Jadi Kekuatan Besar, Pascasarjana IAIN Madura Dorong Internasionalisasi Santri

Media Jatim
Pascasarjana IAIN Madura
(Ongky Arista UA/Media Jatim) Diskusi di International Conference Pascasarjana IAIN Madura, Senin (14/11/2022).

Pamekasan — Pascasarjana IAIN Madura menggelar International Conference bertajuk Internationalization of Santri: Santri in the Framework of Global Civilization di Auditorium Fakultas Tarbiyah, Senin (14/11/2022).

IMG-20240220-WA0010
IMG-20240220-WA0008

Direktur Pascasarjana IAIN Madura Dr. Atiqullah menerangkan, santri adalah aset sekaligus kekuatan besar di Indonesia. Untuk itu, diskursus tentang santri harus terus dikemukakan.

“Di IAIN Madura, mahasiswa kita mayoritas santri, dan ini menjadi aset kita,” ungkapnya saat diwawancarai mediajatim.com, Senin (14/11/2022).

Mantan Ketua IKA PMII Pamekasan itu menyebut, santri punya rekam jejak di kemerdekaan dan menjaga keutuhan bangsa.

Baca Juga:  86 Santri Lulus dari SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan, Kepsek: Mereka Dibekali Hafalan Al-Qur'an dan Kedisiplinan Salat!

Tidak hanya itu, santri juga berperan di berbagai lini. Di lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. “Gus Dur, mantan presiden kita, adalah seorang santri,” imbuhnya.

Rekam jejak ini, kata Atiq, harus diapreasiasi. Santri harus mulai dibahas lebih luas lagi. Santri harus masuk ke dalam diskursus yang tidak hanya nasional, tetapi juga international.

“Dan pesantren, adalah subsistem pendidikan yang unik dan hanya ada di Indonesia, dan selama ini, santri hanya berkutat di wilayahnya sendiri, dan kita mendorong, santri diinternasionalisasi,” paparnya.

Baca Juga:  Jaja Siap Main, Junior Brandao Optimis Cetak Gol

Internasionalisasi ini bisa ditempuh dengan dua cara minimal. Yakni pertukaran pelajar yang berstatus santri ke luar negeri dan meningkatkan diskusi santri di forum internasional.

Di International Conference ada dua pemateri yang didatangkan. Pertama, Ibrahim Akova dari Turki. Kedua, Wakil Rektor I Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk Guluk Sumenep, M. Musthofa.

Kegiatan tersebut dibatasi hanya untuk 55 peserta; dosen, dan mahasiswa pascasarjana. “Kami berharap, santri semakin berperan di dalam peradaban global,” pungkasnya.(*/ky)