oleh

Di Balik Mistik Islam Nusantara

Judul: Sufisme Jawa
Penerbit: Narasi
ISBN: 978-602-5792-06-9
Tebal: vi+322 hlm, 14,5 x 21 cm
Pengarang : Dr. Simuh
Cetakan ke II: 2018

Pembaca buku akan mengetahui bahwa judul buku yang di maksud tidak mengedepankan unsur Jawasentris maupun SARA atau dengan kata lain penulis menggunakan majas pars pro toto. Hal tersebut terbukti dengan uraian-uraiannya tokoh-tokoh dan budaya yang ada di luar Jawa.

Banyak makna mengenai ‘mistik.’ Mulai dari ilmu kekebalan hingga hal-hal yang berbau klenik. Definisi mistik, khususnya mistik Islam adalah suatu kepercayaan bahwa manusia mengadakan komunikasi langsung atau bahkan bersatu dengan Tuhan (Kasunyatan Agung) melalui tanggapan batin di dalam meditasi (hlm 232). Ajaran mistik yang diusahakan oleh segolongan umat Islam dan disesuaikan dengan ajaran Islam disebut tasawuf. Tujuan utama menjalankan tasawuf untuk menetapkan keyakinan agamanya dengan menyaksikan langsung Zat Tuhan yang dalam ajaran tasawuf disebut Hakikat atau Kasunyatan. (hlm 233).

Mistik Islam Nusantara khususnya di Pulau Jawa di bawa oleh para sufi, disebarkan oleh para wali, dan di lanjutkan oleh ulama nusantara. Mistik tersebut dijiwai oleh ajar ulama sekaliber Imam Ghozali dengan maha karyanya Ihya’ ‘Ulumuddin serta kitab-kitab mu’tabar lainnya, sebagai pendukung. Ajaran tersebut kemudian diserap dan disebarkan menggunakan bahasa serta di kawinkan dengan budaya nusantara oleh para pujangga terkenal nusantara seperti Yasadipura, R.Ng. Ronggowarsito, dan Mangku Negara IV.

Selain seorang Kiai, Yasadipura juga pujangga dari Surakarta. Karya fenomenalnya adalah kitab Tajusalatin. Kitab bahasa Melayu yang bernama Mahkota Segala Raja-raja yang kemudian digubah ke dalam bahasa Jawa dengan tembang macapat (hlm 184). Setelah Yasadipura wafat pada tahun 1803 M, diteruskan oleh R.Ng. Yasadipura II. Karya yang menonjol dari beliau adalah kitab Centhini, yang ditulis oleh tiga orang pujangga R.Ng. Yasadipura II, Ranggasutrasna, dan R.Ng. Sastradipura. Kitab ini memuat tentang tafsir, fiqih, dan akaid.

Baca Juga:  Pindul; Mata Air Kehidupan dan Mata Air Inspirasi

R.Ng. Ronggowarsito, merupakan cucu Yasadipura II, cucu buyut Yasadipura. Banyak kitab-kitab yang telah beliau karang. Salah satu karangan beliau adalah serat Centhini. Dalam serat tersebut diterangkan bahwa orang yang sanggup mencapai tingkat makrifat ini kemudian dianggap sebagai insan kamil. Karena sebelum sampai kepada Tuhan mereka menghayati alam gaib bertingkat-tingkat, dengan sendirinya mereka memiliki ilmu gaib, dapat jampi-jampi bahkan dipandang sebagai wali yang sakti, mempunyai berbagai macam kekeramatan (hlm 236).

Jalan untuk mencapai penghayatan makrifat disebut tarekat. Tarekat terdiri dari dua bagan, yaitu penyucian hati dari segala bentuk ikatan keduniaan yang dicapai melalui tujuh taraf peningkatan suasana batin yang dinamakan maqam (hlm 233). Berikutnya yakni meditasi atau samadi yaitu mengonsentrasikan seluruh pikiran dan kesadaran untuk merenungkan keagungan Tuhan dengan melalui zikir (hlm 234). Konsentrasi dalam zikir kepada Alloh dapat menimbulkan kekebalan. Sementara aliran tarekat sewaktu mengadakan latihan wirid ada yang disertai dengan latihan kekebalan, tahan terhadap api dan bisa ular, bahkan ada yang berzikir dengan memarang atau menggoreskan di mukanya (hlm 246).

Baca Juga:  Panduan Berhijrah Secara Istiqomah

Hampir semua orang Jawa gemar bersenandung, maka tak ayal bila Mangku Negara IV memberi wejangan tasawuf berwujud sekar macapat dalam karya paling populernya, Serat Wedhatama. Salah satu poinnya memuat tujuan hidup. Tujuan hidup bagi yang bijaksana adalah berusaha mendapatkan penghayatan Manunggal Kawula Gusti (hlm 299). Jalan menuju Manunggal Kawula Gusti dapat di tempuh dengan sembah catur. Yang meliputi: sembah raga adalah syari’at, sembah cipta adalah tarekat, sembah jiwa adalah hakikat, dan sembah rasa adalah makrifat. Bila sembah rasa terlaksana tanpa petunjuk apapun, hanya terasa dalam batin. Segalanya menjadi terang benderang, segala was-was hati telah punah sama sekali, jiwa raganya berserah diri pada takdir Tuhan (hlm 302).

Blitar, 17 November 2019

*) Penulis akrab di panggil Rosy. Bernama lengkap Rosy Nursita Anggraini. Lahir di Blitar 24 Januari 1995. Beralamat di Dusun Cimpling RT 01/01 Desa Siraman Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar. Sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Fakultas Ilmu Administrasi dengan Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik, Universitas Brawijaya Malang. Aktif di FLP Blitar. Santri aktif Pondok Pesantren Al- Falah Siraman Kesamben Blitar. Dapat di hubungi melalui e-mail rosynursitaanggraini@yahoo.co.id, fb Rosy Nursita A, IG rosy_nursita, serta nomor HP/WA 082334724195.