oleh

Disruptif Pendidikan sampai Ustaz Prematur

Oleh: Cak Lil

Perkembangan zaman yang begitu cepat membuat pola stratafikasi sosial juga semakin cepat dan adaptif. Sehingga tidak dapat dipungkiri adanya gaya hidup yang begitu kurang konsisten terhadap keadaan. Seketika seseorang dapat mengatakan “iya”, tapi di beberapa detik kemudian bisa mengatakan “tidak”.

Dalam pesatnya sebuah kemajuan yang sekarang kita kenal dengan Industri 4.0 dan sudah mulai transisi ke Industri 5.0. Mungkin sudah sepantasnya dapat mengintisari dari porosnya kehidupan di masa sekarang. Walaupun di satu sisi masih banyak kekurangan maupun kelemahan dari kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk bisa dapat disebut manusia yang maju.

Kenapa bisa begitu?, semisal; manusia di sisi lain ingin mempunyai pemikiran yang lebih maju dalam berbagai aspek kehidupan. Akan tetapi itu hanya halusinasi belaka bukan lantas memperbaiki kualitas intelektual. Adapun adanya peningkatan, hanya terpacu pada ranah yang sifatnya eksistensial.

Akibatnya yang dialami sekarang, semakin banyaknya pendidikan yang tidak bersifat formal maka itu tidak menjamin melahirkan orang yang benar-benar terdidik. Saya katakan media pembelajaran secara daring, seperti; membaca artikel lewat blog maupun website, melihat di Youtube dan berbagai macam wadah keilmuan secara daring. Nah, pendidikan semacam ini bisa saja memberikan sebuah pengajaran, tapi tidak dengan didikan secara karakter ataupun akhlak.

Akhirnya ada yang namamya distruptif pendidikan, yang semula dibentuk kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan, maka kini semua orang tidak memberlalukannya. Semua bisa belajar tanpa harus tahu sumber yang jelas dari mana ilmu yang sudah didapat, makanya sangat diperlukan sebuah sanad (silsilah) keilmuan, sabagaimana santri diajari di pesantren.

Baca Juga:  Merdeka Belajar, Tantangan di Tengah Pandemi

Bisa dilihat sendiri di Indonesia bagaimana dari buah hasil pendidikan yang memiliki basis pengetahuan saja, tapi tanpa adanya didikan karakter. Tak heran bila hasilnya banyak ustaz-ustaz prematur atau dalam bahasa kasar disebut ustaz karbitan. Sebenarnya ini yang nantinya dapat memicu adanya dekadensi moral dalam dunia pendidikan. Karena sudah banyak dijumpai beberapa ustaz yang pemahaman agamanya sangat tekstual (radikal) bahkan ekstrem.

Sampai di masa Lukman Hakim Saifuddin ketika ia menjabat sebagai menteri agama periode 2014-2019 lalu, pernah merilis beberapa ustad yang layak jadi penceramah di publik. Sekitar 200 ustad yang dirilis oleh Pak Lukman, diantaranya; Quraish Shihab, Muhammad Din Syamsuddin, Abdullah Gymnastiar, Habib Jindan bin Novel, Dll. Oleh sebab itu, perlu rasanya sebuah filtrasi terhadap guru atau ustaz untuk dijadikan figur dalam manata keilmuan.

Ironisnya di Indonesia walaupun kadang sebagian sudah tahu kriteria seoarang ustad, masih saja dijadikan panutan dalam hal keilmuan. Seharusnya hanya dijadikan sebagai tambahan wawasan, bukan malah ikut andil dalam tindakan. Sangat sulit memang kalau sudah terlanjur adanya doktrinasi pemikiran.

Sebenarnya yang membuat seseorang mempunyai ketertarikan, khususnya di kalangan milenial pada ustad semacam itu. Kadang disebabkan karena ustaz tersebut baru hijrah lalu mengajak masuk Islam secara kaffah atau memang sebelumnya fokus pada kajian hijrah. Pendidikan seperti ini sebenarnya tidak salah, tapi yang menjadi persoalan adalah keilmuan yang ia dapat ketika disampaikan kapada para jamaah atau pendengarnya. Bisa jadi dalam memahami sebuah dasar agama hanya secara tekstual.

Padahal kalau dirunut dalam output menejemen pendidikan seseorang paling tidak memahami sebagaimana yang disampaikan Mohammad Nuh dalam bukunya yang berjudul “Menyemai Kreator Peradaban”. Di sana dijalaskan ada beberapa poin penting; pertama, pendidikan karakter yang dapat menumbuhkan kesadaran sebagai seorang hamba. Kedua, menumbuhkan karakter intelektualitas dan terakhir dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Baca Juga:  Pelajaran Perjalanan

Dari tiga hal di atas dapat dipahami bahwa seorang guru maupun ustad harus mencerminkan bukan hanya bagian dari garis vertikal (Tuhan), akan tetapi juga horizontal (manusia). Karena kita juga tidak ingin ada seorang pendidik yang agamis tapi tidak nasionalis. Sehingga imbas daripada itu dapat merongrong persatuan bangsa yang sudah dibangun dengan penuh perjuangan oleh pendahulu Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Kalau sudah seperti ini, maka nantinya akan dapat menghadirkan konflik antar kelompok atau golongan tertentu yang berbeda pemikiran. Disitulah saya kira pentingnya sanad keilmuan yang runut, agar dapat menyatukan sebuah pemikiran yang sama. Walaupun kadang satu sisi dihadapkan pada Khilafiah. Tapi mimimalnya tidak saling menyalahkan, apalagi mengkafirkan.

Jadi sekarang intinya, bagaimanapun kondisi zamannya, kita sebagai generasi anak bangsa yang berwawasan keilmuan luas dan paham akan kondisi pergulatan sebuah ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Maka paling tidak, tidak gampang terprovokasi oleh ilmu yang hanya didapat secara instan. Sehingga nantinya kalau sudah paham akan hal itu, maka kitalah yang akan mempolopori sebuah khazanah keilmuan yang jelas sanadnya. Ilmu yang juga mengajarkan pendidikan karakter, cinta dan kasih sayang.

*Ketua PKPT IPNU UTM dan kader PMII Komisariat UTM.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *