan saat ini dan komitmennya untuk menjamin di Pamekasan tidak ada jual beli jabatan. Menurut saya, pembicaraan soal mengkritik pemerintah dengan aksi atau demonstrasi itu jelas di luar konteks acara tersebut. Saya perhatikan, Bupati tidak menyebutkan nama-nama penulis yang asli Pamekasan. Padahal, penulis di Pamekasan sudah menjamur. Haruskah saya sebut? Tidak perlu. Sebab jika memang pemerintah menginginkan kabupaten Pamekasan menjadi kabupaten literasi, sudah semestinya mendata penulis yang karyanya sudah berseliweran di mana-mana.

Selain itu, dalam acara tersebut, panitia memberikan kejutan atau disebut prank oleh hadirin, yakni merayakan Hari Ulang Tahun Ra Badrut yang ke 43. Saya bangga bisa menyaksikan perayaan Hari Ulang Tahun Pak Bupati. Yang seumur hidup baru tadi malam saya menyaksikan perayaan Mulang Aré Pejabat dan turut merayakan dari kursi paling belakang walaupun sekadar tepuk tangan. Selamat ulang tahun Pak Bupatiku. Barokallah. Semoga diberikan kesehatan sehingga bisa terus memberikan yang terbaik untuk Pamekasan. Tapi perayaan itu lagi-lagi di luar konteks acara.

Baca Juga:  Jalan Terjal Pelayan Raja

Saya pernah membaca, tidak baik jika memberikan kritik tanpa disertai solusi. Oleh karena itu, ada beberapa poin yang bisa dijadikan pertimbangan -jika layak- untuk mendukung program Pamekasan Menulis ini dan menjadi sumbangsih saya selaku warga Pamekasan, untuk terwujudnya Kabupaten Literasi 2022 mendatang.

Saya berharap, pemerintah tidak hanya getol mempublikasikan program ini. Apalagi hanya untuk diklaim kabupaten Pamekasan perhatian kepada penulis. Tapi perlu untuk mengumpulkan penulis yang sudah profesional untuk melakukan transfer keilmuannya melalui forum kepenulisan. Seperti karantina menulis. Semoga tidak hanya formalitas belaka.

Masukan Untuk Menuju Pamekasan Kabupaten Literasi

1. Jangan lupa galakkan Pamekasan Membaca

Setelah sekian lama saya belajar dan akan terus belajar di dunia kepenulisan, tenyata untuk bisa melahirkan karya-karya yang bagus maka harus membaca karya-karya yang bagus terlebih dahulu. Versi saya, maaf ini analogi agak vulgar. Bahwa menulis itu seperti orang mau kencing. Akan banyak cairan kencingnya jika banyak minum. Begitu kira-kira. Artinya, untuk dapat melancarkan pikiran atau ide dalam menulis, maka diharuskan memiliki pengetahuan yang luas. Salah satu caranya ya dengan membaca.

Salah satu caranya untuk menggalakkan membaca adalah melibatkan Perpustakaan Daerah. Namun, jujur miris melihat perpustakaan umum. Bukan karena bangunannya. Tapi di sana malah banyak diisi oleh pengunjung yang hanya numpang WiFi gratisan dan anak seumuran SD main game online di komputer. Miris sekali. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu sesekali melakukan kunjungan  untuk mengetahui secara langsung.

2. Buatlah Semacam Karantina Khusus Kepenulisan

Dalam hal ini, pihak pemerintah bisa dengan mengintruksikan kepada siapapun yang dipercaya, untuk mengkotak-kotakkan jenis tulisan terlebih dahulu. Lalu saringlah penulis sesuai kompetensi masing-masing. Penulis yang tersaring tersebut disatukan dan diminta kesiapan untuk mengisi karantina tersebut. Hanya butuh waktu yang singkat untuk mengumpulkan mereka. Caranya? Bisa mendatangi kampus-kampus. Di sana banyak dosen yang menulis. Tapi tidak semua dosen menulis. Sekalipun ada, silakan dikroscek, khawatir masih plagiat dalam menulis atau hanya sekadar memenuhi panggilan untuk kenaikan pangkat saja. Selain dosen silakan sisir di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa di Pamekasan yang sudah melahirkan banyak karya. Bisa  juga menyisir lembaga pendidikan. Banyak guru dan siswa yang jadi penulis. Tapi yang jelas, karantina menulis tidak menjamin banyaknya penulis yang akan lahir. Sebab kegiatan penulis bisa juga lahir dari kegiatan non formal bahkan banyak otodidak.

3. Sediakan Media Khusus

Media ini bisa berbentuk digital dan cetak. Di sana bisa menyediakan rubrik non fiksi (Esai, Artikel , Opini, Resensi dan lainnya) dan  fiksi (Cerpen, Cerbung, puisi). Dalam fiksi dan non fiksi ini, bisa satu hari dalam seminggu menyediakan rubrik untuk memuat karya berbahasa Madura. Mengingat bahasa daerah yang memang perlu dirawat. Terlebih, banyak orang -pemuda- Madura yang bergelut di kepenulisan,  belum tentu tahu menulis menggunakan bahasa Madura sesuai ejaannya. Media digitalnya bisa terbit setiap hari.

Baca Juga:  Jokowi-Ma’ruf Amin, Interpretasi Umara dan Ulama?

Sedang media cetaknya, bisa menyediakan majalah khusus karya penulis Pamekasan. Majalah ini bisa terbit setiap dua pekan atau sebulan sekali. Dalam setiap edisinya, pihak redaksi bisa menentukan tema. Untuk mempermudah pengelolaan media ini, silakan pemerintah daerah bisa menggaet editor atau kurator khusus menyeleksi karya yang layak atau tidak dimuat.

4. Libatkan Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan bisa dikatakan sebagai ruang termudah bagi pemerintah untuk realisasi program Pamekasan Menulis ini. Dalam hal ini, pemerintah bisa membuat terobosan untuk setiap lembaga pendidikan turut menggalakkan literasi di sekolah. Semisal setiap triwulan bisa membuat sayembara menulis dengan sasaran peserta adalah siswa dan guru. Namun demikian, ternyata ada lembaga pendidikan yang sudah melakukan terobosan agar siswanya giat membaca dan menulis.

Contoh saja, pendidikan di Sumber Bungur Pakong. Baik MTs, MA dan SMK, di sana menggalakkan literasi ini sudah lama. Bahkan, banyak siswa yang menulis sekaligus diterbitkan. Dan akhir November kemarin, MTsN 3 Pamekasan atau Sumber Bungur dinobatkan sebagai Madrasah Literasi oleh Kanwil Kemenag Jawa Timur. Sedang MA sumber bungur sudah menerbitkan karya-karya siswanya. Yang saya tahu, selama 2019, sudah ada 30 siswa yang menerbitkan bukunya. Baik fiski maupun non fiksi. Untuk SMKnya, di sana sudah ada program One Day One Paper yang memang disediakan untuk siswa berkarya sekaligus mengevaluasinya.

Jika tidak membuat sayembara menulis, Pemkab Pamekasan bisa meminta sumber bungur untuk mempresentasikan progam literasinya di forum kepala sekolah se Pamekasan. Dengan begitu, pemkab bisa menyarankan agar sekolah di Pamekasan bisa melakukan hal yang sama bahkan lebih.

5. Gandeng Komunitas Literasi

Entah berapa jumlah komunitas yang getol membumikan literasi di Pamekasan. Tapi sejauh ini, ada beberapa komunitas yang mengadakan kegiatan literasi. Baik dengan cara diskusi karya, mengajak membaca, bahkan memberikan pelatihan menulis. Yang jelas-jelas mereka tergerak oleh hati nuraninya demi masa depan pemuda di bidang kepenulisan. Mereka rerata bergerak tanpa meminta-mita dana untuk kesusksesan acaranya. Mereka para pegiatnya rela sumbangan untuk sekadar membelikan peserta air, dan sekotak roti, pembuatan banner, penyewaan tempat dan lainnya. Dan tak lupa membuatkan sertifikat, karena banyak peserta yang mengincar selembar kertas bernama sertifikat tersebut daripada ilmu menulisnya. Ya, begitulah di Pamekasan.

Dalam menggandeng komunitas yang dimaksud, Pemkab bisa memanggil tokoh komunitas ini untuk membuat sayembara menulis. Dari hasil sayembara tersebut, dapat dibukukan. Syukur jika karya tersebut  layak terbit di penerbit mayor. Tapi jika tidak layak, solusinya adalah penerbit indie. Pemkab bisa sedikit menyisihkan anggarannya untuk biaya penerbitan.

Selebihnya, saya mohon maaf jika tulisan ini lancang. Terima kasih sudah mengundang saya di acara atau launching Pamekasan Menulis. Saya sangat mengharap kritikan bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Jika menemukan ada kesalahan di dalamnya. Karena bagi saya, kritik adalah cinta yang paling telanjang.

Pamekasan, 3 Desember 2019.

*) Warga Pamekasan yang terus ingin belajar menulis. Anggota Ruang Penulis Madura. Sarjana Manajemen Pendidikan Islam dan alumni LPM Activita IAIN Madura. Penulis Buku “Tuhan, Di Mana Jodohku Sekarang?”( Quanta, Gramedia, Jakarta 2019) dan Lembaran Yang Terbuka (Kekata Publisher : Surakarta, 2016).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *