oleh

Pengakuan Kawan yang Katanya Insaf dari Politik

Malam nyaris larut. Wedang jahe yang kami pesan, setengahnya sudah tandas. Sesekali angin semilir datang. Kami merasa diberkati oleh alam.

Kami berada di sudut kota. Banyak hal yang sudah kami sikapi. Mulai dari nasib tembakau, tambak ilegal, dan terakhir soal peluang kerja.

Yang paling menyita pembicaraan, adalah cerita seorang kawan yang mengaku sudah insaf dari politik. Kami yang berada di atas trotoar, kala itu, mendapat banyak pengakuan.

Kawan kami ini, suka taruhan saat ada gelaran pilkades. Dia juga gemar ambil hasil dari perhelatan politik, bahkan hingga tingkat pusat.

Dulu, dia bercerita, pernah beberapa kali terlibat dalam rapat penting pemenangan tingkat kabupaten. Dia tergabung dalam kelompok pendistribusian logistik dan sesekali menyebarkan issue di akar rumput.

Beberapa pernyataannya, soal politik, sebagian diantaranya terkesan mengkhawatirkan. Misalnya, jika menjelang pemilihan, semua yang dilakukan bakal calon adalah pencitraan.

Para calon pasti berupaya mencari simpati. Sikap kepedulian mereka sekalipun, menurutnya, ujung-ujungnya untuk mendapatkan dukungan.

Baca Juga:  Bersama Suami Mbak Puti, Relawan Bagikan Takjil

Momen kebaikan selain lebaran, kelakar kawan kami ini, adalah momentum politik. Meskipun kebaikan di momen itu, terselip pamrih dan sebagian kadang fiktif.

Kebaikan para bakal calon, diakuinya, sering dimanfaatkan oleh orang-orang seperti dirinya. Upaya untuk mengambil hasil, secara politis maupun finansial, selalu menjadi target berpikirnya.

Orang setipikal dirinya, memang tidak banyak. Tapi kadang keberadaannya cukup merugikan. Beragam tipu muslihat dan peluang untuk mengambil keuntungan, sudah disiapkannya jauh-jauh hari.

Dalam momen politik, orang-orang seperti kawan kami ini, sering berstatus non struktural. Meski demikian, kadang merekalah yang paling banyak mendapatkan keuntungan.

Mereka dipersepsikan mampu melakukan lobi-lobi mustakhil di bawah meja. Mampu menyampaikan hasutan seolah-olah fakta dan tampak percaya diri menghadapi apa saja.

Setelah menyampaikan banyak pengakuan, meski belum terverifikasi, kawan kami yang tambun ini membuat kesimpulan.

Yang pasti dalam politik itu hanya dua: pencitraan dan pembiayaan. Semua intrik, delik, hal buruk dan hal baik, semua bermula dan berakhir dengan itu. Bahkan menang kalahnya pun, dua fakta itu yang menjadi penentu.

Baca Juga:  Di Rapimcab PPP, Bang Aziz: Visi Saya Sumenep Bangkit

Di akhir bercerita, kawan kami menyampaikan bahwa “profesi” musiman yang pernah digelutinya itu memang menggiurkan. Tapi dalam politik, semua penuh anomali dan jebakan.

Bahkan, “profesi” itu mampu menghilangkan kepercayaan. Setiap yang kita lakukan, oleh semua orang, akan selalu dianggap hanya akal-akalan.

Apa yang kita sampaikan, tidak lagi dipercaya demi kemaslahatan. Akan tapi demi keuntungan. Sekuat itulah politik mengubah dan merusak nilai seseorang.

Mendengar itu, kami sejenak diam. Diantara kami, ada yang menyeruput sisa wedang jahe yang telah di pesan. Tidak lama, kami pun saling berpamitan. Trotoar kembali dingin dan sendirian. Malam terus berjalan. Salam.

Gapura, 09 Agustus 2020

*Nur Khalis, Jurnalis dan penulis lepas. Tinggal di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.