oleh

Jangan Sampai Relawan Politik Salah Berjuang

Karena mulai suka belajar menulis remah-remah dinamika pilbup Sumenep, saya jadi ada kesempatan untuk bertemu dengan beberapa relawan politik.

Sebagian diantaranya senior. Ada pula yang bekerja secara indie (?) dan sebagian lainnya masih menunjukkan nilai tawar diri pada dua kandidat calon yang sejauh ini sudah deklarasi.

Di media sosial, postingan yang menurut hemat saya adalah untuk menjatuhkan lawan politik menjelang pilbup Sumenep, mulai bertebaran. Ada yang mengungkit masa silam, ada pula yang memposting catatan bebas berisi kegagalan pemerintahan.

Berita di media mainstream sebelas bulan lalu misalnya, tentang rumah Fattah Jasin yang digeledah KPK, kembali ramai dishare oleh sejumlah orang.

Aksi demo di gedung KPK baru-baru ini, yang menuntut agar dugaan korupsi oleh Fattah Jasin harus diusut tuntas, tidak kalah kencang disebar-luaskan. Begitupun sebaliknya untuk Achmad Fauzi. Mulai soal kepulauan dan mengungkit kembali panggilan Kejati Jatim beberapa waktu silam.

Baca Juga:  Belajarlah Hingga ke Pulau Kangean, Wartawan!

Membaca fenomena ini, termasuk saat dishare di group-group WhatsApp, yang kadang sama sekali tidak pernah menjadi group politik, memantik beragam respon.

Ada anggota group yang meminta postingan itu dihapus. Karena tidak sesuai dengan keperluan group selama ini. Ada juga yang acuh, menyepelekan, sampai ada yang bertanya dengan serius, apa tujuan materi itu dishare?

Prilaku relawan politik ini, maaf, yang mungkin bisa dikategorikan sebagai langkah sporadis, memberi kesan negatif dan bisa saja merugikan bagi kandidat calon yang diusungnya.

Relawan terkesan tidak satu komando. Tidak solid. Berjuang sendiri-sendiri. Materi serangan terhadap lawan politik tampak barbar dan tidak elegan. Yang disebar bukanlah analisa. Akan tapi hanya dugaan aib lawan belaka.

Langkah ini, sebenarnya malah menunjukkan cara berpolitiknya yang tidak santun. Dia menunjukkan pola pikir yang dangkal. Fokus untuk menjatuhkan. Santun menjadi nomor sekian.

Di samping itu, prilaku sporadis relawan ini juga menyiratkan bahwa kandidat calon yang didukungnya, tidak siap untuk adu gagasan, adu solusi dan menjabarkan target kerja untuk kabupaten lebih baik lagi.

Baca Juga:  Susah Berusaha Curiga Sebaik Mungkin

Pada titik inilah, hemat saya, tenaga ahli kandidat calon cabup dan cawabup pilbup Sumenep harus bekerja. Serangan politik jangan hanya mentok untuk menjatuhkan lawan dan tidak perlu piranti lainnya. Politik tidak sepicik itu.

Dalam dinamika politik yang katanya kotor, harus tetap ada diskusi yang sehat, gagasan-gagasan yang bernas untuk jadi telaah dan dipetimbangkan langsung oleh publik.

Sudah saatnya menunjukkan kerja politik yang dewasa. Jadilah relawan yang mau berjuang untuk menyampaikan gagasan, bukan sekedar untuk menjatuhkan lawan apalagi memantik permusuhan.

Jangan sampai publik dipertontonkan politik adu kuat saling menjatuhkan. Beri mereka arahan. Dan pastikan relawan ini bukanlah orang suruhan lawan. Salam.

Gapura, 17 Juli 2020

*Nur Khalis, Jurnalis muda asal Desa Gapura Tengah, Kec. Gapura, Kab. Sumenep.