oleh

Soal Merk Mobil Siaga Desa, Ada Apa dengan DPMD Situbondo?

MediaJatim.com, Situbondo – Seperti yang kita ketahui bersama di tahun 2020 ini kurang lebih 50 Desa di Kabupaten Situbondo menganggarkan pengadaan Mobil Siaga Desa yang bersumber dari Dana Desa (DD). Kini dugaan kuat adanya permainan sudah mencuat ke permukaan, sebab merk mobil yang akan dibeli seakan diarahkan diarahkan ke pabrikan asal China (Wuling) oleh oknum internal Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Situbondo.

Tentu hal itu mendapat sorotan tajam dari beberapa pihak, tak terkecuali Ketua Umum LSM Siti Jenar Eko Febrianto. Setelah mengetahui perihal itu, ia sontak mempertanyakan kejelasan pengadaan Mobil Siaga Desa yang dianggarkan dari Dana Desa (DD).

“Kenapa harus Mobil Wuling?, siapa yang menginstruksikan dan dasarnya apa harus merk Wuling?. Sedangkan kita lihat dari spesifikasinya Wuling termasuk mobil merk baru dan belum teruji secara maksimal, sedangka Mobil Siaga itu untuk operasional Pemerintahan Desa yang penggunaannya lebih ditekankan kepada kepentingan masyarakat,” ujanya dengan geram.

Ia juga mempertanyakan soal ketersediaan sparepart dari mobil merk Wuling jika nantinya dalam berjalan 2-3 tahun ada kerusakan. Menurutnya, apabila masih berpotensi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan sparepart-nya, lebih baik jangan digunakan. Sebab, akan menjadi kendala dan bisa menambah pada anggaran.

Baca Juga:  Proses Hukum Kasus KDRT di Situbondo Macet

“Kalau nantinya sparepart-nya masih kesulitan berarti ini juga akan jadi kendala dan harus dibebankan lagi ke anggaran desa. Dan yang menjadi pertanyaan siapa yang mencari keuntungan di balik pengadaan Mobil Siaga ini, padahal kita tahu semua yang bertanggungjawab terhadap anggaran DD adalah Kepala Desa. Apakah harga OTR-nya sudah sesuai?,” tanya Eko.

Letak geografis dari 132 Desa di Kabupaten Situbondo ini berbeda-beda, tambah Eko. Merk Wuling mungkin masih wajar untuk digunakan untuk Desa yang di wilayah Perkotaan, namun belum tentu dengan di Pedesaan yang terkadang jalannya pelosok-pelosok dan banyak yang terjal.

“Kami masih menelusuri adanya dugaan broker yang melibatkan marketing dan pihak DPMD, karena pengadaannya satu pintu ke DPMD. Beberapa Kades yang saya temui merasa keberatan tapi mereka takut untuk bersuara. Mirisnya lagi, pembeliannya mobil ini bisa dibilang dadakan dan tidak tertera di RKPDes dalam pengadaan barang, tapi tinggal kontrak tanda tangan udah dapat unit.

Mudah sekali bukan?, harusnya pengadaan Mobil Siaga itu tercover dalam RKPDes dan RPJMDes. Uniknya, biasanya anggaran itu bisa direalisasikan kalau RPJMDes-nya rampung, kalau untuk mobil Desa Siaga merk Wuling ini kok asal deal langsung kirim. Begitu istimewa mobil dengan merk inikah?,” paparnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Unira Wadahi Sosialisasi Pentingnya BUMDes

“Bayangkan saja kalau kita mengantarkan orang ke Show Room membeli mobil pasti dapat duit broker satu unit-nya sekitar 10 jutaan. Nah, bagaimana kalau 50 unit? hal ini yang masih saya telisik lebih dalam dan apabila ini bisa kami buktikan, Kami tidak akan segan-segan untuk melakukan langkah hukum,” tuka Ketua Umum LSM Siti Jenar.

Sedangkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Situbondo Lutfi Joko Prihatin mengatakan, pihaknya tidak tahu-menahu soal adanya arahan dari oknum DPMD kepada Pemerintah Desa menggunakan Mobil merk Wuling untuk digunakan sebagai Mobil Siaga Desa.

“Bilamana Desa menganggarkan kemudian dilaksanakan atau sebaliknya bilamana tidak dianggarkan, maka hal ini tergantung dari Desa selaku pelaksana kegiatan penganggaran Mobil Siaga Desa. Setelah kita cek, beberapa Desa pengadaan mobil dinas sebelumnya juga sudah dilaksanakan,” jelas Kadis DPMD Situbondo via WhatsApp, Sabtu (9/5/2020).

“Kita harus melihat dari sisi penganggaran, semuanya desa yang menentukan kaitan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kebutuhan,” tukasnya.

Reporter: Frengky

Redaktur: Zul