oleh

Diserang Puluhan Banser-Ansor, Wartawan Madura Tumbang

MediaJatim.com, Pamekasan – Wartawan senior yang kini jadi Direktur Kabar Madura, Hairul Anam, sudah dua harian tidak bisa beraktivitas maksimal. Cak Anam tumbang usai diserang puluhan Banser-Ansor di asta atau pemakaman Pesantren Miftahul Qulub, Polagan, Galis, Pamekasan, Kamis (12/3) malam.

Kejadian tersebut bermula usai Kiai Muzammil memberikan ijazah kekebalan dan tenaga dalam ke Banser-Ansor yang menjalani Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) selama 4 hari. Kiai Muzammil bertanya ke peserta siapa yang punya tenaga dalam.

Sunyi. Tak satu pun peserta menjawab. Beberapa menit kemudian, Cak Anam mengacungkan tangan menerobos barisan Banser-Ansor, maju ke depan dekat Kiai Muzammil.

“Abdina (saya), Kiai,” kata Cak Anam sembari melangkah dan menundukkan kepala penuh takzim.

“Baik. Silakan kalian (Banser-Ansor) serang dia pakai ilmu yang sudah saya ijazahkan barusan,” kata Kiai Muzammil yang membuat sedikit tertegun Cak Anam.

Menurut Cak Anam, dirinya memberanikan diri maju karena menilai pertanyaan Kiai Muzammil sebagai perintah. Sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pamekasan, Cak Anam selalu siap jika ada perintah dari kiai.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila

“Kebetulan saya juga Anggota Sinar Putih, semacam perguruan bela diri yang mengasah tenaga dalam. Tapi orientasinya pada kesehatan lewat olah nafas. Saya tidak berniat unjuk kekuatan tenaga dalam, tapi murni niat takzim kepada Kiai,” ujar Cak Anam.

Tabib Bekam dan Totok Syaraf Sapu Jagad tersebut akhirnya pasrah saat diminta menahan diri dari serangan tenaga dalam Banser-Ansor yang disupport tenaga dalam Kiai Muzammil.

Saat diserang Banser-Ansor, semula Cak Anam berdiri. Selanjutnya, dia duduk dengan bertumpu pada dua kaki di belakang. Cak Anam tampak menahan nafas. Serangan pertama tidak mempan.

Pada serangan serentak tahap kedua, Cak Anam mulai merasakan tubuhnya mulai melemas. Untungnya, sepertinya Kiai Muzammil memahaminya dan mengomando penghentian serangan Banser-Ansor.

“Cukup,” kata Kiai Muzammil yang menyaksikan Cak Anam menunduk, kedua tangannya menahan tubuhnya yang mau ambruk ke tanah.

Baca Juga:  Rayakan Idul Adha, EML Terus Perkuat Komitmen Sosial Kemasyarakatan

“Dia terbilang kuat, biasanya pingsan,” kata Kiai Muzammil.

Cak Anam sepuluh menitan tidak bisa bangun. Panitia PKL berhamburan mencari air. Setelah minum air yang sebelumnya ditiup dengan doa oleh Kiai Muzammil, Cak Anam langsung bangkit.

“Dari kejadian ini saya semakin sadar, betapa lemahnya diri ini. Ini juga sebagai peringatan ke saya agar kembali rajin berlatih di Sinar Putih,” kata Cak Anam.

Hingga keesokan harinya, Cak Anam mengaku ngedrop. Usai makan, dia mengaku muntah-muntah.

“Sepertinya efek serangan tenaga dalam Banser-Ansor masih terasa dampaknya. Butuh waktu untuk mengembalikan stamini tubuh ini,” kata Cak Anam.

Cak Anam mengaku kepikiran karena tidak sempurna menjadi panitia PKL. Karena serangan Banser-Ansor, dirinya tidak bisa mendampingi peserta PKL melakukan rihlah dan pembaiatan.

“Tapi saya tetap bersyukur, karena pengalaman betapa di Madura masih ada kiai keramat. Kami makin cinta kiai,” tukas alumnus Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep itu.

Reporter: Bahrulrosi

Redaktur: Sulaiman