Iklan Stop Rokok Ilegal Sumenep

Cerita Menarik Calon Magister Ikuti Diklatsar Banser

  • Bagikan
Akademisi Muda Moh. Faruk Alfarisi (dua dari kiri) saat mengikuti Apel Penutupan Diklatsar Banser Pamekasan, Senin (28/12/2020). (Foto: Ist)

MEDIAJATIM.COM | Pamekasan – Dari belbagai kalangan kini sudah mulai tertarik menjadi Anggota Banser. Terbukti salah satu yang mengikuti Diklatsar Ke-XII Banser Pamekasan, Jumat-Senin (25-28/12/2020) kemarin, adalah seorang akademisi. Ia bernama Moh. Faruk Alfarizi, Calon Magister Pendidikan di Universitas Islam Malang (UNISMA).

Ia bercerita tentang prosesnya sebelum dan selama mengikuti Diklatsar yang diadakan oleh PAC GP Ansor Kecamatan Kadur tersebut. Faruk, sapaan karibnya, mengaku rela meninggalkan beberapa kepentingan lainnya, hanya untuk bisa mengikuti pendidikan sekaligus pelatihan yang dikhususkan untuk mencetak Tentara Nahdlatul Ulama (TNU).

Stop Rokok Ilegal Sumenep

“Saya rela meninggalkan beberapa agenda yang sudah direncanakan sebelumnya demi untuk bisa ikut Diklatsar. Di antaranya, kegiatan yang ada kaitannya dengan proses pendidikan saya di Malang,” ujar Faruk pada Media Jatim.

Menariknya, akademisi kelahiran 1996 itu menyebutkan, sebelum pelaksanaan Diklatsar, ia terlebih dahulu sempat melakukan latihan fisik bersama-sama dengan sahabat seperjuangannya di Pimpinan Ranting GP Ansor Pamoroh yang juga berniat mengikuti Diklatsar.

Baca Juga:  La Nyalla: Tiga Pelajaran Penting dari Kasus Ratna bagi Prabowo-Sandi

“Bahkan satu minggu sebelum Diklatsar, saya sempat latihan bersama sahabat-sahabat yang lain, seperti push up, lari dan lainnya. Ini dari saking semangatnya. Ya, tujuannya biar kuat ketika pelaksanaan,” tambahnya sembari tertawa.

Baginya, Diklatsar adalah pelatihan yang sangat tepat disebut sebagai tempat untuk membentuk karakter yang kuat, setia pada komitmen serta tidak mudah dipengaruhi. Benar-benar dibentuk menjadi pasukan yang siap berada di garda terdepan menjaga Ulama dan keutuhan NKRI.

“Sebab, selain ditempa fisik, kami juga mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana menghargai waktu, menjaga kekompakan dan kedisiplinan. Saya rasa itu sebagai modal agar bisa menjadi garda terdepan menjaga Ulama dan keutuhan NKRI,” papar pria kelahiran Pamoroh, Kadur, Pamekasan tersebut.

Moh. Faruk Alfarisi saat istirahat jelang penutupan Diklatsar. (Foto: Ist)

Faruk menilai Diklatsar Banser ini sangat jauh berbeda dengan pelatihan yang pernah diikuti sebelum-sebelumnya. Menurutnya dalam Diklatsar, semua aspek sangat diperhatikan.

Baca Juga:  Bela Kalimat Tauhid, Perangi HTI

“Pelatihan ini paling berkesan, karena sangat ketat, dan tidak ada waktu untuk sekedar main-main dan nyantai, semuanya serba dibatasi,” tuturnya.

Kata Faruk, ada satu hal yang juga jarang ia dapati di pelatihan lainnya, yakni kekompakan antar peserta. Saling menguatkan dan memberikan semangat, jika ada salah satu peserta yang sakit.

“Ketika salah satu ada yang sakit, semuanya ikut menguatkan dan memberikan semangat sehingga bisa ikut kegiatan sampai selesai,” jelas aktivis PMII UNISMA Malang tersebut.

Ia berharap setelah resmi dibaiat, bisa lebih maksimal mengabdi di Nahdlatul Ulama. “Semoga saya bisa mengabdikan diri secara maksimal di NU melalui Banser, dan yang kedua semoga dapat barokahnya ulama,” harapnya.

Reporter: Zul

Redaktur: A6

Stop Rokok Ilegal
  • Bagikan
WhatsApp chat