oleh

Siaga 24 Jam, Posko Covid-19 di Desa Karanggede Pacitan Kerja Ekstra

MediaJatim.com, Pacitan – Dalam upaya memutus mata rantai penyebaran corona virus desease (Covid-19), sejumlah desa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur telah mendirikan Posko Penanganan Covid-19, salah satunya dapat dijumpai di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari.

Selain posko yang berada di beberapa penjuru perbatasan Pacitan, pada posko Covid-19 di Desa Karanggede ini juga dinilai oleh sejumlah masyarakat cukup kerja ekstra selama 24 Jam. Sebab, di desa tersebut terdapat proyek pembangunan Waduk Tukul yang sampai saat ini masih dikerjakan. Sehingga, tidak sedikit dijumpai para pekerja baik yang berasal dari luar daerah maupun warga setempat masih beraktivitas seperti biasa.

Terlihat, pada posko yang dipusatkan di Dusun Krajan tersebut diisi oleh sejumlah relawan desa setempat yang setiap saat silih berganti. Mereka (relawan), juga dibekali dengan alat pelindung diri (APD), alat penyemprotan dan cairan disinfektan serta termo gun atau alat untuk pengukur suhu tubuh.

Bagi pengendara yang melintasi posko itu, baik warga setempat, pekerja atau pendatang dari luar kota wajib berhenti sesaat, sebelum melanjutkan perjalanan. Pemberhentian itu, tidak lain untuk dilakukan pemeriksaan, terutama suhu tubuh. Bahkan, bagi para pengendara yang tidak memakai masker, oleh relawan setempat acap kali diingatkan agar selalu memakai masker ketika berada di luar rumah.

Baca Juga:  Tak Terganggu Corona, Pedagang di Situbondo: Kami Lebih Takut Lapar!

Menurut Bambang, Kepala Desa Karanggede, didirikannya posko itu selain untuk mengantisipasi orang yang datang dari luar daerah, juga sebagai upaya dalam mencegah penyebaran covid-19 di Desa Karanggede. Mengingat, sejak beberapa waktu lalu Pacitan telah ditetapkan sebagai zona merah.

“Terutama antisipasi bagi pendatang dari luar daerah, kalau setelah diperiksa ternyata ada tanda-tanda kurang sehat dan sebagainya, kita arahkan ke kesehatan atau untuk isolasi mandiri di rumah atau desa juga sudah menyiapkan tempat,” ujar Bambang kepada MediaJatim.com, Minggu (19/4/2020).

Kemudian, lanjutnya, bagi para pekerja pembangunan Waduk Tukul yang berasal dari luar daerah yang masih bertahan di desanya itu, jauh-jauh hari telah diimbau untuk mematuhi aturan pemerintah, seperti jaga jarak, pakai masker dan sebagainya.

“Kalau pekerja dari luar kota yang baru masuk (ke wilayahnya), kami minta untuk karantina mandiri di mess di mana ia kerja atau di tempat yang sudah disediakan oleh desa. Kalau mereka tidak mau, ya kita suruh pulang ke asalnya,” tandasnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan 1440 H, Ini Isi Imbauan PWNU Jawa Timur

Sementara itu, arus pemudik atau warga setempat yang pulang kampung dari perantauan sampai saat ini tidak seperti pada saat awal-awal diumumkannya Indonesia terdampak wabah dari Covid-19. Karena, setelah itu mereka (pemudik) tidak bekerja yang kemudian memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

“Kalau awal-awalnya itu lumayan yang mudik, saat ini jarang. Hanya saja kemarin itu ada satu orang (pemudik) jalan kaki dari Arjosari, karena ojek tidak mau mengantarkan, keluarga tidak berani jemput, sampai sini (posko) kita semprot disinfektan, dan diimbau untuk isolasi mandiri,” sahut salah satu relawan di posko tersebut.

“Ya yang jelas kerja ekstra, kadang itu pukul 02.00 WIB dini hari ada yang datang. Kami (relawan) di posko ini bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan pemerintah dan kami tetap berupaya semaksimal mungkin tangkal Covid-19 ini. Semoga wabah ini segera berakhir, agar normal kembali,” sambung relawan lainnya.

Reporter: Sigit

Redaktur: Sulaiman