Mengintip Kearifan Islam di Barat

Oleh: Untung Wahyudi*)

Sejak berperan sebagai Anna Althafun Nisa’ dalam film Ketika Cinta Bertasbih, nama Oki Setiana Dewi bisa dibilang cukup terkenal. Selain memiliki kemampuan berakting dalam film yang diangkat dari novel dengan judul sama karya Habiburrahman el-Syirazy, Oki juga memiliki keterampilan menulis. Sejumlah bukunya telah terbit dan mendapatkan sambutan bagus dari pembaca.

Oki juga dikenal sebagai pembelajar yang aktif. Ia lulusan sebuah kampus ternama di negeri ini dan memiliki kesempatan dalam pertukaran pelajar yang mengantarnya berkeliling ke beberapa negara di Eropa. Sebuah kesempatan yang baik dan dimanfaatkannya untuk lebih banyak memaknai keberagamaan, terutama di negara Barat.

Sebentang Kearifan dari Barat adalah catatan perjalanan yang memuat pengalaman-pengalaman Oki di Australia, Jerman, dan Spanyol. Ada banyak catatan menarik yang dirangkum Oki dan membuat pembaca turut menikmati perjalanannya ke negeri yang mayoritas nonmuslim tersebut. Dia menemukan kearifan Islam di Barat.

Ada satu pengalaman menarik yang membuat ia dan beberapa temannya harus berkunjung ke sebuah gereja di Australia demi melakukan dialog lintas agama demi perdamaian. Selama di Australia, Oki diajak menghadiri dialog lintas agama. Tempat pertama yang dikunjungi adalah St. Patrick’s Catholic Catedral di Eastern Hill.

Baca Juga:  Nabi Muhammad Sang Teladan Hidup

Saat berada di sana, Oki dan kawan-kawan disambut dengan baik. Mereka dipandu Martin Chatfield dan beberapa pastur untuk mengelilingi gereja. Oki mengaku, itu untuk kali pertama ia memasuki gereja. Sekitar satu jam seorang pastor yang mendampingi mereka menjelaskan simbol-simbol, makna gambar, atau patung yang berada di dalam gereja tersebut.

Mereka saling bertukar informasi. Kalau pastor menjelaskan dalam persepsi agama mereka, Oki pun menjelaskan dari perspektif Islam. Oki berharap, kunjungan ke gereja tersebut bisa menambah keimanan dan meluaskan informasi (halaman 36).

Pengalaman lain Oki adalah saat bertemu dengan seorang mualaf bernama Jona di Jerman. Jona mengaku bahwa selama ini banyak yang takut terhadap Islam (Islamofobia). Berita tentang terorisme dan radikalisme yang selama ini begitu santer membuat orang-orang Barat berpandangan buruk terhadap Islam. Jona juga kerap mengalami diskriminasi sebagai seorang minoritas.

Namun, Jona berusaha untuk tidak melawan. Jona tak pernah menunjukkan kemarahannya saat dilecehkan atau dihina secara verbal. Jona tidak ingin mereka semakin merajalela karena prasangka buruk mereka tentang Islam adalah benar. Sebaliknya, Jona ingin menunjukkan bahwa Islam yang dianutnya adalah agama yang santun dan ramah terhadap semua orang (halaman 142).

Baca Juga:  Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial

Semangat belajar dan menuntut ilmu itu penting karena, belajar tak mengenal usia. Dalam Islam kita dianjurkan belajar seumur hidup, terutama ilmu agama. Perjalanan Oki yang lain adalah Kota Camberra. Selama di sana, Oki ditemani oleh dua mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan doktoral.

Mahasiswa Indonesia di Camberra banyak yang bekerja paruh waktu demi bertahan hidup di rantau. Ada yang bekerja sebagai pelayan restoran, tukang bersih-bersih, baby sitter, loper koran atau pekerjaan lain (halaman 70).

Ada banyak pengalaman yang dikisahkan Oki dalam buku setebal 256 halaman ini. Tulisan-tulisan Oki begitu runtut sehinga pembaca bisa dengan mudah menikmati setiap perjalanan yang dialaminya. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dalam setiap perjalanan, begitu pesan tersirat dalam buku yang royaltinya disumbangkan untuk pembangunan masjid ini.

Judul      : Sebentang Kearifan dari Barat

Penulis   : Oki Setiana Dewi

Penerbit : Mizania

Cetakan : Kedua, 2020 (Edisi Baru)

Tebal     : xxvi + 256 Halaman

ISBN     : 978-602-418-173-4

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

WhatsApp chat