oleh

Mau Mudik atau Pulang Kampung, Silahkan!

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni

Di hari pertama puasa, dunia persilatan tidak hanya ribut soal Covid-19. Kali ini dunia persilatan diributkan dengan soal pernyataan Presiden Jokowi antara mudik dan pulang kampung. Ada sebagian orang memberikan penjelasan dengan sebuah analogi antara makan dan sarapan, makan bisa kapan saja sementara sarapan sudah pasti makan pagi. Yang artinya meski sama-sama makan, sarapan itu terikat dengan waktu.

Kalau pakai analogi, dalam Islam seperti itu juga ada. Misalnya akikah dan kurban, meski sama-sama menyembelih sapi tapi ada waktu khusus untuk kurban. Selain itu, haji dan umrah juga terikat waktu, haji hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu sementara umrah bisa kapan saja yang intinya sama-sama melaksanakan ibadah ke Baitullah. Jadi berdasarkan beberapa analogi itu, masalah mudik dan pulang kampung ini hanya masalah waktu yang tidak sama. Mudik ada pada waktu tertentu yaitu identik dengan lebaran, sementara pulang kampung bisa kapan saja. Jadi, kalau ada orang jauh dari lebaran mengatakan mau mudik, rasanya kurang enak di telinga.

Baca Juga:  Syaikhul Islam dan Masa Depan Kepemimpinan Surabaya

Tetapi ada hal yang substansial di balik pelarangan mudik ini. Ingat, bukan pulang kampung. Mudik itu sekedar pulang untuk silaturahmi kepada keluarga dan meninggalkan pekerjaannya beberapa saat setelah lebaran usai ia kembali lagi; dan pulang kampung adalah orang yang pulang karena sudah tidak punya pekerjaan di rantau orang. Nah, jika dikaitkan dengan covid-19 maka mudik ini memang lebih berisiko untuk menularkan virus kepada orang lain. Sebab, selain silaturahmi niat mudik biasanya jalan-jalan bersama keluarga.

Hal-hal teknis seperti itu memang penting diterjemahkan. Karena jika tidak, kita akan kesulitan membedakan keduanya, sementara keduanya harus dibedakan secara teknis karena keduanya mempunyai risiko yang berbeda.

Dalam tinjauan bahasa, mudik dan pulang kampung adalah sinonim. Namanya sinonim itu mempunyai arti sama namun tidak selalu bisa digunakan dalam hal yang sama karena setiap kata mempunyai relevansi dengan kata lainnya. Saya contohkan, sinonim dari kata bapak adalah ayah, tapi kita tidak bisa memanggil Presiden, Gubernur, Bupati dengan ayah. Kepada yang terhormat, ayah Presiden disilakan. Tidak lucu kan? Meski sinonim tapi ada relevansinya.

Baca Juga:  Dirjen Kemenag RI dan Form Rektor Labil; Mahasiswa PTKIN Meradang

Atau misalnya, sinonim dari benar adalah betul. Akan tetapi sampai kapanpun kita tidak bisa mengatakan membela kebetulan karena yang relevan adalah membela kebenaran dan makna keduanya sangat jauh.

Tetapi yang paling saya ketahui adalah orang yang membahas ini karena tidak punya pekerjaan. Termasuk saya. Orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya tidak akan memikirkan hal-hal remeh temeh seperti ini. Sepertinya tidak ada manfaatnya membincang hal ini, yang ada memperkeruh suasana Ramadan. Lagipula kita sudah paham tentang “Sabdo pendito ratu” jadi apa yang disampaikan pemimpin sejak saat itu akan menjadi hukum. Jadi mulai sekarang, sudah harus dibedakan antara mudik dan pulang kampung. Terus, mau apa kamu?

Wallahua’lam.

Pamekasan, 24 April 2020