Opini  

Inamart dalam Bingkai Kebangsaan

Oleh: Moh Herman*

Islam sebagai agama yang sempurna tentunya sudah mengakomodasi segala keperluan penganutnya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Islam sebagai agama manusia tentunya memposisikan manusia sebagaimana ekspektasi penciptaan-Nya sebagai khalifah. Nilai-nilai atau ajaran yang ada dalam Islam sebenarnya akan mengantarkan pada tupoksi penganut agama yang sesungguhnya sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Seorang pakar Ushul Fiqh yang berasal dari Sampang, Madura yaitu KH. Afifuddin Muhajir dalam beberapa tulisannya membagi ajaran Islam ke dalam 3 bagian. Pertama, ajaran tentang ketuhanan (Ahkam ‘itiqadiyyah), pada titik ini Islam ingin mengajarkan pada umatnya bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berketuhanan (Homo Religius). Istilah ini sebenarnya muncul karena para pemikir selalu punya definisi yang komplek tentang manusia. Sejalan dengan itu, Teilhard de Chardin dengan teori evolusinya menjelaskan bahwa segala bentuk di alam semesta ini memiliki dua aspek yang meliputi sisi dalam dan sisi luar yang mendasari segalanya, dan keduanya berjalan harmonis.

Kedua, ajaran untuk selalu memperbaiki akhlak (Ahkam khuluqiyyah), pada titik ini, agama memiliki nilai cinta dan kasih sayang (love religion oriented) yang dengannya ajaran agama lebih diterima di tengah-tengah masyarakat. Ketiga, ajaran yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bertindak dalam kesehariannya. Pada posisi ini, agama memiliki nilai-nilai hukum (law religion oriented) yang dengannya manusia bisa dikenakan sanksi jika melanggar dan akan diberi pahala jika melakukan ketaatan. Dari ketiga ajaran tersebut sebenarnya Islam ingin membentuk masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan. Dalam konteks ini, Islam bisa sebagai inspirasi untuk meraih kemajuan dalam setiap lini kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik, budaya dan sebagainya.

Berangkat dari paradigma inilah Inamart hadir sebagai solusi hidup keberagamaan terutama dalam bidang ekonomi. Inamart menjunjung tinggi nilai-nilai agama sebagaimana yang terformulasi dalam maqhasidus syari’ah. Sebagaimana bisnis konvensional lainnya, Inamart menghindari ketidakjelasan modal yang diperuntukkan sehingga pemilik modal merasakan kepuasan dan bagi hasil yang menguntungkan. Selain itu, Inamart juga menjaga keterbukaan dan transparansi aset kepada pemilik modal, sehingga kepercayaan menjadi hal yang diprioritaskan.

Baca Juga:  Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial

Dikarenakan Inamart terbentuk atas inisiasi alumni pondok pesantren, maka tujuan bisnisnya tidak hanya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi secara komunal maupun personal, melainkan juga untuk kemandirian ekonomi kelembagaan, karena 5% dari keuntungan Inamart seluruh Indonesia akan dialokasikan untuk pembangunan Pondok Pesantren Sumber Nangka yang berlokasi di Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Langkah inilah menjadi cerminan bahwa Inamart tidak hanya berfungsi menciptakan kemandirian perekonomian sosial melainkan juga untuk menciptakan kemaslahatan sosial-religius atau sebagai langkah-langkah untuk kesadaran dakwah dalam beragama (ruuhud da’wah).

Baca Juga:  Tajamara: Ruang Terbuka Hijau yang Cocok untuk Bersantai

Menarik lagi, Inamart dalam penjualan sahamnya tidak hanya terfokus pada alumni atau kepada umat Islam secara keseluruhan, melain juga diperuntukkan untuk semua orang baik lintas agama, maupun kewarganegaraan. Hal ini menjadi bukti bahwa Inamart adalah salah satu bisnis yang bertaraf nasional maupun internasional yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman sebagaimana yang tercermin dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Keberadaan Inamart menjadi bukti bahwa kemajuan peradaban sebuah bangsa bisa diperoleh tidak hanya melalui pengaruh dunia barat melainkan juga bisa diperoleh melalui nilai-nilai yang diajarkan di pondok pesantren. Hal ini menasakh keyakinan beberapa pemikir terutama dari barat yang mengimani bahwa kemunduran peradaban Islam, salah satunya disebabkan oleh ajaran yang dibawa oleh para sufi, dan nyatanya, Inamart sebagai gebrakan yang berasal dari pesantren (pesantren sebagai genealogi dari ajaran sufisme) menjadi solusi terciptanya kemajuan sebuah peradaban.

*) Penulis adalah Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

WhatsApp chat