Unggul Tahap Pencalonan, Mengapa Bupati Sumenep Gagal Pimpin PCNU?

MEDIAJATIM.COM I Sumenep – Suaranya unggul. Tapi, gagal memimpin PCNU Kabupaten Sumenep.

Itulah yang dialami Bupati Sumenep H Busyro Karim. Pada tahap pencalonan ketua dalam Konferensi Cabang (Konfercab) di Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Kecamatan Gapura, Sumenep itu Busyro meraup suara 135, Senin (28/9/2020) dini hari.

Suara Busyro mengalahkan Kiai A Pandji Taufik 116 suara; Kiai A Dardiri Zubairi 26 suara; Kiai Imam H 18 suara; K Chairul 4 suara; dan 6 kandidat lainnya yang masing-masing hanya sebiji suara.

Meskipun suaranya teratas di tahap pencalonan, Busyro tercoret. Ratusan pemilih secara sepakat atau aklamasi menjadikan Kiai A Pandji Taufiq untuk kembali memimpin PCNU Sumenep. Bukan Busyro.

Keunggulan Busyro terganjal tata tertib (tatib) konfercab. Salah satu poin di tatib tersebut berisi larangan calon punya jabatan politik; baik sebagai ketua partai politik maupun menjabat sebagai presiden, gubernur, dan atau bupati.

Baca Juga:  Ikhtiar Bupati Pamekasan dalam Mewujudkan Pemerintahan Bersih

Tatib tersebut sudah disepakati oleh forum sebelumnya. Sehingga, pelaksanaan konfercab tetap kondusif dan berlangsung khidmat. Para pendukung Busyro tunduk pada tatib dan turut aklamasi mendukung Kiai Pandji Taufiq.

“Sebenarnya saya tidak siap kembali jadi Ketua PCNU Sumenep. Tapi karena sudah dipilih, demi NU, maka saya menyatakan siap,” tegas Kiai A Pandji Taufiq yang disambut takbir oleh ratusan peserta konfercab.

Usai terpilih secara aklamasi, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep itu meneguhkan ikrarnya untuk siap mengabdi di NU sebagai Ketua PCNU Sumenep periode ke sekian kalinya.

Baca Juga:  Bukan Sekadar Papan Nama, UIN KHAS Jember Sosialisasikan Pemikiran Kiai Achmad Siddiq

Reporter: A6

Redaktur: Zul

WhatsApp chat