oleh

Pelajaran Berharga dari Negeri Sakura

Judul: Polaris Fukuoka
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Pastel Book
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 348 halaman
ISBN: 978-602-6716-10-1
Peresensi: Yeti Islamawati

“Kamu punya energi baru, saat membuat orang lain berarti”
(hal. 276)

Sepeninggal mamanya, Sofia melanjutkan kuliah di Jepang dan tinggal bersama paman yang lebih dulu tinggal di sana. Tinggal di Jepang tentu berbeda dengan sekadar berpesiar selama beberapa waktu lamanya. Sofia harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berbeda dari Negara asalnya. Sofia tahu, merantau berarti pengiritan uang hingga harus mengetatkan ikat pinggang selangsing-langsingnya. Dia tahu, merantu berarti menyesuaikan makanan dan adat istiadar yang sangat bertolak belakang. Dia juga tahu, bagian yang paling mneyakitkan yang membuat para mahasiswa meraung ingin pulang adalah: homesick tiada tahan yang sangat menyiksa. Dan itu belum cukup, khusus Sofia, ditambah lagi, dia harus menghadapi paman super perfeksionis karena mereka tinggal serumah.

Selain kukiah, Sofia membantu pamannya mengurus toko bunga. Di situlah awalnya Sofia berkenalan dengan Isao, lelaki aneh yang semula disangkanya bisu dan tuli. Sofia kaget ketika sutau hari mendengar Isao menyanyikan lagu Fukai Mori. Lebih kaget lagi saat selang beberapa waktu kemudia ia mendengar kematian Isao karena bunuh diri.

Lepas Isao meninggal, Sofia dihadapkan dengan adik Isao bernama Nozomi, seorang wanita cantik, cerdas, tetapi lali-lagi, ingin mengakhiri hidupnya. Ia ingin mengikuti jejak kematian kakaknya. Tentu saja, Sofia dibantu Tatsuo tak bisa tinggal diam. Ia berusaha meluruskan cara pandang Nozomi, meski itu sering kali mengorbankan dirinya dan menjadi umpan kemarahan pamannya. Menurutnya, Sofia terlalu nekat dan jauh dalam membantu orang lain.
Novel ini menggambarkan Jepang dengan detail sehingga latar yang ada tidak sekadar tempelan. Fukuoka berseri setiap Maret. Dunia yang merekah bersama sakura somei yoshino berwarna merah muda pucat yang merajai rimbun pucuk pepohonan. Ditingkahi biru lazuardi langit sebagai latar belakang dan cabang-cabang menjulang tanpa daun yang merunduk bersama mahkota bunga-bungaan berwarna cemerlang, (hlm. 7-8)

Baca Juga:  Buzzer: Ancaman dan Disinformasi, Mahasiswa Bisa Apa?

Sofia juga menggambarkan kehidupan kampus khas Jepang. Suatu hari Sofia terlambat masuk kelas dan menceritakan segala alasannya. Hal tersebut langsung ditegur oleh dosennya, Nona Kobayashi, Saya hanya perlu kamu minta maaf dan berjanji tidak akan mengulang, (hlm. 116). Begitulah kultur Jepang dalam memandang keterlambatan seseorang.

Pekerjaan Sofi di toko bunga menjadikan ia mengenal berbagai macam bunga, mislanya saja tsubaki, sumire, kiku, kinmokusei, kusumosu, ume, karasuuri, gaku, botan, hinagiku, kuchinashi, juga hamayu. Di toko bunga itu pula ia pernah mempraktikkan bagaimana membantu seseorang tanpa harus membuat seseorang yang dibantu kehilangan harga dirinya. Ceritanya, suatu hari tokonya kedatangan seorang anak kecil yang hendak memberikan hadiah bunga untuk adiknya yang sedang sakit. Ternyata uang yang dibawa kurang. Sofia yang mengetahui hal tersebut melakukan negosiasi. Adik kecil tersebut dapat membawa pulang bunga, dengan catatan, ia sendiri yang membungkus bunganya. Akhirnya terjadilah kesepakatan, walau adik kecil itu tidak pernah tahu kalau Sofia yang akan mengenapi kekurangannya.

Beberapa istilah yang tersaji dalam buku ini menambah pengetahuan pembaca tentang kosakata Jepang. Misalnya saja kata Shoji yang merupakan dinding atau pintu pembatas, terbuat dari kayu yang berlapis kertas khusus. Ryokan berarti penginapan, obachan berarti nenek, serta chome berarti ‘blok’. Selain itu, tentang festifal yang banyak digelar di Jepang, salah satunya Festival Karatsu Kunchi Matsuri, patung-patung raksasa setingga 7 meter dengan berat 3 ton diarak berkeliling. Kapak-kapal mengapung di bahu-bahu para kikiko dan anak-anak berusia belasan yang meniupkan seruling di geladak.

Baca Juga:  Azril dan Kopi Ulang Tahun

Siapa sangka, keberadaan Sofia, juga dapat memperbaiki hubungan paman dan tantenya yang selama ini berantakan. Ada yang belum selesai di antara kedua saudara kandung tersebut. Pamannya pun sadar bahwa mengambil tanggung jawab itu memang perih dan berat, tapi di situ letak kualitas diri kita (hlm 307).

Terkait dengan judul buku ini, sangat pas. Polaris, bintang utara. Satu bintang yang paling terang. Polaris memiliki keistimewaan. Ia bintang pemandu. Bersinar terang, tidak pernah berubah posisi seperti bintang-bintang yang lain. Makanya, polaris menjadi pemandu para pengembara di zaman dahulu, ketika manusia belum menemukan kompas.

Ada pelaran luar biasa yang dapat dipetik dari Negeri Sakura, yaitu tentang fugen-jikkou, Tidak baik orang berkoar-koar tentang apa yang direncanakan, dilakukan, ingin dicapai, apa prestasinya; sebelum benar-benar terbukti suatu hal hebat telah diraih. Bergerak dalam senyap dan sepi, itu lebih baik ketika memulai sesuatu. Tetaplah senyap, ketika mengerjakannya, tanpa perlu propraganda bombastis yang malah akan menjatuhkan hasil akhir. Tetaplah senyap, ketika kesulitan atau kemenangan-kemenangan kecil mengiringi langkah besar. Ketika hasil akhir, pencapaian optimal dan prestasi terbaik telah diraih, bolehlah mengumumkan pada khalayak (hlm. 342).