oleh

Ning Lia, Srikandi Jember yang Ingin Mengabdi

MediaJatim.com, Jember-Tidak banyak wanita yang mau terjun ke gelanggang politik seperti Pilkada. Bagi sebagian orang, Pilkada cukup menakutkan. Ia tak ubahnya bagai sebuah perjudian. Sebab, ajang politik semacam Pilkada, pertarungannya cukup keras, menjurus kasar. Bisa-bisa energi habis dan materi terkuras, tapi hasilnya malah mengecewakan. Namun bagi Nur Farida Amalia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Pilkada, apalagi ditakutkan.

“Pilkada adalah proses yang wajar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perempuan juga mempunyai hak politik yang sama,” ujar Ning Lia, sapaan akrabnya, kepada MediaJatim.com di Jember, belum lama ini.

Ning Lia lahir di Jember 53 tahun lalu. Meski lahir di desa (Tanggul), namun wawasan mantan penyiar Akbar FM ini cukup luas. Terbukti, setelah menamatkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Jember, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Menurutnya, kota megapolitan lebih menantang kendati risikonya juga lebih berat. Sehingga Ning Lia merasa lebih bersemangat hidup di kota besar seperti Jakarta. Sebab, bagi orang yang ulet, Jakarta menyediakan banyak peluang kerja dan bisnis. Namun sebaliknya bagi orang malas, Jakarta sangatlah kejam.

Baca Juga:  Ifan: Bersyukur dan Berbagi, Kunci Kepuasan Jiwa

Dan terbukti, keuletan Ning Lia tidak sia-sia. Agro bisnis yang ia geluti, pelan-pelan menanjak naik. Di bawah bendera, PT Agro Nur Nusantara, Ning Lia menjelma sebagai pengusaha sukses.

“Alhamdulillah, saya di situ (Jakarta) bisa menempatkan diri, membangun jaringan hingga sukses membangun perushaan,” lanjutnya.

Namun rupanya Ning Lia bukan perempuan biasa yang mudah puas dengan hasil yang diretasnya. Terbukti, sejak tahun 2015, ia mulai merambah bisnis Alutsista (alat utama sistem pertahanan). Wow, ini bisnis kelas berat karena berhubungan dengan senjata dan persenjataan. Sebagai Komisaris PT Teknika Ina, Ning Lia sibuknya bukan main. Sebentar-sebentar ia sudah berada di luar negeri, sejurus kemudian sudah balik di Indonesia untuk mengurus transaksi senjata.

“Semuanya berangkat dari keseriusan. Jika kita seius, apapun bisa dikerjakan,” jelasnya.

Kendati sibuk di Jakarta, namun Ning Lia tidak melupakan Jember. Sebab, Jember adalah tanah kelahirannya. Air dari bumi Jember telah ia minum dan membesarkannya. Udara Jember telah ia hirup untuk bernafas dan mengambil oksigen demi keberlangsungan hidupnya. Maka ibarat kata pepatah “setinggi-tingginya burung terbang, akhirnya kembali ke sarangnya juga”. Dan Ning Lia telah memutuskan untuk ‘kembali’ ke Jember. Bukan sekadar kembali, tapi untuk Jember agar lebih baik lagi.

Baca Juga:  H Suhermin: Komitmen Pelayanan yang Mudah

“Atas desakan para sesepuh Jember, dan panggilan hati nurani, saya ingin mengabdikan diri untuk masyarakat Jember,” lanjutnya.

Bagi Ning Lia, kata kuncinya adalah pengabdian. Tidak ada yang sia-sia untuk sebuah pengabdian. Niat telah ditata, ikhtiar juga sedang dilakukan untuk mewujudkan pengabdian itu. Tidak ada yang lebih mulia dari pada pengabdian. Sebab, pengabdian akan melahirkan kerja yang tulus, jauh dari pongah, apalagi korupsi. Kekuasaan untuk lahan pengabdian. Bukan sebaliknya, mengejar kekuasaan karena rakus harta.

Dan, pengabdian itulah yang diperjuangkan dan menjadi muara dari ikhtiar Ning Lia di gelanggang Pilkada Jember 2020. Ok, selamat berjuang wahai srikandi Jember.

Reporter: Ade NW

Redaktur: A6