oleh

Bertemu Wartawan yang Lucu

: Sebuah catatan sederhana seperti intropeksi

Menggali data, melakukan verifikasi dan menguasai daya tutur saat hendak menulis berita, saya rasa adalah kerja serius seorang wartawan.

Profesi wartawan, menuntut ketelitian dan dedikasi. Tidak ada unsur lucu sama sekali. Wartawan adalah profesi yang serius. Bukan lucu-lucuan.

Tapi kawan saya, siang itu, bercerita bahwa dia bertemu dengan wartawan yang lucu. Dan jika ditertawakan, menurutnya, seperti mengungkap aib profesi wartawan. Sebab bukan lucu biasa.

Pertama kali mendengar pernyataan itu, saya hanya menduga dia melihat kelucuan-kalucuan manusiawi yang secara kebetulan terjadi pada seorang wartawan. Ternyata tidak. Menurut kawan saya, kelucuan ini seperti bercampur aib.

Siang itu, hujan mengguyur kota. Kawan saya, yang kebetulan baru selesai mengurus kelengkapan administrasi di rumah sakit, tertahan disana.

Sekian menit kemudian, banyak ASN yang hilir mudik di depan ruang UGD Rumah Sakit Dr. Moh. Anwar Sumenep. Tidak lama, kawan saya tahu, wakil bupati sumenep dilarikan ke UGD karena diduga kelelahan saat ikut rapat musrembang kabupaten di kantor Pemkab Sumenep.

Suasana tegang pun berlalu. Hujan reda dan wakil bupati sudah dalam perjalanan dirujuk ke Rumah Sakit Siloam Surabaya. Semua kembali seperti semula.

Sesaat sebelum pulang, di parkir rumah sakit, saya bersalaman dengan seorang kawan yang sebenarnya sudah saling sapa sejak beberapa jam lalu.

Kami berdua melakukan banyak tanya jawab. Termasuk, keseluruhan cerita bahwa dia bertemu dengan wartawan yang lucu.

Saat di kerumunan, sebelum wakil bupati dirujuk ke Surabaya, ada seorang wartawan yang dengan enteng mengaku belum tahu soal covid-19.

Wartawan itu, jelas kawan saya, mengaku belum tahu apa itu ODR, ODP, PDP dan positif covid-19. Dia juga belum tahu bahwa virusnya korona. Penyakitnya covid-19. Seakan saja, wartawan itu merasa tidak perlu banyak tahu soal wabah yang mendunia itu.

Kawan saya, yang juga pernah aktif di jurnal kampus, pertama merasa heran. Kedua, di tengah-tengah ASN yang berkerumun, pernyataan wartawan itu yang disampaikan dengan lantang dan tanpa beban, tampak lucu dan menggelikan.

Pandemi covid-19, menurut kawan saya, sudah menjadi “update info” seluruh media. Kenapa masih ada wartawan yang belum paham soal status covid-19?

Mendengar itu, saya sempat menyela, bahwa bisa saja wartawan yang kawan saya temui, ploting beritanya bukan pandemi ini. Namun ploting berita lain. Jadi wajar wartawan itu tidak tahu.

Mendengar itu, kawan saya dengan lekas memotong: kebangetan kalau ada wartawan yang tidak tahu. Ini pandemi, Pak. Iya kan? Saya hanya bisa diam.

Sebagai kawan yang saya tahu dia orangnya sok, tapi juga peduli, dia tidak hanya menceritakan wartawan lucu yang ditemuinya. Dia juga membayangkan kelucuan-kelucuan lain yang bisa saja terjadi pada wartawan.

Bayangkan, Pak. Ujarnya pada saya. Bagaimana seandainya ada wartawan yang tidak paham data? Bagaimana seandainya dia males melakukan verifikasi? Bagaimana seaindainy dia selalu merasa benar? Bagaimana seandainya dia menulis berita hanya berdasarkan “nafsu” belaka? Juga hanya soal untung rugi, bagaimana?

Cukup banyak pertanyaan yang disampaikan kawan saya dengan awalan bagaimana. Saya tidak menjawabnya satu-satu. Lagi pula, pertanyaan itu hanyalah perandaian. Belum tentu terbukti.

Dengan tenang saya menjawab: itu mungkin ada, Pak. Tapi kan perlu dimaklumi, harus ada setitik nila di segelas susu. Iya kan? Kawan saya tidak diam. Dia memilih untuk menakut-menakuti: itu tentu bahaya, Pak. Dan pasti akan merusak profesi itu sendiri. Saya kembali diam.

Kami pun sepekat berpisah. Jika ada perlu, kami akan saling berkabar di media sosial. Kebetulan, kawan saya ini sangat aktif di medsos. Dia pejuang banyak hal. Sepanjang jalan pulang, saya bersyukur. Beruntung wartawan yang menurutnya lucu, bukan saya.

Terakhir, tentu saja semua wartawan akan ada masa lucunya masing-masing. Jika itu adalah kekurangan, semestinya sadar diri. Bukan membela diri dengan sikap merasa benar. Jika itu adalah kemampuan, jangan congkak diri. Khawatir sikap itu juga terlihat lucu. Salam.


Gapura, 07 April 2020

Baca Juga:  Belajarlah Hingga ke Pulau Kangean, Wartawan!

Penulis: Nur Khalis, warga Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Suka belajar jurnalistik.