oleh

Menguji Idealisme Aktivis di Pilkada Sumenep 2020

Oleh: Rifand NL*

Pilkada Sumenep, belakangan mulai menjadi tema menarik bagi masyarakat, atmosfernya menyebar cepat sampai ke pelosok-pelosok, menyusul makin menumpuk poster tokoh-tokoh politik di pinggir jalan dengan muka optimistiknya seolah mencitrakan harapan besar suatu perubahan. Tak terhitung poster di sepanjang jalan kota dan desa, terpampang seutas senyum sembari suguhan platform politik di belakangnya.

Dalam kacatama regional, Sumenep amat menggiur kekayaan alamnya. Sudah barang tentu sekian kekayaan tak luput dari kalkulasi politik setiap jengkal orientasinya membangun kabupaten dengan segudang potensi, mungkin ini adalah harusnya setiap calon miliki. Tertanamnya nurani yang kokoh membangun Sumenep.
Pesta demokrasi bakalan digelar, memimpikan pemimpin baru di kabupaten penuh pesona alam dan budayanya. Partai-partai saban hari menunjukkan kesibukannya pada rekrutmen calon, dari sekian partai di Sumenep, ada beberapa telah membuka pendaftaran.

Sampai saat ini, partai-partai di Sumenep sudah membuka formulir pendaftaran, PKB, Demokrat, PPP menjadi target para calon untuk prospek rekomendasi nantinya. Mereka tak hanya mendaftar pada satu partai, pun mencoba ke beberapa dengan harapan, jika tak di rekom oleh partai satu, kemungkinan dapat rekom dari partai lain. Intinya, sedia payung sebelum hujan.

Bersambut makin bermunculan pengamat sungguhan dan amatiran dalam memberikan survei beserta seabrek hasil ilmiahnya seputar pilkada, sehingga mewarnai jagat perpolitikan. Kalangan aktivis tak ketinggalan mendekat, lalu merapatkan diri kepada calon, panggung sandiwara pun di mulai dengan fenomena salib kiri salib kanan sampai muncul orang-orang baru di pentas perpolitikan Sumenep.

Kita bakalan disuguhi dimana aktivis-aktivis mahasiswa mencari suaka kepada mereka, triknya beragam, tetapi tidak jauh-jauh seperti kebanyakan cara. Yaitu mengundangnya dalam acara, langkah ini sebagai awal perkenalan aktivis dan keuntungan bagi si figur adalah menjadi media kampanyenya di kalangan aktivis. Karena bukan rahasia umum lagi, aktivis-aktivis adalah ibarat artis, mereka publik figur dalam kacamata birokrat dan rakyat, ditakuti oleh birokrat dan disanjung oleh rakyat. Sebab perannya sebagai penyambung lidah aspirasi grassroot ke pejabat.

Baca Juga:  Keajaiban Cinta Kasih di Pesantren

Dalam pilkada ini, jelasnya akan ada banyak orang mendekat, aktivis yang sedari awal banting tulang sebagai pegiat-pegiat sosial, demonstran, pun menyadari bahwa momentum pilkada bisa menjadi batu loncatan, masuk ke gelanggang politik. Jalur-jalur semacam ini seksi untuk diperjuangkan, sebab apapun alasannya, aktivis juga berharap nasib baiknya moncer kelak. Siapa tahu, nanti dapat diangkat menjadi orang penting jika calon yang di perjuangkan menang, atau jika kalah setidak-tidaknya mereka menjadi ajudan atau “orang”-nya si tokoh anu.

Ini bukan hal baru, tidak selamanya aktivis akan memposisikan sebagai malaikat penolong rakyat, kadang pula ada saatnya menjadi malaikat penyenang elit. Karena aktivis juga manusia yang butuh minum dan makan, maka kebutuhan mendasar itulah sebab motivasi dan orientasinya terkoyak-koyak dari sekian pilihan bagi dirinya. Antara memilih hidup melarat atau nyaman. Kita tak asing lagi adagium bagi aktivis, “ jika tak kuat lapar, jangan lah jadi aktivis”.

Kita tak perlu jauh-jauh meniliknya, bagi yang pernah membaca “Cacatan Sang Demonstran”-nya So Hok Gie, beberapa aktivis kala itu memilih kehidupan baru menjadi elit pasca gerakannya berhasil menumbangkan orde lama. Tawaran-tawaran tokoh politik, partai begitu menggiurkan untuk menata masa depan. Lagi-lagi sebagai batu loncatan. Tidak hanya kala fase aktivis 60-an, karena cara paling instan adalah, merapat lalu nebeng untuk suaka politiknya mampu menarik perhatian. Pada aktivis 98, ada banyak mantan-mantan aktivis yang sekarang justru menjadi pekerja-pekerja partai peninggalan orba maupun partai baru pasca runtuhnya orde lama.

Baca Juga:  Mari, Berpolitik dengan Baik!

Kendati tidak semuanya aktivis demikian, tetapi ketika tuntutan keluarga, maka kebutuhan ekonomis juga menjadi alasan. Jadi jangan heran, tiba-tiba yang mulanya koar-koar perjuangkan rakyat, suatu kesempatan berubah lupa atau bahkan ikutan menindas. Ini fenomena kehidupan aktivis dengan segala dinamiknya. Sehingga tidak sedikit orang berkesimpulan bahwa idealisme itu ada masanya.

Gayung bersambut, Pilkada Sumenep 2020 ajang pertaruhan nasib, suaka politik yang semua berebut. Belum lagi jika dilihat, beberapa tokoh yang mencalonkan menjadi orang nomor satu di Sumenep terdiri dari kalangan berduit semua, punya proyek, berlatar pengusaha, dekat orang di senayan semuanya siap sedia, menabur uang pada rakyat. Kita dihadapkan pada realitas dimana money politic nanti hanya menjadi bahan teori yang di lapangan, sementara praktiknya nyata menjamur. Dan aktivis pun, akan dipertaruhkan idealismenya di sana, antara melawan praktik bagi-bagi uang itu atau justru menjadi pengantar salam (amplop) si tokoh kepada rakyat.

Kita maklumi saja, karena satu-satunya alasan adalah menjadi hamba pada si tokoh. Kalau tidak, maka siap-siap didongkel dari arena perebutan simpati. Lika liku dunia aktivis, memang penuh kemelut, tapi begitu cepat mendapatkan suaka. Karena saat jadi aktivis, mulai dari kalangan wartawan, birokrat, pengusaha, pekerja partai akan mudah mengenalinya. Artinya, surga dunia dan neraka ada di depan mata. Menikmati surga dari popularitasnya bagi kalangan elit, dan tergelincir ke neraka ancaman, bahkan hilangnya nyawa.

Entahlah, kita dapat menyaksikan sendiri fenomena sepanjang perhelatan Pilkada 2020 di Sumenep. Meski tidak semua aktivis begitu, tetapi apapun itu adalah perihal idealisme yang dipertahankan atau digadaikan.

*) Penulis adalah Ketua Komisariat PMII Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep 2019-2020.