Opini  

Mengenal Lebih Dekat Pendekar Pena: Mahbub Djunaidi

Lukisan sketsa wajah Mahbub Djunaidi. (Foto: Muthohirin Mukhtar)

Sosok satu ini bisa dibilang ‘langka’. Kemampuan menulisnya berbeda dari rata-rata intelektual publik pada umumnya. Dengan gayanya khasnya yang jenaka, ia cekatan dalam memaparkan persoalan berat menjadi lelucon renyah yang bisa dikonsumsi siapapun. Gaya tulisannya satire, penuh sarkas, membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, bisa jadi yang membaca adalah sasaran kritiknya. Siapakah ia?

Ia adalah Mahbub Djunaidi, kolumnis yang sanggup menyajikan tulisan ‘pedas’ menjadi lelucon. Kapasitas intelektual dan selera humornya tinggi. Pantas saja ia selalu mampu meramu tulisan berbobot melalui bahasa yang komunikatif. Sindirannya halus. Tidak blak-blakan. Tidak main hantam begitu saja. Selaras dengan hal itu, Fariz Alneizar, pendiri Rumah Aksoro, menyatakan bahwa gaya tulisan Mahbub mampu mengubah tragedi menjadi komedi.

Mahbub jeli dalam mengurai kusutnya problematika sosial kemasyarakatan. Ia mahir menerangkan kepada publik beragam masalah yang masih buram. Ia jabarkan tetek bengek isu-isu yang sedang viral. Analisanya setajam silet, bahasanya mudah dipahami. Ia mampu menyajikan aneka ragam masalah pahit menjadi bahan olok-olok dalam catatannya. Chatibul Umam, sahabat karibnya, pernah menyatakan bahwa ia sosok pejuang yang pintar menulis, ia menulis sekali jadi, hasilnya alamiah dan spontan.

Baca Juga:  Marah-Marah Soal Rumput Stadion Pamekasan, Nyatanya Nyinyir

Sosok kelahiran Jakarta, 22 Juli 1933 ini dikenal luas sebagai pemikir yang gencar menyuarakan kepentingan publik. Ia berani membela kepentingan ‘wong cilik’, apapun risikonya. Sampai-sampai ia dijuluki si Burung Parkit di kandang macan. Menurut Lukman Hakim, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, istilah burung parkit mempresentasikan sosok Mahbub Djunaidi yang sederhana, tidak bisa diam, dan pandai bergaul.

Ia juga dijuluki ‘Pendekar Pena’ sebab kepiawaiannya menghidangkan gagasan ke dalam tulisan. Banyak media massa lokal dan nasional yang mempublikasikan tulisannya. Dalam catatannya berjudul ‘Kesatria’ (Kompas, 14 Juni 1985), ia mengaku sebagai penulis generalis, bukan spesialis. Artinya, ia menulis ihwal apa saja yang lewat di depan matanya. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.

Selama hidup, ia tidak hanya berkiprah sebagai wartawan ataupun kolumnis. Ia juga seorang aktivis dan politikus. Terbukti bahwa ia pernah menjadi anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Wakil Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PB NU), dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca Juga:  Sunda Wiwitan adalah Kita

Ringkas cerita, masih banyak hal tentang Bung Mahbub, yang tidak saya paparkan semua dalam catatan ini. Intinya, anak muda hari ini, bisa meniru spirit perjuangannya. Meneladani semangat pengorbanannya. Kegigihan dan konsistensinya menyebarkan nilai-nilai kebaikan patut diacungi jempol. Ia merupakan ‘pelita’ dan sekaligus ‘kompas’ bagi bangsa ini.

Intinya, dedikasi dan pengabdiannya untuk umat patut diapresiasi. Rekam jejaknya menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi hari ini. Bung Mahbub sudah lama pergi. Tapi tulisannya abadi. Ia adalah kesatria bangsa. Sekali lagi, “Bung Mahbub, kami masih mengenangmu”.

PP. Al-Ikhlas, Desa Klampar
Kamis, 18 Maret 2021
15.27 WIB

WhatsApp chat