oleh

Ketika Kapolres Dimutasi karena Menentang Banser

MediaJatim.com, Pamekasan – Aparat kepolisian tidak sepenuhnya bebas dari terpapar paham radikalisme. Jika diketahui, oknum tersebut harus dikeluarkan dari tubuh kepolisian, karena sudah menjadi musuh bangsa.

“Saya pernah memberi pelajaran ke oknum polisi semacam itu, langsung dia dimutasi oleh Kapolri,” tegas kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang sekarang menjabat Kepala Densus 99, Habib Nuruz Zaman, Kamis (12/3).

Staf Ahli Mabes Polri tersebut menceritakan pengalamannya saat mengisi materi Kawan dan Lawan di Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Qulub, Polagan, Galis, Pamekasan.

“Saya pernah mengisi apel kasatin. Saya dipanggil oleh kapolri untuk memberikan materi. Pesertanya adalah kapolres dan kapolda seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Ketika Habib Zaman menerangkan peta radikalisme di Indonesia, Kapolres Kota Yogyakarta kala itu, protes di hadapannya. Sebab, tidak terima Habib Zaman menyalahkan paham salafi dan wahabi.

Baca Juga:  Nenek di Blimbingsari Tewas Kecebur Sumur

Oleh oknum kapolres tersebut, Habib Zaman dibilang liberal, tidak paham agama dan sejenisnya. Habib Zaman diam saja. Pihaknya memahami bahwa orang tersebut radikal. Selesai bicara, Habib Zaman langsung menghajarnya.

“Bapak polisi. Saya yakin pengajiannya Bapak hanya beberapa jam. Saya belajar agama mulai kecil, tinggal di pesantren sampai saat ini. Baca kitab kuning bisa, Bapak tidak mungkin bisa,” tegas Habib Zaman.

Muaranya, kapolres tersebut dimutasi. Sebab, dia sudah berani bicara begitu, apalagi di depannya Kapolri secara blak-blakan membela paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa ini.

Menurut Habib Zaman, para aktivis radikalisme suka memprovokasi bahwa Ansor-Banser itu kecil. Padahal, Ansor-Banser besar dan terbesar di dunia. Itu sengaja dihembuskan oleh mareka agar Ansor-Banser tidak percaya diri, biar di hadapan musuh lemah.

“Itu dilakukan, karena mereka tidak berani melawan kita, sehingga pilihannya adalah menurunkan kepercayaan diri kepada Ansor dan Banser,” tegas Habib Zaman.

Baca Juga:  Disegel Total, Siswa SMAN 1 Waru Terancam Mogok Sekolah

Kepada Ansor-Banser, khususnya di Kabupaten Pamekasan, Habib Zaman menginstruksikan untuk melakukan maping atau pemetaan masjid-masjid yang sudah terpapar radikalisme.

“Adakan program bersih-bersih masjid. Lakukan secara istikamah, pasti akan didukung penuh oleh masyarakat,” tegasnya.

Habib Zaman juga berpesan, agama kader Ansor-Banser agar merebut posisi imam saat berada di masjid umum. Utamanya tatkala shalat Subuh.

“Karena kalau mereka yang mengimami, maka qunut akan ditinggalkan. Kita sebagai makmumnya tentu akan kepikiran. Beda kalau jadi imam, maka tradisi an-Nahdliyah bisa lestari,” urainya.

Habib Zaman memberikan materi dengan waktu yang cukul panjang, lebih dari dua jaman. Peserta PKL yang selama 4 hari jarang tidur karena mengikuti padatnya agenda PKL, tampak khidmah mendengarkannya.

Reporter: A6

Redaktur: Zul