Iklan Stop Rokok Ilegal Sumenep

Jurnalis PNS dan Jurnalis Swasta

  • Bagikan

Di sebuah warung, saat jam makan siang, saya bertemu dengan beberapa kawan. Kami yang duduk bersama, saat itu, profesinya cukup beragam.

Ada yang mantan penyelenggara pemilu, direktur badan usaha dan ada pula yang masih menjadi kuli tinta, macam saya. Sebagian ada yang merokok, hendak makan siang dan ada pula yang sedang menyiapkan bidak catur, hendak bertanding.

Stop Rokok Ilegal Sumenep

Karena berniat makan, saat itu, saya hanya mengenakan celana pendek; warnanya merah, agak kusam dan sedikit kedodoran. Ada yang bilang saya sedikit kurusan. Pernyataan itu saya sanggah sebaik-baiknya. Mungkin karena hanya celanaan, jawab saya sekenanya.

Pelan-pelan, kami mulai membincang kerja jurnalis, etika dan anggapan yang melingkupinya. Saat itu, beragam pernyataan muncul secara acak. Misalnya, hari ini, ada karya jurnalistik yang seakan mirip status Facebook, sekedar untuk menodong, dan mempertegas tuduhan untuk tujuan tertentu. Bahkan untuk melegitimasi hoaks (?), ujar salah satu di antara kami.

Mendengar pernyataan acak itu, saya memilih menahan diri. Namun satu diantara kami, yang juga pernah serius di jurnalistik, berupaya memberikan perimbangan. Menurutnya, membaca berita, hari ini, mudah sekali diketahui untuk apa, siapa dan mengapa. Unsur “ekstrinsik” dalam kerja jurnalistiknya kadang lebih kuat daripada unsur intrinsiknya.

Baca Juga:  Ngopi Bareng RBT; Merawat Semangat Juang Pemuda

Namun, lepas dari seluruh praduga itu, lanjut kawan yang mantan jurnalis itu, bahwa, filter terakhir terhadap serbuan produk jurnalistik yang beragam, berada dalam diri kita masing-masing. Sebagian anggapan, bahwa karya jurnalistik menyimpan banyak kepentingan, yang kadang bahkan menyalahi kode etik, mungkin ada benarnya.

Akan tetapi setiap karya jurnalistik yang “sarat kepentingan” macam itu, lambat laun pasti akan habis. Kecuali si jurnalis dan narsumnya “nyambung”. Keduanya punya kepentingan yang sama, yang mungkin saling menguntungkan, maka itu lain soal.

Karena diskusi mulai cukup panjang, sesekali saya berusaha membantah, hanya dengan nada rendah. Meski tidak sepenuhnya terverifikasi, ada juga cerita dari kawan-kawan bahwa produk jurnalistik yang dibuat si anu dan si anu, kadang sarat kepentingan tertentu. Tidak melulu soal jurnalistik.

Nah, mendengar itu, kawan sepantaran saya yang sejak tadi telah berkali-kali memberi sanggahan, penjelasan dan berupaya memberi pandangan, mulai mengenalkan istilah Jurnalis Swasta dan Jurnalis PNS.

Sederhananya, jurnalis PNS adalah jurnalis yang telah dijamin oleh kantor atau redaksi masing-masing. Ada gaji dan perlindungan hukum. Paling tidak itu.

Sementara, lanjut kawan yang sedikit tambun itu, jurnalis swasta adalah para jurnalis yang berusaha selalu ada keberimbangan antara kerja jurnalistik dan upaya finansialnya.

Baca Juga:  Seorang Kawan yang Marah pada Wartawan

Dia tegaskan, jurnalis swasta, harus kerja sendiri. Karena jarang ada kepastian dan jaminan finansial dari redaksi. Dia harus survive dan mandiri. Dan, tegas kawan saya, menyeimbangkan kerja jurnalistik dan kerja bisnis seorang jurnalis swasta, bukan perkara gampang. Harus punya kemampuan yang njlimet.

Dari sekian pernyataan yang kawan saya lontarkan, saya menyimaknya baik-baik. Dua istilah jurnalis itu, sungguh baru pertama kali saya dengar. Saat saya sedang sibuk menahan senyum dan berusaha memahami secara utuh fenomena itu, dua kawan lain yang mantan penyelenggara pemilu dan seorang lagi direktur badan usaha, mulai membuat kesimpulan.

Tapi mereka berdua tampak dilema. Di satu sisi, sebagai manusia, mereka musti peduli terhadap kawan-kawan jurnalis yang dicap swasta. Karena bukan perkara gampang untuk survive di tengah hiruk pikuk produk jurnalistik dengan beragam maksud dan tujuannya.

Namun di sisi lain, semestinya kerja jurnalistik tumbuh dan berdiri dengan pedoman yang ada. Berpijak dari kode etik dan diproduksi di lingkungan yang menjunjung tinggi profesi. Bukan memandang jurnalistik layaknya kerja rodi atau ngotot berupaya mendapatkan hasil berlipat dan berkali-kali. Bukan begitu Ferguso.

Ganding,
03 Juli 2021

*Ditulis oleh Nur Khalis, wartawan muda asal Kabupaten Sumenep.

Stop Rokok Ilegal
  • Bagikan
WhatsApp chat