Menyelami Kisah Inspiratif Perjalanan Ke Tanah Suci

Oleh: Untung Wahyudi

Menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah adalah rukun Islam pamungkas yang wajib dilaksanakan bagi Muslim yang mampu. Hampir semua Muslim di dunia menginginkan perjalanan suci tersebut dalam rangka menyempurnakan rukun Islam kelima.

Namun, terkadang orang yang sudah siap secara materi, hatinya belum mantap untuk menjadi tamu Allah ke kota suci Makkah. Ada banyak kendala yang lazim terjadi seperti kesibukan kerja yang padat, belum ada waktu yang pas karena menunggu berangkat bersama orangtua atau pasangan, dan alasan-alasan lainnya.

Sejak dunia dilanda pandemi Covid-19, tak sedikit calon jamaah haji yang menunda keberangkatannya. Kerinduan untuk bisa beribadah ke Tanah Suci harus ditahan karena situasi yang tidak memungkinkan.

Buku Romantisme Tanah Suci yang ditulis Riza Perdana Kusuma dan beberapa penulis lainnya, memuat sejumlah kisah dan romantisme perjalanan ke Tanah Suci. Kisah-kisah yang dituturkan menambah khazanah, informasi, juga pengalaman berharga seputar persiapan haji dan umrah. Pengalaman para penulis selama berada di Makkah atau Madinah juga bisa jadi inspirasi sehingga menggugah pembaca untuk juga memiliki niat berangkat haji atau umrah.

Dalam tulisannya berjudul Jangan Jadikan Mimpi Abadi, Hermawan Widodo menuturkan betapa keinginan mempunyai “titel” Haji sudah terlintas di benaknya sejak SMP. Seperti halnya cita-cita lain yang lazim tertulis seperti dokter, insinyur, jenderal, profesor, dan lainnya.

Tetapi, biaya haji yang semakin mahal membuat Hermawan tak begitu fokus lagi mengejarnya. Belum lagi biaya kehidupan sehari-hari. Karena itu, dalam beragama, akhirnya dia memilih fokus pada aktivitas kemasyarakatan. Bahkan, saat istrinya izin berangkat umrah bersama ibu mertua, dia pun mengizinkannya.

Baca Juga:  Peran Kaum Milenial Dalam Mewujudkan Pemilu Damai dan Berintegritas

Lima tahun berlalu, Hermawan mendapat rezeki tak terduga. Rencananya dia akan berangkat bersama ibu mertua, paman, kakak, dan adik ipar. Berbagai persiapan sudah disiapkan seperti paspor dan lainnya. Semua antusias untuk berangkat karena biro perjalanan mematok harga paket murah. Promo tersebut membuat banyak orang berbondong-bondong mendaftar karena tak sabar melaksanakan haji kecil atau umrah.

Namun, seperti disambar petir di siang bolong, berita di televisi mengabarkan bahwa, biro travel umrah tempatnya mendaftar bermasalah. Pasangan suami-istri yang menjadi pemiliknya melakukan korupsi terhadap dana para jemaah, dan terbukti melakukan penipuan massal berkedok umrah dengan tarif super murah hingga mereka berakhir di penjara (hlm. 6).

Kisah lain dituturkan Eria Puspitasari dalam Mengubah Arah Tujuan Perjalanan. Eria adalah wanita karier yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri seperti Jepang dan lainnya. Suatu hari dia terhenyak oleh kata-kata ibunya. “Jangan ke Jepang terus, Sayang, ayo umrah mumpung masih muda. Masih kuat. Beruntung Mama juga masih sehat, masih bisa nemenin dan doain kamu di depan Ka’bah nanti. Ayo, temani Mama….”

Setelah berpikir, Eria membenarkan perkataan ibunya. Mumpung masih kuat dan sehat, tak ada salahnya untuk mengubah arah perjalanan selanjutnya. Akhirnya dia memutuskan untuk berangkat umrah bersama ibunya. Ibunya senang bukan main. Tangis bahagia pun pecah di antara mereka berdua.

Baca Juga:  Tahun Baru Islam, Langkah Awal Jadi Insan Kamil

Memasuki 2020, dua bulan sebelum keberangkatan, Erika dan ibunya disibukkan dengan kegiatan manasik umrah. Namun,  rencana dan niat mereka harus tertunda. Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menutup sementara kegiatan umrah demi melawan pandemi Covid-19. Erika dan ibunya pun saling menguatkan. Ibunya menasihati agar selalu tabah mengambil makna dari kejadian tersebut (hlm. 12).

Beberapa kisah dalam buku ini menyajikan berbagai perspektif tentang pengalaman berhaji dan umrah. Ditulis dengan gaya tulisan inspiratif, kisah-kisah dalam buku ini membuat pembaca belajar banyak tentang keistimewaan haji, kisah jemaah haji di Makkah, hingga tentang pengalaman-pengalaman berhaji dan berumrah.

Sebagaimana ditulis oleh Riza Perdana Kusuma dalam Doa Haji, menyiapkan keberangkatan haji bukanlah hal mudah. Perlu niat yang kuat untuk mewujudkannya. Karena itu, saat seseorang mendapatkan kesempatan berhaji atau umrah, langkah selanjutnya adalah membulatkan niat, berserah, dan bersiap. Calon jemaah harus berkomitmen mengikuti semua prosesi manasik haji atau umrah dengan mencari pengetahuan tambahan melalui buku-buku referensi sebanyak mungkin.

Selain itu, menjaga kesehatan dengan berolahraga dan menjaga pola makan juga perlu dilakukan. Agar saat waktunya berangkat bisa melaksanakan ibadah dengan penuh hikmat. Tak ada kendala yang berkaitan dengan kesehatan fisik sehingga membuat kekhusyuan ibadah terganggu.

Data Buku:

Judul            : Romantisme Tanah Suci

Penulis               : Riza Perdana Kusuma, dkk

Penerbit             : Republika

Cetakan             : Pertama, Juli 2021

Tebal                 : xvi + 172 Halaman

ISBN                 : 9786232791003

*) Untung Wahyudi, alumnus UIN Sunan Ampel, Surabaya

WhatsApp chat