oleh

Penutupan Beberapa Jalur Desa di Situbondo Dinilai Berlebihan

MediaJatim.com, Situbondo – Wabah virus Corona (Covid-19) yang turut melanda kabupaten Situbondo memicu kepanikan warga sampai-sampai banyak desa yang melakukan karantina wilayah secara mandiri.

Hampir semua desa bahkan dusun di Kabupaten situbondo melakukan karantina wilayah meskipun tanpa ada imbauan atau instruksi dari pemerintah pusat atau daerah secara resmi. Seperti dari ujung barat Banyuglugur hingga Banyuputih dan seputaran Kota Situbondo mulai memasang palang penghalang dari bambu di jalan-jalan alternatif menuju dusun. Sebagian disertai tulisan ‘lockdown’ atau ‘karantina wilayah’.

Menurut Ketua Umum LSM Siti Jenar Eko Febrianto, hak tersebut dinilai berlebihan. Karena hanya akses utama antar desa yang dibuka, itupun hanya melalui penjagaan ketat dari warga yang menjaga secara bergantian.

“Akses yang dibuka hanya jalan utama, itu pun melalui penjagaan oleh warga yang dilakukan secara bergantian. Ini berlebihan,” kata Eko Febrianto, Minggu (26/4/2020).

Parahnya, warga yang melakukan penjagaan tidak menerapkan physical diatancing seperti yang dianjurkan pemerintah bahkan tidak menggunakan masker.

“Mereka bergerombol, lantas dimana physical distancing-nya? dan rata-rata si penjaga tidak memakai masker, ini unik bukan!. katanya berada di garda terdepan tapi alat pelindung diri mereka abaikan,” ungkapnya.

Sebenarnya, tambahnya, karantina wilayah sangat bagus diterapkan untuk memberi rasa tenang bagi masyarakat, tapi harus dijalankan sesuai petunjuk dari pemerintah atau pihak terkait sehingga tidak terkesan berlebihan.

Baca Juga:  Rumah Zakat Bangun 60 Wakaf Sumber Air di 10 Provinsi

“Langkah karantina wilayah itu sebenarnya bagus, karena membuat warga menjadi lebih tenang, karena bisa mengurangi tingkat penularan virus corona. Terutama ketika ada warga pendatang ataupun pemudik yang masuk ke suatu wilayah. Tapi tidak harus berlebihan seperti ini,” sambung Eko, sapaan akrabnya.

Eko meminta, warga yang berada di perantauan, khususnya di zona merah penyebaran Covid-19, sebaiknya memang tidak pulang kampung dulu untuk mengurangi kekhawatiran dan kecurigaan antarwarga kemungkinan membawa virus Corona.

“Hanya yang perlu dipikirkan jika ada warga di perantauan dan harus kehilangan mata pencaharian di tempat perantauannya, yang begini ini kalau memang tidak boleh pulang, ya harus dibantu,” tegasnya.

Menurut Eko, banyak dampak yang ditimbulkan dari penutupan jalan yang dinilai berlebihan ini. Selain sangat menganggu aktivitas sebagian warga, juga bisa membunuh penghasilan warga yang masih tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya di tengah pandemi Covid-19.

“Misalnya, pedagang keliling yang akhirnya tidak bisa berjualan. Dan para pekerja Shift malam, padahal itu menjadi mata pencaharian mereka. Karena masa pandemi ini juga tidak menentu kapan berakhirnya, apakah kita tega membunuh penghasilan orang lain?” jelasnya.

Seharusnya jalan-jalan desa tidak harus di tutup layaknya Jalur Gaza, seperti yang telah dilakukan di beberapa kelurahan di kota Situbondo utamanya di kelurahan Mimbaan yang diduga paling parah.

Baca Juga:  Fighting Spirit Muncul Lagi, Madura United Menang Lawan PS TNI

“Kalau gerbang atau bilik disemprot disinfektan itu masih logis, dan sebaiknya memang begitu. Tapi kalau melakukan penutupan itu kesannya arogan. Bukan solusi tapi justru memancing masalah baru,” imbuh Eko.

Eko, juga mempertanyakan otoritas pemerintah setempat terkait siapa yang sebenarnya berhak melakukan lockdown ataupun karantina wilayah.

Kondisi ini tidak boleh terus dibiarkan, kehadiran pemerintah daerah maupun pusat sangat dibutuhkan, agar masyarakat di bawah tidak seenaknya sendiri melakukan karantina wilayah atau lockdown.

“Harusnya Forkopimda dan Tim Satgas Penanganan Covid-19 Situbondo harus segera hadir untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,” ucapnya.

Pihaknya khawatir aksi penjagaan di pintu-pintu masuk dusun itu akan mengundang kerumunan sehingga memungkinkan terjadinya kontak. Mengingat hal itu sangat membahayakan karena tidak menerapkan physical distancing. Seperti di seputaran Kecamatan Besuki dan Jatibanteng.

“Sekarang situasi Situbondo masih menerapkan physical distancing, tidak ada karantina wilayah atau lockdown. Jadi tolong di masa pandemi ini jangan tambah dibikin mencekam kayak begini. Kasian kalau aktivitas warga terganggu dengan penutupan yang menurut saya terlalu berlebihan seperti ini,” pungkasnya.

Reporter: Frengky

Redaktur: Zul.