Soal 25.000 Beasiswa, Ini Catatan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Jember

  • Bagikan

MEDIAJATIM.COM | Jember – Rencana Pemerintah Kabupaten Jember untuk menggelontorkan beasiswa bagi 25.000 mahasiswa tahun ini, mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Pendidikan Jember, Hobri Ali Wafa. Sebab, saat ini ekonomi masyarakat tak kunjung pulih karena terdampak wabah Covid-19. Alih-alih berkurang, justru penyebaran Covid-19 semakin mengganas, lengkap dengan varian barunya pula.

“Ya kita apresiasi lah. Ini demi kelangsungan pendidikan generasi muda kita,” ucap Hobri di kampus Universitas Jember, Jumat (25/6).

Namun Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember itu mempunyai beberapa catatan terkait pengucuran beasiswa seperti yang sudah-sudah. Pertama, bantuan dengan beasiswa itu harus dibedakan. Bantuan adalah menyentuh segenap lapisan masyarakat yang membutuhkan biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Sedangkan beasiswa itu hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai prestasi-prestasi tertentu.

“Jadi kadang-kadang kita rancu bahwa bantuan dinamai beasiswa, beasiswa dinamai bantuan. Bukan soal istilahnya tapi soal fungsi dan peruntukannya,” jelas Hobri.

“Misalnya prestasinya biasa-biasa saja tapi kita beri beasiswa, ini jadi aneh. Seharusnya kalau anak itu biasa-biasa saja, membutuhkan bantuan kita beri bantuan namanya. Tapi kalau anak itu berprestasi walaupun anaknya orang kaya, itu harusnya dia diberi beasiswa,” lanjutnya.

Baca Juga:  Tidak Puas Hasil Audensi, DAM Akan Audensi Kembali

Kedua, tentang mekanisme pemberian beasiswa. Katanya, mekanisme itu harus menggunakan indikator yang tepat. Kalau beasiswa hanya untuk mereka yang kuliah di Jember, lalu bagaimana dengan anak Jember yang kuliah di luar Jember. Misalnya, dia diterima di sebuah perguruan tinggi ternama dengan perjuangan yang luar biasa pula.

“Mahasiswa yang seperti dia apakah tercover dalam skema beasiswa itu,” tanyanya.

Ketiga adalah terkait dengan imbal balik. Pemkab Jember perlu memikirkan apa sumbangsih mereka bagi Jember setelah lulus kelak. Sebab biaya yang telah dikeluarkan Jember cukup besar.

Selama ini, katanya, setelah mereka lulus mereka tidak dibebani sumbangsih untuk kemajuan daerah, baik dalam bentuk gagasan atau karya nyata.

“Itu seharusnya diberi tagihan, apa yang bisa mereka berikan setelah lulus. Paling tidak artikel atau mungkin apa bagi pengembangan daerah melalui bidang ilmu yang ditekuninya,” pungkasnya.

Baca Juga:  Tanamkan Konsep Matematika, Mahasiwa Unira Ajak Bernostalgia dengan Selodor Bhanteng

Seperti diketahui, Pemkab Jember tahun ini akan menggelontorkan beasiswa untuk 25.000 mahasiswa. Hal ini sesuai dengan janji Bupati Hendy Siswanto dan wakilnya, KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman saat kampanye dalam Pilkada tahun 2020.

“Kami akan tetap memberikan beasiswa. Cuma memang masih kita buatkan regulasinya agar beasiswa tidak bermasalah,” ucap Gus Firjaun, sapaan akrab Wakil Bupati Jember, beberapa waktu lalu.

Regulasi itu diperlukan karena dalam pelaksnaan pemberian beasiswa periode bupati sebelumnya, terdapat temuan BPK yang menjadi catatan bahwa penyaluran beasiswa kurang tepat sasaran.

Dikatakan Gus Firjaun, dalam periode kepemimpinan bupati dan wakil biapti saat ini, semuanya harus benar-benar mengikuti aturan dan perundangan yang berlaku.

“Karena kemarin itu aturan diporak-porandakan, tidak sesuai dengan aturan yang ada, negara dirugikan dan beasiswa mahasiswa tidak tepat sasaran dan sebagainya,” pungkasnya.

Reporter: Saedi

Redaktur: Sulaiman

  • Bagikan
WhatsApp chat