Arungi Kehidupan Rumah Tangga dan Konflik di Dalamnya

Peresensi: Untung Wahyudi*)

Selain mahir menulis karya fiksi, Tasaro GK begitu lihai meramu cerita sehari-hari menjadi kisah-kisah inspiratif yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga. Dari bagaimana memaknai pernikahan, pertengkaran, masalah keuangan, bagaimana menyikapi pertanyaan klise yang lazim dilayangkan pada sepasang suami-istri: kapan punya anak, hingga tentang perselingkuhan yang menjadi permasalahan pelik dalam berumah tangga.

Isu perselingkuhan belakangan ini begitu gencar diperbincangkan sehingga, menjadi trending topic di sejumlah media sosial. Isu yang kerap menimpa kehidupan pribadi publik figur seperti selebritis. Warganet—dengan segala ke-kepo-annya—begitu bebas beropini dan berspekulasi tentang isu yang begitu santer dibicarakan.

Dalam buku Belahan Jiwa, Tasaro mengupas masalah perselingkuhan yang kerap terjadi di masyarakat. Apa saja faktor penyebab seseorang berselingkuh dan bagaimana menyikapinya? Penulis menegaskan, salah satu penyebab seseorang mengikuti kehendak hatinya untuk berselingkuh adalah, kemungkinan karena dia “merasa ada orang lain yang lebih baik” dibanding pasangannya.

Jika suami istri merasa faktor ini potensial membuat hubungan dengan pasangan terganggu, yang harus diperbaiki adalah pola komunikasi di rumah. Harus dipastikan bahwa kritik yang membangun, menjadi bagian tak terpisahkan dalam relasi suami istri. Dengan berbicara terbuka tentang apa yang suami istri inginkan, kecenderungan itu bisa dicegah.

Faktor lain adalah “terbawa suasana”. Potensi ini sering muncul pada seseorang yang mudah jatuh cinta. Dia mudah sekali mengatakan “cinta” ketika dia merasa nyaman berada di dekat seseorang. Hanya karena sering bersama dalam sebuah proyek atau pekerjaan, dia akan mudah jatuh hati pada orang yang baru dikenalnya (hlm. 130).

Ketika Pasutri Merindukan Buah Hati

Masalah lain yang kerap menimpa sepasang suami istri adalah ketika tak kunjung mendapatkan keturunan. Mereka merasa lelah dan resah saat belum juga dikarunia buah hati. Kehadiran seorang anak sangat dirindukan untuk melengkapi kehidupan keluarga.

Baca Juga:  Politik Dinasti dan Literasi Politik Masyarakat

Semua orang pasti merindukan kehadiran anak. Namun, ada yang begitu cepat dikarunia keturunan, dan ada juga yang harus memanjangkan kesabaran ketika Tuhan belum juga menitipkan amanah buah hati kepada mereka.

Bagaimana seseorang menyikapi masalah ini? Ketika sesuatu yang didamba-damba itu kunjung datang? Haruskah mereka menuntut Tuhan dan menganggapnya sebuah ketidakadilan karena tak kunjung menitipkan buah hati pada meraka yang telah lama berumah tangga?

Tasaro menegaskan, setiap orang punya kesempatan untuk berusaha dengan optimal, karena setiap orang yang menikah tentu menginginkan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah usaha optimal, kemudian serahkan kepada Sang Maha Kuasa. Jangan sampai ketidakhadiran anak—karena belum dikarunia oleh-Nya—menjadi pemicu kericuhan dalam rumah tangga. Saling menyalahkan sama sekali bukan jalan keluar. Sebaliknya, hal ini justru akan membuat pasangan suami istri semakin terpuruk. Langkah yang wajib dilakukan adalah menggandeng tangan pasangan dan menjadikan masalah ini sebagai tantangan bersama (hlm. 152).

Sementara itu, rasa boring atau bosan pasti menghinggapi pasangan suami-istri yang baru setahun-dua tahun menikah. Bahkan, pernikahan yang baru seumur jagung sudah harus berakhir karena rasa bosan yang mendera salah satu pihak.

Jika hal ini terjadi, harus dikomunikasikan dengan serius. Bagaimana agar sepasang suami istri bisa mengatasi kebosanan terhadap pasangan?  Menurut Tasaro, yang perlu dilakukan adalah menikmati hobi di rumah seperti membaca novel, nonton drama korea, atau film lain kesukaan.

Cara lain adalah membuat janji dengan teman. Suami atau istri bebas memilih teman yang sekiranya bisa mendatangkan kegembiraan dan mengusir rasa bosan. Bersama teman lama, berbagai pilihan kegiatan lain yang kita sama sekali tak menguasainya. Seperti memancing, atau tamasya kecil-kecilan asal bisa membunuh rasa bosan di rumah (hlm. 68).

Baca Juga:  Menakar Ke-NU-an Mahfud MD

Selain permasalahan yang dibahas di atas, ada beberapa permasalahan lain yang lazim terjadi dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Semua dibahas dengan pembahasan yang menarik dan solutif. Dari pembahasan-pembahasan dalam buku ini, Tasaro GK ternyata tak hanya piawai meramu cerita fiksi—sebagaimana dalam beberapa novelnya seperti Muhammad Sang Penggenggam Hujan, Galaksi Kinanti, Samita, dll.—tetapi juga lihai menceritakan kisah-kisah keseharian dalam rumah tangga menjadi cerita yang menarik untuk dibaca.

Lewat buku 168 halaman ini, pembaca bisa belajar bagaimana mengarifi kisah-kisah dalam rumah tangga. Tak hanya bermanfaat bagi sepasang suami istri, buku ini juga bisa disimak oleh siapa saja yang tertarik membaca kisah-kisah inspiratif seputar kehidupan berumah tangga.

Ada banyak hikmah yang bisa pembaca petik dari buku bersampul manis ini. Buku ini mengajak pembaca belajar memaknai cinta dan kesetiaan dalam bingkai pernikahan. Seperti ditulis dalam prolog bukunya, Tasaro menjelaskan bahwa, dalam pernikahan, hal yang lebih penting untuk dipersiapkan adalah kesanggupan mengambil risiko. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, dia harus bisa dan sanggup menjalani segala kemungkinan yang bakal terjadi.  Siap untuk menyambut masa manis dan pahit dalam berumah tangga. (*)

Data Buku

Judul      : Belahan Jiwa

Penulis   : Tasaro GK

Penerbit : Qanita

Cetakan : Pertama, Desember 2020

Tebal     : 168 Halaman

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

WhatsApp chat