oleh

Apa yang Perlu Diprioritaskan Pasca Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19?

Oleh: Kholisin Susanto

Suasana perayaan Idul fitri merupakan kesempatan untuk berkumpul dengan seluruh keluarga dan kerabat. Namun dengan adanya pandemi Covid-19, pemerintah dan tenaga kesehatanpun menyerukan imbauan untuk tidak mudik, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Rutinitas mudik para perantau ke kampung halaman yang telah membudaya, kini harus tertunda. Kata atau hastag tidak mudik dan di rumah saja masih terus disuarakan dengan lantang di dunia maya dan layar kaca. Mengindahkan imbauan tidak mudik sebagai bagian kontribusi kepedulian pada bangsa dan sesama, karena sampai pada penghujung bulan puasa yaitu hari raya Idul Fitri kejahatan Corona belum mereda. Rasa kecewa dan marah wajar akan menggoda jiwa, karena corona menjauhkan raga dari yang terkasih dan keluarga tercinta.

Kebijakan jaga jarak dan imbauan tidak mudik secara ego yang berpihak sepenuhnya pada perasaan mungkin sulit diterima oleh masyarakat, tidak terkecuali bagi yang berada diperantauan. Perantau yang sejatinya menunggu waktu untuk melepas rindu, karena jarang pulang ke kampung halaman kini kerinduan itu akan terus beku. Mencairkan rindu kala lebaran sebagai pilihan waktu yang membahagiakan.

Namun logika berpikir dan nurani kali ini harus berkolaborasi membunuh jahatnya ego masing-masing. Perjalanan pulang ke kampung halaman dan berkerumun di keramaian saat ini, menjadi salah satu aktivitas yang beresiko menyebarkan Covid-19. Memilih untuk tidak mudik bukti kasih sayang mendalam terhadap keluarga dan kerabat di kampung halaman. Kita harus percaya tidak mudik merupakan keputusan yang bertujuan untuk kebaikan bersama.

Baca Juga:  Media dan Masyarakat Diminta Tidak Berlebihan Tanggapi Isu Corona

Keberadaan dan penyebaran Covid-19 masih misteri. Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berlalu. Saat ini kepergiannya dapat diwujudkan, dengan memutus mata rantai penyebarannya. Tentu bersilaturrahmi, berjabat tangan dan berpelukan kali ini tidak dapat dilakukan dengan tatap muka dan bersentuhan. Namun demikian, kita masih bersyukur di era kemajuan teknologi ini, silaturrahmi masih dapat berjalan dengan menggunakan media online atau temu lewat virtual.

Selain itu, setelah Ramadhan dan Lebaran sudah kita lewati dan pandemi Covid-19 tetap setia menemani, tentunya masih ada yang harus kita pikirkan sebagai upaya tetap produktif dalam kegiatan setiap hari, seperti yang ingin penulis rekomendasikan ini merupakan kiat-kiat yang perlu kita persiapkan setelah lebaran di tengah pandemi:

1. Bedakan Keinginan dan Kebutuhan
Tak sedikit orang yang awalnya membulatkan tekad untuk berhemat, namun akhirnya tergoda untuk berbelanja karena banyak tawaran menarik. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah berpikir ulang saat akan berbelanja. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Kebutuhan akan memberikan nilai manfaat dalam jangka panjang, sementara keinginan hanya memberikan kenikmatan sesaat yang belum tentu berguna dalam jangka panjang. Jadi, sebaiknya manfaatkan promosi untuk berbelanja kebutuhan pokok saja, bukan menuruti keinginan hawa nafsu semata.

Baca Juga:  Covid-19 dan Resonansi Kesadaran

2. Menabung dan Investasi
Pastikan kondisi tabungan dan investasi tetap aman. Apabila Anda kesulitan untuk menabung dan belum memiliki investasi selama Ramadhan, Anda dapat memulainya di bulan ini. Momentum pasca Idul Fitri dapat menjadi awal yang baik untuk menabung dan berinvestasi karena biasanya kebutuhan ekonomi sehari-hari kembali ke semula.

3. Hindari Mengambil Dana Darurat
Selama pandemi, idealnya Anda harus menyiapkan dana darurat minimal untuk 3-6 bulan mendatang. Hal itu penting di saat situasi tidak menentu karena kemungkinan pendapatan terhenti masih terbuka lebar.

Cara yang paling benar dalam melakukannya adalah dengan menyisihkan 3-6 bulan dana darurat untuk pengeluaran. Misalnya, jika setiap bulan Anda menabung Rp3 juta, maka minimal Anda harus memiliki dana Rp9 juta-Rp18 juta tersimpan pada dana darurat Anda.

Sekian, semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terakhir dari penulis, Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

*) Penulis adalah aktivis HMI Cabang Pamekasan Komisariat Insan Cita dan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura.