oleh

Tanpa Pemerintah, Tiga Pelajar China Asal Sumenep Bercerita

Mediajatim.com, Sumenep – Siang itu matahari tidak begitu terik. Angin yang berhembus sedikit terasa hangat dan jam makan siang segera tiba.

Di salah satu cafe, lantai dua, tiga pelajar China asal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berkumpul. Mereka, satu sama lain saling bercerita.

Diantaranya, mereka mengisahkan bahwa hidup di negara orang, dengan hanya mengandalkan beasiswa, tidak menjamin hidup senang. Setiap hari mereka harus bergelut dengan keterbatasan.

“Setiap bulan kami hanya terima beasiswa sekitar 1,6 juta rupiah. Itu sebenarnya tidak cukup. Sangat tidak cukup,” tutur Fikri Haikal, Mahasiswa semester 5 di Huaqiao University, kota Xiamen Provinsi Fujian China.

Sambil memegang mik dan sedikit memaksakan senyuman, Fikri juga menyampaikan bahwa dirinya adalah anak petani. Beruntung keterbatasan hidup sudah biasa baginya. Hal itu Fikri syukuri.

Saat harus pulang ke kampung halaman, di desa Mandala Kecamatan Gapura, Fikri tidak lantas bahagia. Sebab biaya besar untuk ongkos pulang dia dapatkan dari hasil meminjam.

“Kami pinjam uang agar bisa pulang.” Tambahnya.

Meski mempertahankan kemandiriannya tidak mudah, Haikal tetap bertekad bisa menyelesaikan pendidikannya hingga tuntas di China. Dia juga berharap pemerintah bisa memberi support.

“Berharap ada bantuan dari pemerintah daerah. Minimal saat balik (ke China), bisa tidak memberatkan.” Harapnya sambil menyungginkan senyum dan sesekali matanya menerawang, seakan harapannya itu mustakhil.

Cerita yang tidak jauh berbeda, juga diutarakan Akhmad Naufal, warga Desa Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih.

Sejak dua tahun terakhir, Naufal menimba ilmu di Guangxi Overseas Chinese School, kota Nanning, Provinsi Guangxi China. Dia menceritakan ikhwal kepulangannya ke kampung halaman.

“Saya minta dibelikan tiket (pulang). Khawatir terinfeksi (virus korona),” tutur Naufal diawal ia berkisah.

Secara terbuka, Naufal menyatakan bahwa dirinya pulang atas inisiatif dan biaya sendiri. Sehari usai kedatangannya ke kampung halaman, puluhan awak media melakukan wawancara. Bukan pemerintah.

“Yang pertama datang, wartawan. Mereka meliput. Beberapa hari kemudian tim dari Polres dan Puskesmas kecamatan kalau tidak sala. Mereka pakai masker,” tambahnya.

Sementara itu Maftuhatus Sobah, mahasiswi kampus Fuzhou University, bercerita bahwa dirinya tidak ada rencana untuk pulang kampung.

Sekitar lima bulan lalu, warga desa Bulla’an Kecamatan Batu Putih ini sudah sempat pulang kampung. Namun, kasus virus korona memaksa dia untuk mengubah niatnya sendiri.

Seperti dua pelajar lain, Maftuhatus Sobah juga berharap pemerintah daerah peduli. Dirinya sadar hanya bisa berharap. Tidak lebih.

“Pemerintah bisa berkontribusilah dengan kegiatan kami disana. Moga juga kondisi segera membaik, agar bisa melanjutkan pendidikan disana,” tuturnya.

Cahaya matahari mulai buram. Awan pekat datang pelahan. Namun pertemuan non formal dan non pemerintah ini tetap berlangsung guyup, mengalir dan tidak kaku. Satu sama lain saling meneguhkan dengan senyuman. Adzan Dzuhur selesai. Kami pun mulai menikmati suguhan seadanya.

Meski hidangan tidak seberapa, kami tetap merasa nikmat. Hari itu, segalanya sudah diniatkan untuk saling mensupport dan saling menguatkan.

Pertemuan ini adalah inisiatif Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (P2NOT) Sumenep. Pertemuan ini digelar sebagai upaya serius agar negara, khususnya pemerintah daerah, mau untuk peduli pada pelajar yang menimba ilmu di luar negeri.

“Pemerintah mustinya care (pada pelajar ini). Dan semestinya mengapresiasi. Karena kita bangga ada warga, asal Sumenep lagi, mampu menimba ilmu ke China,” ungkap Zamrud Khan, Direktur P2NOT.

Negara khususnya pemerintah daerah, lanjut Zamrud, semestinya hadir saat warganya mengalami kesulitan. Harus tanggap dan sigap.

“Mereka ini aset. Lihat staff khusus pemerintah, anak-anak muda yang pintar, yang gigih belajar. Pemerintah musti hadir,” lanjutnya.

Sebelum pertemuan berakhir, hujan tiba-tiba turun. Suasana di cafe lantai dua itu semakin menyejukkan.

Baca Juga:  Magister Tata Boga Ditangkap Karena Konsumsi Sabu

Dingin hujan yang mengalir, siang itu, semoga mengingatkan hati para pelajar untuk tetap dingin dan tidak benci pada siapapun. Termasuk pada pemerintah daerah yang hingga saat ini terkesan kurang peduli.


Reporter: NK
Redaktur: Sulaiman