Kritik  

Wajah Baru PMII: Arogansi dan Melemahnya Ideologi

PMII Ricuh
Moh. Faiq

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tengah menggelar Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) dari tanggal 17 November sampai 24 November 2022. Bertempat di kampus Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Seluruh cabang dari berbagai wilayah datang berbondong-bondong membawa rombongan.

Pada pelaksanaan Muspimnas yang mengusung tema “Transformasi Organisasi Membangun Peradaban Nusantara Baru” ini tentunya menyimpan sejuta harapan dalam menyikapi tantangan zaman dan problem kerakyatan.

DLH Pamekasan

Apalagi mengingat, bahwa organisasi PMII tidak terlahir dari ruang yang kosong. Ia ada dan tercipta dari semangat mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap bangsa. Melalui spirit keislaman dan cita luhur kebangsaan, PMII akan selalu hidup bersama rakyat menebar manfaat, dan keutuhan bangsa akan selalu dirawat.

Seperti yang telah disampaikan oleh Ketua Umum PB PMII Muhammad Abdullah Syukri, bahwa tantangan terbesar hari ini adalah kader PMII dihadapkan dengan ancaman krisis pangan, ancaman kepada perdamaian dunia, perubahan iklim, bonus demografi, perkembangan dan percepatan teknologi.

Menurutnya, tantangan tersebut merupakan situasi-situasi yang jauh berbeda dengan PMII pada 20 hingga 30 tahun yang lalu. Sehingga dari hal itu ia berharap formulasi kaderisasi yang dapat menjawab tantangan zaman dengan pembahasan paradigma PMII yang kemudian harus dikontekstualisasi ulang.

Namun sebelum jauh membahas tentang problem kerakyatan dan dinamika kehidupan yang cukup memberikan kepedihan, terlebih dahulu yang harus diperhatikan adalah keutuhan organisasi terkait penguatan ideologi dan kelembagaan agar satu pemahaman, yakni tidak berjalan sendiri-sendiri atas dasar arogansi.

Sangat cukup membuat dahi berkerut peristiwa memilukan pada pembukaan Muspimnas yang diwarnai dengan sikap arogansi kader-kader PMII, saling lempar kursi dan terlihat kurang menghormati. Sebab, saat kejadian pada itu pula masih berlangsung sambutan-sambutan. Ironis memang, memilukan, dan pukulan bagi kita semua selaku warga pergerakan.

Baca Juga:  Bahaya Radikalisme dalam Dunia Kampus

Peristiwa ini harus dijadikan kajian bersama bagi kita yang tengah memiliki semangat untuk menyongsong peradaban baru. Sebagai salah satu kader PMII, setidaknya ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh kita semua.

Pertama, dalam kejadian tersebut kurang adil apabila menempatkan kesalahan bersumber dari panitia yang berdasarkan beberapa berita-berita menyampaikan bahwa kejadian tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas pada peserta.

Saya meyakini, panitia telah bekerja keras memaksimalkan tenaga dan pikirannya dalam menyukseskan acara, tidak mungkin kemudian terbesit untuk memberikan kekecewaan pada peserta sebab panitia tentu ingin memberikan kesan yang istimewa.

Kedua, arogansi kader-kader PMII tidak terlepas dari kurangnya rasa pengertian dan kepedulian, mereka bertindak seolah-olah yang paling benar lalu sebagian orang menyimpulkan bahwa kejadian ini bersifat alami dan natural–kodrat dari setiap perhelatan kegiatan-kegiatan. Mari kita selami perlahan, jangan sampai kejadian memilukan kembali terulang.

Di sini, kami sedikit memberi tawaran dengan melihat beberapa kejadian yang cukup sering terjadi di organisasi pergerakan, bahwa sangat penting penguatan ideologi Islam Ahlusunah Waljamaah sebagai pondasi dalam pembentukan pola pikir, sikap, karakter dan gerakan kader-kader PMII.

Karena apabila ideologi telah dapat dikuatkan maka kader-kader PMII tentu akan lebih bersikap toleran, saling menguatkan bukan menjatuhkan, saling menghormati tidak mencaci, bahkan gerakan-gerakan yang dibangun akan lebih berarti untuk Indonesia ini.

Gus Dur pernah menyampaikan, semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin tinggi pula rasa toleransinya.

Terkait arogansi yang semakin menjadi, maka di sini yang dapat kami sampaikan adalahذكاء بلا احتسام انـحطاط نقير :“Kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan”.

Baca Juga:  PMII Raden Segoro Optimalisasi Potensi Mahasiswa Baru

Biarpun kecerdasan kita telah melampaui kemampuan orang-orang yang lebih tinggi derajatnya dari pada kita, namun apabila kita tidak memiliki kesopanan kepada yang lebih tua atau dengan yang seusia maka hal itu tidak ada gunanya.

Hellen Keller (1880-1968) dalam catatannya menyebutkan tentang capaian tertinggi pendidikan adalah toleransi. Dulu manusia berjuang dan mati demi iman mereka; tetapi butuh waktu lama untuk mengajari mereka jenis keberanian lain, keberanian untuk mengakui iman saudara mereka dan hak hati nurani mereka.

Terlebih pula dalam agama telah menganjurkan tentang bagaimana kita harus bersikap toleran (tasamuh) dan saling menghargai antarsesama walaupun berbeda pandangan, keinginan, dan bahkan agama.

Di dalam Al-Qur’an, sekalipun tidak secara tegas menjelaskan tentang tasamuh, namun banyak ditemui beberapa tema yang berkaitan dengan ini. Di antaranya rahmat dan kasih sayang (QS Al-Balad) Al-Safh atau berlapang dada (QS Al-Zukhruf: 89), Al-Salam atau keselamatan (QS Al-Furqon : 63).

Islam telah mengajari kita untuk berkarakter memanusiakan manusia, menghindari segala bentuk arogansi diri, dan hidup tidak untuk saling memusuhi.

Sehingga menjadi penting untuk kita semua menyelami lebih dalam perihal konsep atau prinsip dasar tentang Islam Ahlusunah Waljamaah yang telah menjadi ideologi kita bersama, supaya tidak ada lagi yang terlalu memaksakan diri dengan sikap-sikap arogansi.

Pada pelaksanaan Muspimnas PMII, bagaimana seharusnya gagasan itu dibangun, moralitas diciptakan, bukan kekuatan dengan cara-cara kekerasan yang dipertontonkan–peradaban baru tidak terlahir melalui sikap arogan dan cara-cara demikian.(*)


*Moh. Faiq, Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) dan Kader PMII Komisariat Guluk-Guluk.