oleh

Merdeka Belajar, Tantangan di Tengah Pandemi

Oleh: Desi Ratnayanti

Merdeka belajar, begitulah sebutannya bagi ide baru yang digagas oleh Bapak Nadim Makarim guna memajukan pendidikan nasional ini, dengan menghadirkan berbagai terobosan, dimulai dari penghadiran ujian (asesmen) sebagai pengganti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), peniadaan Ujian Nasional (UN) dimulai pada tahun 2021 dan penyelenggaraan terakhir akan diselenggarakan pada tahun 2020, dan pembuatan RPP cukup dengan satu halaman saja. Tentunya hal tersebut menjadi suatu hal yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, bagi guru juga sekalipun kalau siswa mungkin sangat gembira sekali mendengar UNBK dan UN dihapus. Berbicara UN alhamdulillah dapat terselenggara lebih cepat peniadaannya, 2020 sudah tidak lagi diselenggarakan UN dikarenakan terkendala virus Corona yang melanda Negara tercinta kita yakni Indonesia.

Virus Corona tiba-tiba mengejutkan dunia, kedatangannya membuat manusia-manusia terhenyak. Dunia seolah melambat, yang mengharuskan kita menyesuaikan dengan pola hidup baru. Mau tidak mau kita harus memasuki sistem dunia yang berbeda selama pandemi dan pasca Covid-19. Begitu juga dengan dunia pendidikan, harus menyesuaikan dengan sistem yang baru dari dampak Covid-19. Kita harus bersiap memasuki dunia pendidikan yang baru ini. Semua lapisan ataupun institusi pendidikan dari yang paling bawah sampai jenjang perguruan tinggi harus bisa menyesuaikan dengan sistem yang baru, yang lebih adaptif dengan zaman.

Berbicara masalah tantangan merdeka belajar di tengah pandemi, dunia pendidikan pun ikut mengalami polemik karena wabah virus Corona. Hal tersebut juga menjadi ranah tantangan pendidikan yang sangat serius sekali bagi negara kita saat ini dalam menangani berbagai macam cobaan yang menerpa, banyak kendala yang harus dihadapi, tuntutan pun menjadi tak terbendung kala dirundung musibah virus Corona ini. Ketika pemerintah menerapkan lockdown wilayah dan pengadaan pembelajaran secara online dari rumah saja, disitulah awal mula tantangan merdeka belajar atau pendidikan nasional diuji ketahanannya. Permasalahan pendidikan pun muncul satu persatu di tengah hantaman virus Corona ini, pemerintah pun sudah menganjurkan segala bentuk kegiatan harus dibatasi, demikian dengan nasib pelajar di Indonesia yang hari ini memanfaatkan kecanggihan elektronik. Hanya saja kita harus berpikir kemungkinan terbesar dan terkecilnya, sampai kapan para peserta didik dan guru harus berjauhan, kendati belajar tidak akan maksimal dalam belajar yang bentuknya online karena tidak semua siswa/i atau mahasiswa/i dapat mencicipi pendidikan secara online karena terhalang oleh banyak kendala. Masalah yang bervariasi itu dimulai dari terbatasnya tatap muka antara guru dan peserta didik, kurangnya SDM beberapa guru yang masih gaptek terhadap komputer maupun HP android-nya, daerah yang tidak mendukung (jaringan internet susah, tidak semua peserta didik mempunyai uang untuk membeli kuota, tidak semuanya mempunyai hp android yang support untuk melakukan pembelajaran secara online, dan lain sebagainya). Hal tersebut akan berdampak pada ketidak merdekaan belajar peserta didik ditengah virus Corona ini.

Baca Juga:  Antara Mahar Politik dan PHP

Selanjutnya bagi peserta didik yang mempunyai akses untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara online, apakah benar-benar mendapatkan ilmu atau cuman sekedar transfer tugas dari pendidik, dan setiap peserta didik itu tidak sama dalam menerima pembelajaran yang di berikan, bagaimana kalau dalam pembelajaran online kita tidak mendapatkan ilmu sama sekali, melainkan tekanan yang kita dapatkan guna menyelesaikan tugas sesuai deadline yang dijadwalkan, referensi pun susah didapatkan, apakah hal tersebut masih merefleksikan yang namanya Merdeka Belajar.

Output yang diperoleh oleh peserta didik apakah sesuai dengan RPP yang sudah disiapkan, tentu saja akan berbeda, dan kualitas peseta didik pun juga dipertanyakan disamping adanya pemakluman karena adanya musibah yang tidak diduga ini, meskipun akhir-akhir ini juga ada bantuan dari pemerintah mengenai kuota internet gratis, akan tetapi tidak semua lapisan dapat merasakan akses gratis tersebut.

Baca Juga:  Ponpes Mathlaul Amien Tumbuhkan Semangat Nasionalisme Melalui Prasti

Merdeka Belajar akan benar-benar merdeka, ketika antar lapisan pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi dengan baik dan tepat, disertai dukungan positif dari masyarakat. Karena hal tersebut merupakan program baru yang sangat bagus untuk disupport dalam keberlangsungannya untuk masa yang akan datang.

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Pendidikan Matematika Universitas Madura sekaligus Pengurus Madura Youth Foundation.