oleh

Relasi Historis Pesantren dan Kearifan Lokal

Oleh: Fathol Amin

Sejarah bercerita banyak bahwa dunia kepesantrenan merupakan modelling pendidikan Islam tertua di Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa pesantren mempunyai nilai historis yang mengakar kuat dalam budaya dan sejarah bangsa Indonesia mulai zaman kerajaan hingga kini.

Mengakarnya model pendidikan pesantren dalam budaya pendidikan masyarakat Indonesia, secara sosiologis merupakan keunggulan sekaligus berkah bagi bangsa ini. Karena dengan demikian, pesantren menjadi satu dari sekian banyak instrumen pendidikan dan budaya yang turut menjaga nilai-nilai luhur dan kebijakan lokal bangsa, yang secara signifikan berkontribusi besar bagi kemaslahatan umat.

Cikal bakal modelling pendidikan pesantren sejatinya sudah terbentuk bahkan sebelum Islam masuk ke Indonesia. Model pendidikan Hindu-Budha yang diampu oleh para brahmana telah mengenal kehidupan asrama dan istilah cantrik untuk mendalami ajaran-ajaran mereka. Ken Arok, adalah contoh seorang murid brahmana (Ronggo Lawe) yang karena penguasaannya terhadap kitab suci dan kecakapannya memimpin kemudian didapuk menjadi Raja Singasari yang kemudian menaklukkan Kediri.

Jauh sebelum itu, Seorang Raja Kediri yang bernama Jayabaya dikenal merupakan santri dari Maulana Ali Syamsuddin yang mengajarkan Jayabaya Kitab Musarror yang dengannya Jayabaya membuat Karya fenomenal yang bernama Jangka Jayabaya.

Baca Juga:  Ramah, Baik, dan Ta'dzim (RBT)

Raden Fatah atau Raden Bagus Hasan, yang dalam lingkup pecinan dikenal sebagai Jin Bun, pendiri kerajasan Islam pertama di Nusantara yang berlokasi di Demak, adalah seorang santri yang ‘alim dan berguru pada Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Mulai masa Mataram Islam (Sultan Agung, Kota Gede Yogyakarta), banyak sekali raja-raja di tanah jawa yang nyantri kepada seorang kyai. Artinya tradisi nyantri dan ngaji kepada seorang kyai telah menjadi modelling pendidikan yang sangat tua dan mentradisi di masyarakat, bahkan mempunyai kedudukan politis yang sangat kuat dalam sistem kerajaan.

Seperti gayung bersambut, tradisi ini mempunyai kemiripan dengan sistem pendidikan Islam yang telah lama berkembang sejak masa kenabian hingga masa dinasti-dinasti Islam. Harun Arrasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiah, adalah murid dari beberapa ulama besar di zamannya seperti Yahya bin Malik al Barmaki, As Syaibani, hingga Malik bin Anas.

Dengan demikian, masuknya Islam ke Nusantara lewat instrumen pendidikan asrama (yang di India dikenal sebagai sistem Gurukulla), sama sekali tidak merusak tatanan dan struktur budaya masyarakat, karena ibarat makanan, piringnya sudah ada di masyarakat, tinggal mengisinya dengan muatan Islami.

Baca Juga:  Habermas di Pesantren

Inilah kunci kesuksesan dakwah islamiyah di Indonesia yang sama sekali tidak melewati ekspansi meliter layaknya penyebaran Islam di Timur tengah. Dan ini pulalah yang membuat kultur keislaman di Nusantara jauh dari aroma konflik antar agama dan sekte.

Dengan demikian, kehadiran pesantren dan para kyai menjadi sangat urgen dalam proses asimilasi budaya dan agama. Pesantren diharapkan menjadi perekat umat, pengingat dan penyeimbang, solusi, sekaligus respon positif terhadap carut marut dunia modern.

Sebagaimana sejarahnya, pesantren diharapkan istiqamah menjaga kearifan-kearifan lokal dan budaya adiluhung bangsa, semata agar arah pembangunan menjadi sebaik-baik maslahat bagi umat, dan bukan sebaliknya.

Semoga ruh, nilai, dan konsep perjuangan beliau para masyayikh dan aulia di nusantara ini tetap terjaga, dan negeri kita dijauhkan dari konflik menahun yang terjadi akibat dendam politik dari generasi ke generasi.

Wallahul musta’an.

*) Santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah Sumber Manis, Sumenep.