oleh

Gus Zen, Ibarat Beras Cukup Dilihat Bibitnya

MediaJatim.com, Jember – Zeinul Hasan. Sosok ini dikenal sebagai tokoh NU Jember sekaligus tokoh politik. Dua ‘bidang’ itu telah dan sedang dijalaninya. Pria yang lahir tanggal 17 Agustus 1969 tersebut, pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Jember sekian tahun yang lalu. Pada saat yang sama Gus Zen, sapaan akrabnya, juga menjadi Wakil Bendahara PCNU Jember.

Meski akhirnya ia harus berhenti dari anggota parlemen karena memang dibatasi oleh waktu, namun tidak demikian dengan posisinya di NU Cabang Jember. Setelah menjadi bendahara, Gus Zen lalu menjadi bendahara PCNU Jember, dan sekarang didapuk sebagai Wakil Katib Syuriah PCNU Jember.

“NU adalah jiwa saya, saya tetap mengabdi untuk NU, dengan atau tanpa jabatan apapun,” ujar Gus Zen di kediamannya, Rambipuji, Kabupaten Jember, Kamis (17/6/2020).

Baca Juga:  Sering Go International, Inilah Sosok Pembina Olimpiade Sumber Bungur

Tidak ada yang aneh dengan jiwa ke-NU-an yang dimiliki Gus Zen. Sebab ibaratnya, untuk membuktikan beras jenis A itu enak dan punel, tak perlu sibuk mengadakan penelitian detail berapa persen kandungan serat, vitamin, mineral, dan karbohidratnya, tapi cukup melihat bibit yang ditanam di sawah. Kalau bibitnya bagus dan sudah dikenal luas oleh masyarakat terkait rasanya, bisa dipastikan nasinya enak.

Begitu juga dengan Gus Zen. Ia tidak serta-merta muncul sebagai Gus Zen yang dikenal saat ini, tapi berjalan dalam lorong waktu dan berproses dengan tempaan dan didikan yang ketat. Gus Zen adalah produk sebuah pesantren yang sangat populer sebagai lembaga yang menjunjung tinggi dan mencintai NU, yaitu Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Kabupaten Situbodo, Jawa Timur. Ia bahkan berguru langsung kepada KH As’ad Syamsul Arifin. Di tempat itulah, ia dididik dan digembleng ilmu dan ke-NU-annya.

Baca Juga:  56 Tahun, Pak Rendra Terus Berkhidmat untuk Bangsa

“Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk belajar di Sukorejo (sebutan lain untuk Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah), dan bersyukur walaupun sebentar masih nututi berguru kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin,” ujar Gus Zen.

Tidak cukup di situ, setelah keluar dari Salafiyah Syafi’iyah, Gus Zen melanjutkan mengejar barokah ilmu ke pesantren milik salah satu keluarganya juga, yaitu Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember. Dalam hal ke-NU-an, pesantren ini juga cukup konsisten untuk mencetak kader-kader NU yang qualified.

“Dua pesantren dan sekian pengasuh menjadi modal saya untuk melangkah di masyarakat, dulu, saat ini, dan di masa-masa mendatang,” pungkasnya.

Reporter: Ade Nurwahyudi

Redaktur: Sulaiman