H Marsuki, Sosok Sederhana yang Berprestasi Nasional

  • Bagikan

MediaJatim.com, Jember- Menyebut nama H Marsuki Abd. Gofur, maka yang terbayang di masyarakat adalah hal-hal yang terkait dengan pertebuan. Sebab, selain politisi, H Marsuki juga petani tebu yang sukses. Cukup lama, bahkan hingga saat ini dia bergelut dengan tebu.

Bagi dia bertani tebu bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga untuk mengamankan stok pangan nasional. Gula termasuk salah satu dari sembilan bahan pokok, sehingga keberadaannya sangat vital. Tebu yang merupakan bahan utama gula, mau tidak mau harus ditanam dan dijaga kesinambungannya.

Apalagi Indonesia masih harus mengimpor gula untuk memenuhi kebutuhan industri dan farmasi. Seandainya stok gula konsumsi berlebih, maka kelebihan itu bisa diguanakn untuk gula industri, dan sebagainya.

“Bagaimanapun, penanaman tebu harus jalan terus,” jelasnya.

Kiprah H Marsuki terkait dengan pertebuan cukup menonjol, dan pembelaannya terhadap petani tebu juga cukup tinggi. Jangan coba-coba petani tebu dirugikan, maka dia berada di barisan terdepan untuk membelanya.

Tidak cuma membela petani tebu, tapi H Marsuki juga cukup kreatif. Salah satu contohnya adalah saat dia mengembangkan industri gula cair (2011). Tujuannya agar petani tebu memetik untung yang lumayan. Sebab ketika itu rendemen tebu milik petani selalu pada posisi yang sangat rendah saat digiling di pabrik tebu, yaitu sekitar 6 persen. Jika tebu digiling sendiri untuk dijadikan gula cair, rendemen yang dihasilkan lebih dari 10 persen. Dari tebu yang digiling dengan mesin mini berkapasitas 10 ton per hari, dia bisa memproduksi 1,5 ton gula cair per hari. Artinya, tebunya menghasilkan rendemen 15 persen.

Baca Juga:  Membanggakan, Alumni Sumber Bungur Ini Terbitkan Dua Buku

“Bandingkan jika digiling di pabrik gula Semboro, rendemen yang didapat hanya 6,1 persen,” katanya.

Kepedulainnya yang tinggi terhadap nasib petani tebu, membuatnya terdorog untuk mendirikan Koperasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Semboro. Tujuannya agar petani lebih kuat, sehingga pabrik tebu tidak seenaknya menurunkan dan menaikkan rendemen gula. Di koperasi tersebut, H Marsuki didapuk sebagai ketua sejak tahun 1999 hingga 2005.

Jalan panjang yang ditempuh H Marsuki sebagai petani tebu dan kepeduliannya dalam membela rekan seprofesinya, membuat namanya mencuat begitu rupa. Karena itu tak heran jika akhirnya pemerintah memberinya penghargaan di bidang Ketahanan Pangan Nasional. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada H Marsuki di Istana Negara (2007).

Baca Juga:  Ustadz Fachrur, Sosok yang Low Profile, Sedikit Bicara Banyak Kerja

Mendapat penghargaan, tak membuatnya terlena. Bahkan Ketua DPD Partai NasDem Jember itu semakin terpacu untuk menekuni profesinya. Kepedulian H Marsuki dalam menanam tebu sekaligus perhatiannya kepada rekan seprofseinya, juga memantik simpati dari petani tebu Jawa Timur. Maka sejak tahun 2014 iapun terpilih sebagai Ketua Koperasi Petani Tebu Jawa Timur. Dan bulan Juni tahun ini, ia terpilih lagi sebagai ketua koperasi tersebut hingga lima tahun kedepan.

Bergelut dengan tebu, membuat H Marsuki mendapatkan segala-galanya, ya materi, status sosial dan sebagainya. Bahkan ia sudah melanglang ke manca negara, di antaanya Jepang, Thailand, dan India.

Walaupun demikian, H Marsuki tidak berubah. Ia tetap sosok yang sederhana, yang dekat dengan rakyat, peduli pada kaum terpinggirkan, dan takdzim kepada ulama. Kebetulan tempat tinggalnya memang jauh dari kota, tepatnya di Dusun Tegalwaru, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember. Namun tempat tinggal nan jauh dari kota, tak membuatnya gugup untuk berkontribusi untuk negeri. Oh, inikah sosok pemimpin yang dibutuhkan Jember di masa-masa mendatang? Wallahu a’lam.

Reporter: Aryudi A Razaq

Redaktur: A6

  • Bagikan
WhatsApp chat